Sinyal Politik Hendropriyono Temui Prabowo-SBY di Balik Isu Papua

Oleh: Andrian Pratama Taher - 9 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pertemuan Hendropriyono dengan SBY dan Prabowo disebut untuk menyelesaikan masalah Papua, tetapi Gerindra-Demokrat memanfaatkan kepentingan untuk masuk di kubu Jokowi.
tirto.id - Di tengah situasi Papua dan Papua Barat yang mulai kondusif, dua tokoh besar Indonesia, yakni Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Kehormatan PKP Indonesia bertemu.

Pertemuan antara kedua alumni Akabri ini berlangsung di daerah Senayan, Jakarta di kediaman Hendropriyono. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 2,5 jam itu, Prabowo mengaku dirinya sebatas sowan kepada Hendropriyono.

"Sudah lama saya ingin sowan. Pak Hendro senior saya. Jadi guru saya sehingga saya merasa memang pantas untuk sowan, diskusi, apalagi kalau ada masalah," jelasnya di Senayan Residence, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019) malam sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo mengaku dirinya dan Hendropriyono membahas soal konflik Papua. Mantan Capres 2019-2024 itu optimistis pemerintah yang kini dipimpin Jokowi bisa menentukan jalan terbaik dalam menangani Papua.

"Saya yakin pemerintah sudah merancang yang terbaik. Saya kira banyak akan kita beri pandangan-pandangan, kita cari sesuatu yang konstruktif," kata Prabowo sebagaimana dilansir dari Antara.

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Hendropriyono. Dia mengatakan pertemuan itu, selain temu kangen antara dia dan Prabowo, juga mendiskusikan berbagai masalah kebangsaan.

"Kalau itu sudah menyinggung masalah kebangsaan beliau selalu tampil gagah perkasa dan bersatu mendukung pemerintah untuk menyelesaikan ini," tutur Hendropriyono.

Masalah Papua Jadi Pintu Masuk ke Koalisi Jokowi?

Kendati demikian, toh bukan tidak mungkin pertemuan antara Prabowo dan Hendropriyono ini juga menyinggung urusan lain, misalnya saja untuk berkoalisi. Namun Sekjen PKP Indonesia Verry Surya membantah itu.

Menurut Verry, pertemuan Prabowo dengan Hendropriyono hanya sebatas silaturahmi antar-purnawirawan. Pertemuan itupun, kata Verry, baru dilangsungkan karena kesibukan masing-masing.

"Pada intinya para purnawirawan ini sama-sama sepakat bahwa permasalahan Papua harus diselesaikan dalam kerangka negara kesatuan republik indonesia. Jadi tidak boleh yang lain. Itu yang mesti digarisbawahi, pun kalau pembicaraan di luar itu misalnya terkait dengan koalisi dan lain sebagainya tidak dibicarakan. Ada sesi 4 mata, dan kami tidak ada di situ," kata Verry saat dihubungi reporter Tirto.

Namun hal berbeda diungkapkan Verry ketika Hendropriyono bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)--beberapa haris sebelum bertemu Prabowo. Menurut Verry, materi yang dibicarakan kala itu kurang lebih sama. Namun, tidak menutup kemungkinan juga pembahasan mengarah ke koalisi.

"Tentu saja kalau ada pembicaraan di antara beliau berdua yang menyangkut pada perpolitikan nasional, itu tidak bisa dihindari, tapi tujuan atau agenda utamanya lebih kepada bagaimana menyikapi persoalan bagaimana tentang Papua," kata Verry.

Verry mengaku terdapat sejumlah partai di luar Koalisi Indonesia Kerja yang masih melakukan komunikasi politik dengan koalisi Jokowi. Namun, sampai saat ini, Koalisi Kerja menyatakan sudah solid dan cukup kuat.

Setelah sembilan Sekjen Partai Koalisi Indonesia Kerja memenangkan Pilpres 2019, koalisi menerima partai tambahan, yakni Partai Bulan Bintang di dalam koalisi mereka. Meski begitu, Verry juga menyatakan Koalisi Kerja tetap membuka pintu untuk partai di luar koalisi untuk merapat, selama diperlukan.

"Kalau ada wacana penambahan partai politik di Koalisi Indonesia Kerja, kami di level sekjen memandang belum perlu. Tetapi tentu saja itu tergantung kepada para ketua umum dan presiden dan wakil presiden terpilih," kata Verry.

"Kalau pada akhirnya para ketua umum dan pak presiden serta pak wakil presiden terpilih melihat bahwa demi kepentingan bangsa dan negara, tentu saja kami harus mengamankan hal tersebut, tetapi sampai saat ini belum ada arahan seperti itu," lanjut Verry.


Pengamat politik dari KedaiKopi Kunto A. Wibowo pesimistis pertemuan akan lebih berfokus pada konstelasi politik di nasional. Ia beralasan, posisi Hendropriyono tidak strategis karena PKP Indonesia tidak memiliki kursi di parlemen.

Ia menduga pertemuan lebih mengarah kepada pembahasan keamanan negara. Namun pembahasan politik bukan berarti tidak disampaikan. Bagaimanapun, baik Gerindra maupun Demokrat memang sedang membangun komunikasi dengan Jokowi.

"Kemungkinan masih ada (merapat ke Jokowi untuk kedua partai) apalagi belum ada janur kuning melengkung, belum ada pengumuman nama-nama. Jadi baik Prabowo maupun SBY tetap harus maintain itu ke Jokowi karena sangat mungkin nanti di jam-jam terakhir berubah itu namanya," kata Kunto.

"Ini kan, problemnya akan berbeda itu Prabowo dan SBY yang ke Jokowi, tapi kalau Hendropriyono dari SBY ke Prabowo mungkin agenda yang dibawa akan sangat lain," lanjut Kunto kepada reporter Tirto.

Pertemuan dengan Hendropriyono bisa dikatakan sebagai upaya Demokrat dan Gerindra menjaga komunikasi politik dengan pemerintah. Kedua partai ingin mendapat tempat di pemerintahan Jokowi.

Untuk diketahui, Gerindra dan Demokrat merupakan dua partai sempat diisukan merapat ke Jokowi. Isu Gerindra merapat berawal dari pertemuan Prabowo dengan Jokowi di MRT. Sementara Demokrat merapat ke Jokowi berawal dari pertemuan antara Jokowi dengan keluarga SBY.

Kunto menduga Gerindra dan Demokrat tengah balap-balapan untuk mendapat kursi di pemerintahan Jokowi mendatang. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan niatan pertemuan Hendropriyono sebagai salah satu pendukung Jokowi, dan diyakini sebagai salah orang kepercayaan Jokowi dalam masalah keamanan.

"Bisa jadi mas, tapi kekuatan di parlemen menjadi kartu As di masa-masa sekarang. Pak Jokowi butuh didukung penuh di parlemen terkait beberapa agenda legislasi," katanya.

Respon Partai Gerindra dan Demokrat

Juru Bicara Prabowo Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan pembicaraan antara Prabowo dengan Hendropriyono lebih berfokus kepada masalah Papua. Selain masalah Papua, Prabowo juga membahas soal kebangsaan.

Namun, ketika ditanya mengenai kabar pembicaraan empat mata antara Prabowo dengan Hendropriyono, Dahnil enggan berkomentar. Ia juga tidak menjawab spesifik soal kemungkinan Gerindra merapat ke Jokowi.

"Pak Prabowo selama ketemu dengan berbagai tokoh selalu konsisten bicara tentang konsepsi beliau terkait dengan ketahanan pangan, ketahanan energi dan menghadirkan pertahanan dan keamanan yang kuat," kata Dahnil kepada reporter Tirto.

Dahnil menjelaskan, pertemuan bukan lah atas inisiasi Prabowo. Ia mengatakan, pertemuan atas permintaan Hendropriyono. "Itu undangan Pak Hendro," kata Dahnil.

Sementara itu, Kadiv Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan, SBY bertemu dengan Hendropriyono di menara Trans, Tendean. Dalam pertemuan tersebut, Ferdinand menuturkan pertemuan membahas soal konflik Papua, radikalisme, serta masalah ekonomi.

Namun, Ferdinand membantah pertemuan tersebut membahas soal konfigurasi politik di pemerintahan Jokowi periode kedua.

"Tidak ada bicara soal kabinet. Ini pertemuan yg isinya bicara bangsa secara umum dan upaya menjaga merah putih serta NKRI tetap utuh," kata Ferdinand kepada reporter Tirto.

Ferdinand mengatakan Demokrat masih menjalin komunikasi dengan partai-partai pendukung Jokowi. Dia juga menambahkan bahwa SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat, sekjen, dan pengurus melakukan komunikasi dengan partai pendukung Jokowi. Namun, untuk masalah posisi di pemerintahan, Demokrat menyerahkan semua ke Jokowi.

"Saat ini komunikasi kami berjalan mengalir saja dengan semua partai dan juga denga pak Jokowi. Hasilnya seperti apa? Tentu pak Jokowi punya kesimpulannya," kata Ferdinand.

Baca juga artikel terkait KONFLIK PAPUA atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Ringkang Gumiwang
DarkLight