18 Desember 1997

Soesilo Soedarman, dari Akabri hingga Menteri daripada Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 18 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Soesilo Soedarman ikut membangun Akabri. Belakangan dia menjadi menteri dalam kabinet daripada Soeharto.
tirto.id - Pada 1959, pemerintah Indonesia menggabungkan TNI dan Polri menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Selanjutnya, pemerintah berencana menyatukan pula akademi-akademi pencetak perwira ABRI. Rencana itu akhirnya terealisasi pada 1966.

Pemerintah membentuk sebuah tim yang diisi oleh Purbo Suwondo, Soewardi, Leo Ngali, Soenardi, dan Soesilo Soedarman. Mereka semua, kecuali Leo Ngali, sudah berpangkat letnan kolonel kala itu.

Dalam rapat terakhir bersama Deputi I Hankam Laksamana Raden Sri Soebijakto, seperti diceritakan Solichin Salam dalam Soesilo Soedarman: Prajurit, Diplomat, dan Nayaka (1993, hlm. 102), Soesilo yang kala itu menjadi Komandan Resimen Taruna Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang ditanya soal kesiapan akademi itu.

“Kapan dibuka pertama?” tanya Soebijakto. Setelah Soesilo menyebut tanggal 29 Januari 1967, Soebijakto kaget. Pasalnya, tanggal itu adalah hari minggu, hari liburnya para pegawai dan aparat negara. Soebijakto lantas bertanya lagi, “Kok hari minggu?”

“Disengaja, karena tanggal tersebut adalah hari wafatnya Bapak Panglima Besar Soedirman dan cita-cita kita semua adalah melahirkan Soedirman-Soedirman muda, patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu,” jawab Soesilo.

Pertanyaan Soebijakto tak habis di situ, “Namanya apa? Ini ada AMN (darat), AAL (laut), AAU (udara) dan AAK (Polisi).”

Soesilo pun menjawab, “Akabri.”

Akabri adalah kependekan dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Apa yang dikemukakan Soesilo Soedarman itu kemudian disepakati oleh peserta rapat yang lain. Kemudian, Soesilo pun ditempatkan di Akabri itu. Mulanya sebagai Komandan Divisi Taruna (Dandivtar) yang membawahi resimen taruna darat dan resimen taruna umum.

Soesilo pun dapat kenaikan pangkat jadi kolonel. Tak sampai dua tahun, tepatnya pada 17 Juli 1968, Soesilo yang masih 39 tahun naik pangkat lagi menjadi brigadir jenderal. Kenaikan pangkat itu terjadi setelah seminggu sebelumnya dia ditunjuk jadi Wakil Gubernur Akabri.

Bisa dibilang bahwa Soesilo adalah orang penting bagi Akabri. Dia telah ikut dalam pengembangan lembaga itu sejak masih dalam perencanaan pada 1964 hingga 1970. Para taruna yang pada tahun-tahun itu belajar di AMN dan kemudian Akabri tentu mengenalnya.

Beberapa alumni Akabri di era Soesilo sukses sampai jadi jenderal papan atas, di antaranya Yunus Yosfiah, Arie Kumaat, Agum Gumelar, Wiranto, dan Luhut Binsar Panjaitan.


Perjalanan Karier

Soesilo Soedarman jadi taruna Militaire Academie (MA) Yogyakarta kala Revolusi tengah berkecamuk. Soesilo adalah salah satu dari lima lulusan terbaik dari angkatan pertama MA Yogyakarta. Dia dilantik menjadi letnan dua pada 28 November 1948.

Setelah lulus, Soesilo menjadi pelatih di almamaternya. Pada bulan berikutnya, pemerintahan Indonesia lumpuh gara-gara Agresi Militer Belanda II. Setelah Belanda menduduki Yogyakarta, Soesilo pun ikut bergerilya. Di masa-masa gerilya ini, Soesilo berkenalan dengan Soeharto.

Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, Soesilo ditugaskan belajar ke School voor Reserve Officieren der Cavalarie (Sekolah Perwira Cadangan Kavaleri) di Amersfoort, Belanda. Begitu kembali ke Indonesia, dia diangkat jadi perwira pelatih di Pusat Pendidikan Kavaleri.

Selain di Belanda, Soesilo pernah pula belajar ilmu militer di Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pengalaman belajar di luar negeri itu tentu bisa menjadi teladan bagi taruna Akabri.

Usai menunaikan tugasnya di Akabri, Soesilo kemudian ditugaskan menjadi atase pertahanan di Amerika Serikat. Tugas itu diembannya dari 1970 hingga 1973. Dia kemudian ditempatkan sebagai Kepala G3/Personalia Hankam dari 1973 hingga 1975.

Soesilo lantas ditarik lagi ke Akabri sebagai komandan jenderal untuk masa jabatan 1978-1980. Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1988, hlm. 317-318) menyebut Soesilo tidak begitu lama menjadi komandan pasukan tempur. Setelah 1964, dia ditempatkan di staf hankam, pendidikan militer, dan diplomatik.

Soesilo memang sempat menjabat sebagai Panglima KODAM Hasanuddin yang meliputi wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara pada 1973, tapi itu tidak lama. Paling tidak, dia sudah pernah mencicipi jabatan yang dianggap mentereng oleh banyak perwira ABRI.

Setelah menjadi Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) Sumatra-Kalimantan Barat (antara 1980 hingga 1982), Soesilo ditunjuk jadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (dari 1985 hingga 1988). Setelah itu, dia mulai masuk lingkaran utama pemerintahan Orde Baru Soeharto.

Soesilo jadi Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi dalam Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Lalu dalam Kabinet Pembangunan VI, Soesilo dipercaya Soeharto jadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Dia menduduki jabatan itu hingga tutup usia pada 18 Desember 1997—tepat hari ini 24 tahun silam.

Setelah Soesilo meninggal dunia, jabatannya diteruskan oleh Jenderal Yogie Suardi Memed.

Infografik Mozaik Soesilo Soedarman
Infografik Mozaik Soesilo Soedarman. tirto.id/Tino



Di Lingkaran Golkar

Di masa Orde Baru, sebagai senior daripada Panglima ABRI Benny Moerdani, Soesilo Soedarman ikut terseret dalam pusaran politik nasional. Salim Haji Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016, hlm. 93-94) menyebut ABRI pernah memajukan Soesilo untuk dijadikan calon Ketua Umum Golongan Karya (Golkar).

Itu terjadi sekira 1993, kala Letnan Jenderal Wahono hendak turun dari kursi nomor satu Golkar. Namun, jabatan itu tak pernah jatuh padanya. Jabatan itu malah jatuh ke orang yang tidak disukai petinggi ABRI, yakni bekas wartawan bernama Harmoko. Di Golkar, Soesilo pernah menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Golkar.

Sebagai politisi, Soesilo sebenarnya tak terlalu populer. Di lingkup Golkar sendiri, dia lebih dikenal sebagai seorang pekerja yang tekun daripada politikus licin.

Seperti kebanyakan jenderal di Indonesia, Soesilo rela ditempatkan di mana saja bahkan di luar urusan kemiliteran. Lihatlah kariernya yang pernah jadi diplomat dan jadi menteri di bidang yang amat jauh dari bidang yang ditekuninya sejak muda. Untunglah, di tahun-tahun terakhir hidupnya, dia berkesempatan menjabat Menkopolkam.

Baca juga artikel terkait AKABRI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight