Tiga Pahlawan Nasional yang Beralih Jadi Pemeluk Katolik & Kristen

Oleh: Petrik Matanasi - 24 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kisah Oerip Soemohardjo, Slamet Riyadi, dan Sugijono Mangunwijoto bersalin keyakinan.
tirto.id - Oerip Soemohardjo lahir di Purworejo pada 22 Februari 1893. Nama kecilnya adalah Muhammad Sidik. Kelak ia menjadi peletak dasar organisasi ketentaraan modern di Republik ini dan diangkat menjadi pahlawan nasional. Menurut Amrin Imran dalam buku Letjen Oerip Soemohardjo (1993:15), kakek Oerip yang bernama Mbah Glondang Rayi berharap cucunya menjadi orang alim dan suatu saat mampu pergi ziarah ke Makkah. Namun harapan kakeknya itu tak pernah terlaksana.

“Ia (Oerip) tak pernah sampai ke Mekah dan memakai pakaian haji. Malahan kemudian dia menjadi seorang penganut agama Kristen [Katolik]. Untunglah pada waktu itu Mbah Glondong tidak ada lagi, sudah lama meninggal dunia,” tulis Amrin Imran.

Rohmah Soemohardjo, istri Oerip, dalam Oerip Soemohardjo: Letnan Jenderal TNI 22 Februari 1893-17 Nopember 1948 menyebutkan bahwa ketika berdinas di Kalimantan, Oerip telah berkawan dengan Monsinyur Valenberg, seorang tokoh Katolik.

Belasan tahun setelah Oerip wafat, tepatnya pada Natal 1964, Kardinal Monsinyur Darmojuwono pulang dari Vatikan dan membawa sebuah piala dari Paus Paulus VI bertuliskan:
In memori ducis militum Benedicti Oerip Soemohardjo pro Aede sacra. Piala itu kemudian disimpan di gereja kecil di kompleks Akademi Militer Magelang.



Pemberkatan untuk Slamet Riyadi


Selain Oerip, pahlawan nasional lain yang berpindah agama menjadi Katolik adalah Slamet Riyadi. Sosok ini dikenal sebagai salah satu komandan tempur TNI yang andal. Dia lahir pada 26 Mei 1926 dengan nama Soekamto, dan mula-mula mengganti namanya menjadi Slamet. Karena nama Slamet begitu pasaran di sekolahnya, maka dia menambah lagi kata Riyadi: jadilah Slamet Riyadi.

Setelah proklamasi kemerdekaan, dia bergerilya sebagai komandan batalion lalu komandan brigade. Dalam Majalah Hidup (17/12/2018) disebutkan bahwa Slamet Rijadi tertarik pada Katolik setelah mendengar alunan lagu di sebuah gereja ketika Indonesia masih berperang dengan Belanda.

“Kalau selamat dan menang mari kita ucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan masuk Katolik dan baptis,” ujar Slamet Rijadi kepada ajudannya seperti dicatat dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia: Muskens, M. P. M. Pengintergrasian di Alam Indonesia (1972:346). Hal tersebut diucapkan Slamet Rijadi pada 1948, tahun wafatnya Oerip Soemohardjo.

Pada akhir 1949, tiga hari sebelum pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, Slamet Riyadi dan ajudannya yang bernama Djaka Moeljana melaksanakan niatnya. Mereka pergi ke sebuah gereja di Solo untuk diberkati.

“Ia dibaptis sebagai orang Katolik pada 24 Desember 1949, waktu usianya masih 22 tahun. Setelah pembaptisan itu, Slamet Rijadi dapat nama lagi—yang merupakan nama baptisnya—Ignatius. Kini nama lengkapnya Ignatius Slamet Rijadi," tulis Majalah Hidup (17/12/2018).

Pada November 1950, Slamet Riyadi gugur tertembak dalam operasi penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon. Seperti Oerip Soemohardjo, setelah kematiannya Slamet Rijadi juga naik pangkat dan jadi pahlawan nasional. Nama keduanya kemudian kerap dijadikan nama-nama tempat di lingkungan TNI.


Infografik Pahlawan Nasional yang Masuk Kristen
Infografik Pahlawan Nasional yang Masuk Kristen. tirto.id/Fuad


Masuk Kristen Karena Jodoh

Tiga tahun setelah kematian Slamet Riyadi, seorang perwira infanteri di Jawa Tengah, yaitu Letnan Satu Sugijono Mangunwijoto bin Raden Kasan Semitoredjo menemukan jodohnya yang bernam Soepriyati, seorang bidan.

Menurut Mayor Jenderal dr. Soedjono dalam buku
Monumen Pancasila Cakti (1984:385), keluarga Semitoredjo adalah keluarga Islam. Sementara Soepriyati adalah penganut Kristen Protestan. Meski berbeda agama, Sugijono tetap menikahi Soepriyati pada tahun 1953. Setelah perkawinan itu, Sugijono akhirnya menjadi Kristen.

“Satu-satunya putra [Semitoredjo] yang menganut agama Kristen Protestan adalah Pak Gijono (maksudnya Sugijono) sendiri,” tulis Soedjono.

Sugijono dengan Soepriyati dikaruniai 7 orang anak. Sementara karier Sugijono juga terus naik dan pernah menjadi komandan batalion infanteri di Jawa tengah.



Kehidupan rumah tangga mereka harus berakhir pada awal Oktober 1965. Kala itu, Sugijono yang sudah berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat Kepala Staf Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta--bersama Kolonel Katamso--menjadi korban penculikan disertai pembunuhan oleh prajurit Angkatan Darat yang merupakan bagian dari G30S. Keduanya kemudian ditetapkan sebagai pahlawan revolusi.

Pada Natal 1965, Soepriyati dan anak-anaknya melewatinya tanpa kehadiran suami dan ayah mereka. Soepriyati wafat pada Januari 2017, dan dua tahun kemudian nisannya dirusak oleh orang tak dikenal.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight