Periksa Fakta

Tidak Benar Indonesia Buat Senjata Nuklir untuk Hancurkan Tiongkok

Oleh: Irma Garnesia - 15 November 2021
Dibaca Normal 5 menit
Indonesia adalah salah satu negara yang ikut Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara.
tirto.id - Akhir Oktober lalu, terdapat sebuah unggahan di media sosial Twitter yang menyampaikan narasi bahwa Indonesia tengah siapkan senjata nuklir untuk hancurkan Tiongkok. Narasi tersebut dibagikan oleh akun Twitter bernama @IbnuTasrip pada 29 Oktober 2021. Akun ini mengunggah tangkapan layar video YouTube berjudul “BERITA TERKINI - BIKIN GEGER DUNIA, INDONESIA SIAPKAN BOOM NUKLIR HANCURKAN CHINA”.

Periksa Fakta Indonesia Buat Senjata Nuklir
Periksa Fakta Tidak Benar Indonesia Buat Senjata Nuklir untuk Hancurkan Tiongkok. (Screenshot/Twitter/@IbnuTasrip)


Dalam deskripsi cuitannya, akun @IbnuTasrip menuliskan, “Finally, no more Social Credit system”, yang artinya kurang lebih, "Akhirnya, tidak akan ada lagi sistem kredit sosial."

Sistem kredit sosial ini, seperti yang telah dibahas oleh Tirto sebelumnya adalah sistem dimana negara memanfaatkan big data—dari rekam jejak WeChat, Weibo, dan berbagai sumber tambang data lainnya—para warganya untuk menciptakan skor: baik-buruk, untuk segala aspek kehidupan.

Sementara itu, kembali pada unggahan, sejak dibagikan pada 29 Oktober 2021, unggahan itu telah dikomentari 133 kali, mendapat 311 retweet, dan disukai hingga hampir 2,8 ribu kali per 8 November 2021. Kami mengarsipkan cuitan tersebut di sini.

Lantas, bagaimana asal usul hingga kebenaran unggahan tersebut?

Penelusuran Fakta

Tirto menelusuri akun Twitter @IbnuTasrip dan mendapati bahwa akun tersebut memiliki hingga 11,5 ribu pengikut. Akun ini juga menuliskan deskripsi profil: “Intel Kawe, jangan overhype jika difollow akun ini”. Kemudian, sejak profilnya dibuat pada Mei 2020, akun @IbnuTasrip telah mengeluarkan cuitan sebanyak 61,1 ribu kali. Ia pun juga aktif membagikan/retweet cuitan-cuitan viral dari banyak akun lainnya, alih-alih membagikan cuitan pribadi.

Kami menelusuri video yang dibagikan akun @IbnuTasrip di platform berbagi video, YouTube, dan mendapati video tersebut dibagikan sejak 24 September 2021 lalu. Seperti yang juga tampak dari unggahan akun @IbnuTasrip, video dibagikan oleh akun YouTube JAGAT MILITER. Akun tersebut mendeskripsikan kanalnya sebagai penyaji berita terbaru dan topik viral terkait politik.

Video yang sempat dibagikan kanal YouTube JAGAT MILITER di antaranya “Ganyang Malaysia, Indonesia Kerahkan Kekuatan Penuh” (tautan) atau “Bikin Geger Dunia, Pasukan TNI Tembak Kapal Militer Tiongkok” (tautan).

Kemudian, video yang dibagikan terkait bom nuklir yang dibuat Indonesia untuk menghancurkan Tiongkok telah disaksikan lebih dari 113 ribu kali per 9 November 2021. Video ini sendiri berdurasi 10 menit lebih.

Kami mendengarkan narasi dari video ini yang dimulai dari menit 0:55. Potongan narasinya sendiri sebagai berikut:

“Australia bersama Amerika Serikat dan Inggris, membangun kerja sama keamanan di Indo-Pasifik untuk mengimbangi pengaruh China yang terus meningkat di kawasan itu. Kemitraan itu diumumkan secara virtual oleh Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Rabu. Di bawah kerja sama tersebut, AS dan Inggris akan memberikan teknologi dan kemampuan kapal selam bertenaga nuklir kepada Australia. Australia akan menjadi negara kedua setelah Inggris pada 1958 yang diberi akses ke teknologi nuklir AS untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir.

Berkaitan dengan teknologi nuklir, Indonesia ternyata jauh sebelum Australia bakal membuat kapal selam nuklir malah pernah hampir memiliki senjata nuklir. Indonesia hampir pernah menguji coba bom atom ciptaannya dan buat dunia merinding…”

Sebetulnya, narasi yang disampaikan ini mirip dengan berita Tribunnews pada 20 September 2021. Berita yang juga disadur Tribunnews dari Bangkapos tersebut juga menyebut soal kerjasama Amerika Serikat, Inggris, dan Australia pada 15 September 2021. Artikel ini juga memuat informasi mengenai rencana Indonesia membuat bom nuklir pada era Presiden Sukarno.

Menukil dari Tribunnews, pada akhir 1960an, Presiden Sukarno merasa sebuah negara mesti memiliki kapasitas dalam pengayaan uranium. Maka dari itu, ia menjalin kerja sama dengan Amerika untuk mengembangkan nuklir.

Sempat ditulis Tirto, pada 1958, Indonesia baru saja membentuk Lembaga Tenaga Atom (LTA). Lembaga yang ditujukan untuk meneliti dan mengembangkan energi nuklir ini merupakan kelanjutan dari Komite Nasional Tenaga Atom yang dibentuk pada 1954. Melalui LTA, Sukarno berharap Indonesia dapat mengejar ketertinggalan di bidang teknologi nuklir. Untuk itu, dia setuju mengikutsertakan LTA ke dalam program Atoms for Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Eisenhower, pada 1953.

Pada Maret 1965, Sukarno merasa perlu memperluas pengaruh LTA dengan cara meningkatkan statusnya menjadi organisasi pemerintah. Masih di bulan yang sama, LTA berubah nama menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Retorika bom atom di Jakarta semakin dibuat panas dengan munculnya kubu oposisi yang meragukan keabsahan ambisi nuklir Sukarno. Jurnalis Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965 (2006, hlm. 358) menuliskan bahwa publik masih meragukan kemampuan Indonesia membuat bom atom sendiri seperti yang dibesar-besarkan oleh Sukarno.

Kendati banyak yang menganggap rencana tersebut sekedar propaganda, Amerika Serikat bersikap waspada. Negera adikuasa itu menduga Sukarno akan mencari solusi bom atom melalui pihak ketiga, yaitu Cina.

Baca selengkapnya di artikel "Ambisi Gagal Sukarno: Mempersenjatai Indonesia dengan Nuklir", https://tirto.id/ezPa
Kendati banyak yang menganggap rencana tersebut sekedar propaganda, Amerika Serikat bersikap waspada. Negera adikuasa itu menduga Sukarno akan mencari solusi bom atom melalui pihak ketiga, yaitu Tiongkok.

Ahli politik dan sejarah Asia asal Ceko, Victor Miroslav Fic, dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005, hlm. 93) mencatat sebuah pertemuan antara Presiden Sukarno dengan Marsekal Chen Yi di Jakarta pada bulan November dan Desember 1964. Dalam pertemuan itu disebutkan Sukarno berkeras agar Tiongkok bersedia memasok bom atom yang akan diklaim sebagai uji coba pemerintah RI.

Sayangnya, usaha Sukarno tidak berbuah hasil karena Tiongkok justru mengharapkan Indonesia membuat sendiri bom atomnya. Pada akhirnya rencana pengembangan senjata nuklir yang diidamkan Sukarno dikabarkan macet dan hanya berhasil mengumpulkan sebuah tim kecil yang bekerja secara rahasia.

Selanjutnya, pada 1 Oktober 1965, cita-cita nuklir Sukarno gagal semata sebab pembunuhan enam anggota senior militer dan seorang komandan yang menurut narasi sejarah populer didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) memicu huru-hara dan pembantaian besar-besaran.

