"Saya harus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan bahwa akhirnya setelah dua tahun kita bisa melepaskan (film) ini kepada publik. Jadi, berdarah-darah perjuangan yang berbeda. Tapi itu perjuangan yang betul-betul dengan dua kali terkena pandemi," kata Produser "Kadet 1947" Celerina Judisari saat jumpa pers di Jakarta, Senin (22/11/2021) dilansir Antara.

Sutradara Kadet 1947 Rahabi Mandra mengatakan bahwa pandemi justru membuat film tersebut semakin lebih baik. Sebab, seluruh tim jadi memiliki banyak waktu untuk bisa terus memperbaiki "Kadet 1947" sebelum dirilis ke publik.

"Banyak kena pukulnya. Terdampak betul. Tapi, dengan adanya waktu tambahan itu semua bisa menjadi lebih lekat. Dan yang membuat kita rasanya kurang, kita jadi selalu punya waktu untuk mengasah lagi," ujar Rahabi.


"Jadi justru hasilnya yang kami pikir, wah karena terdampak pandemi jadi kurang ini, kurang itu. Itu malah sebaliknya. It's get better and better," sambungnya.


Sinopsis Film Kadet 1947: Hari Ini Atau Tidak Sama Sekali


Sinopsis Kadet 1947 bermula di tahun 1947, Indonesia dan Belanda baru saja melakukan Perundingan Linggarjati, yang berisi kesepakatan bahwa Belanda mengakui status kemerdekaan Indonesia dan mereka akan segera meninggalkan negeri ini. Namun, beberapa bulan setelahnya, Belanda melanggar kesepakatan tersebut dengan melakukan serangan ke wilayah Jawa dan Sumatera untuk menguasai Indonesia kembali. Peristiwa ini disebut dengan Agresi Militer Belanda I.

Hingga kemudian, sekelompok kadet dari sekolah penerbang Angkatan Udara di Maguwo, yaitu Sigit (Bisma Karisma), Mul (Kevin Julio), Har (Omara Esteghlal), dan Adji (Marthino Lio), berambisi untuk ikut serta menjaga Indonesia dari Belanda.

Namun, ambisi mereka terhalang berbagai rintangan dikarenakan mereka masih berstatus pelajar Angkatan Udara, sehingga mereka tidak mendapat izin untuk membawa pesawat dan senjata.

Pertentangan pun datang dari para petinggi Angkatan Udara yang dipimpin oleh KASAU Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma (Mike Lucock), Adisutjipto (Andri Mashadi), Abdulrachman Saleh (Ramadhan Al Rasyid), dan Halim Perdanakusuma (Ibnu Jamil).

Untuk menjalankan aksi nekatnya, para kadet meminta bantuan kepada sersan udara Tardjo (Wafda Saifan), serta penembak udara Dul (Chicco Kurniawan) dan Kapoet (Fajar Nugra).

Meskipun bertema sejarah Indonesia, film berdurasi 110 menit tersebut juga menawarkan elemen persahabatan, cinta dan proses pendewasaan dari para karakter yang terungkap lewat cita-cita mereka menjadi seorang penerbang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sutradara pun menyelipkan konflik-konflik personal diantara para karakter dan unsur humor sederhana untuk menunjukkan sisi lain perjuangan sehingga terasa lebih relevan di benak anak muda.

"Dari awal kami berkomitmen mempersembahkan film bertema Indonesia buat generasi muda. Makanya banyak effort yang kami lakukan agar film ini tidak berjarak dengan mereka dan membawa value yang berbeda," tutur Celerina.