Setelah semua ini, tidak pernah ada lagi upaya Indonesia untuk mengembangkan bom atom atau pun senjata nuklir.

Rencana ini baru muncul lagi berpuluh-puluh tahun kemudian ketika Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan bermimpi Indonesia “punya nuclear power.” Hal ini ia katakan dalam sebuah acara di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (04/02/2020) lalu.

Ia bilang ide tenaga nuklir ini tebersit saat mengikuti World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, awal Januari lalu. Saat itu seorang jenderal yang ia kenal asik berbicara dengan perwakilan Amerika, India, Tiongkok, dan Korea Utara. Luhut, sebagai perwakilan Indonesia, mengaku tak diajak bicara. Luhut pun jengkel. “Kita enggak dianggap,” katanya.

Namun, Luhut tak menjelaskan dengan detail apakah yang ia maksud nuclear power itu berbentuk senjata nuklir.

Sementara itu, Peneliti pertahanan dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Beni Sukadis, mengaku heran jika maksud Luhut adalah senjata nuklir. Sebab biasanya, kata Beni kepada Tirto, Rabu (5/2/2020) pagi, “pembahasan senjata nuklir selalu dibahas negara-negara besar.”

Senjata nuklir juga tak mungkin dibikin di ASEAN. Beni menegaskan Indonesia adalah salah satu negara yang ikut Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) yang dideklarasikan pada 1995 di Bangkok, Thailand.

Seperti yang dapat dilihat di laman resmi ASEAN, penandatanganan yang dilakukan pada 15 Desember 1995 ini menjadi komitmen anggota ASEAN, termasuk Indonesia, untuk mempertahankan daerah Asia Tenggara sebagai daerah yang bebas nuklir dan senjata-senjata pemusnah massal lain.

Lalu, tak lama, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Azad, merespon pernyataan Luhut.

Azad menuturkan bahwa Iran adalah salah satu dari sedikit negara yang memiliki kemampuan teknologi nuklir dan siap membantu Indonesia mengembangkan teknologi tersebut. "Hari ini saya membaca suatu berita bahwa Bapak Luhut Pandjaitan menyampaikan pandangan ketika beliau hadir di pertemuan Davos yakni jika negara tidak memiliki senjata nuklir tidak akan dianggap," kata Azad pada Selasa (4/2/2021) malam, seperti ditulis CNN Indonesia.

Azad juga menegaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengharamkan senjata nuklir jika dipakai untuk tujuan yang tidak baik. Karena itu, Azad menjamin bahwa selama ini Iran mengembangkan nuklir dengan tujuan damai dan sesuai dengan aturan internasional.

Terlepas dari itu semua, belum ada lagi kabar terbaru mengenai isu ini sejak 2020 tersebut. Lagipula, Indonesia tak bisa begitu saja mengubah atau mencabut perjanjian internasional SEANWFZ.

Sebelumnya, pada tahun 2017, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sempat menyatakan bahwa perjanjian SEANWFZ harus dipertahankan dan bahkan diperkuat. Retno menegaskan pemerintah Indonesia mendorong aksesi negara-negara pemilik senjata nuklir terhadap perjanjian internasional tersebut.

Aksesi adalah suatu perbuatan hukum dimana suatu negara yang bukan
merupakan peserta asli perjanjian multilateral, menyatakan kemudian persetujuannya untuk diikat perjanjian tersebut.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, tidak benar narasi bahwa Indonesia tengah siapkan senjata nuklir/tenaga nuklir lainnya. Indonesia sendiri terikat dalam perjanjian internasional Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) dan tidak mungkin mencabut atau keluar dari perjanjian tersebut. Dengan demikian, video yang dibagikan oleh akun YouTube JAGAT MILITER dan narasi di Twitter @IbnuTasrip bersifat missing context (dapat menyesatkan tanpa konteks dan penjelasan lebih lanjut).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Politik)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight