Sepakbola Spanyol akan Senantiasa Merindukan David Villa

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 17 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
David Villa boleh pensiun, tapi kecemerlangannya sebagai mesin gol generasi emas Spanyol akan menjadi kenangan yang selalu dirindukan.
tirto.id - Pada usia 37 tahun, David Villa Sánchez masih memegang teguh satu keyakinan: barang siapa tak sanggup meninggalkan, suatu saat pasti ditinggalkan.

Keyakinan itu pula yang bikin Villa memantapkan diri bakal pensiun dari ingar bingar sepakbola per Januari 2020 mendatang sebelum segalanya serba terlambat.

“Lebih baik meninggalkan sepakbola sebelum sepakbola yang meninggalkanku," ujar Villa, seperti dilansir The Guardian pada Rabu pekan ini. "Jujur saja aku telah berpikir untuk pensiun sejak berusia 33, 34, 35 tahun tiap aku berada pada satu pertandingan, latihan, atau sedang menghadapi cedera."

Penurunan performa Villa akibat faktor usia memang tak terelakkan. Musim ini ia menorehkan 12 gol dari 26 pertandingan (0,46 gol per laga) bersama klub Liga Jepang Vissel Kobe. Kendati tak bisa dibilang buruk, angka ini menurun ketimbang catatan saat dia berseragam New York FC (0,63 gol per laga).

Media kerap menyorot penurunan performa Villa tidak terlepas dari efek cedera lutut yang dialaminya. Tapi, Villa bersikeras bahwa cedera tak ada hubungannya. Semua, lagi-lagi, karena faktor usia.

“Ini adalah keputusan yang telah kupikirkan dengan matang. Aku sudah berdiskusi dengan keluarga dan mereka yang selalu ada di sisiku,” tegasnya.

Villa bukan striker kaleng-kaleng. Menurut data Transfermarkt, di level klub saja ia tercatat sudah mendulang total 324 gol dari 638 penampilan.

Rapor ini bikin pemain yang pernah satu klub dengan Villa begitu terkesan dengan performa atlet berjuluk El Guaje—si Bocah dalam bahasa Asturian. Maka, wajar belaka apabila rencana pensiun Villa disambut dengan haru biru oleh nama-nama pesepakbola yang tak kalah beken.

David Silva, pemain yang pernah jadi tandem Villa di Valencia, lewat akun media sosialnya menulis: “Bersamanya [Villa], aku telah meraih segala hal yang tampaknya mustahil. Aku beruntung pernah bermain denganmu, Kawan.”

Andres Iniesta, karib Villa selama berseragam Barcelona dan Vissel Kobe, menyebut perkenalannya dengan Villa adalah sesuatu yang—saking indahnya—tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

“Ini adalah hari yang sedih bagiku. Tapi, aku senang berada terus di dekatmu sampai musim terakhirmu. Aku akan benar-benar merindukanmu,” tulis Iniesta.


Mesin Gol Generasi Emas Spanyol

Iniesta, Silva, atau siapa saja pemain yang pernah satu klub dengan Villa, boleh saja mengumbar betapa mereka akan merindukan El Guaje. Namun, pada akhirnya, tidak akan ada yang lebih memeram rindu pada si pemain selain barisan fans Timnas Spanyol. Sebab, tak dapat dipungkiri jasa Villa untuk prestasi La Furia Roja begitu besar.

“Jika Anda bertanya kepada para komentator, siapa pemain paling bersinar sepanjang generasi emas Spanyol, jawabannya beragam: Iniesta, Xavi, Casillas, atau Sergio Ramos, tergantung preferensinya. Tapi, jika Anda bertanya soal siapa pemain yang jadi tulang punggung tim, jawabannya jelas: David Villa,” tulis Dermot Corrigan untuk The Independent.


Saat Timnas Spanyol berhasil menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, Villa adalah mesin gol paling berpengaruh.

Di Piala Eropa 2008, bomber kelahiran Langreo ini sampai-sampai menjadi top skor kompetisi dengan torehan empat gol. Tiga di antaranya dia cetak saat melumat Rusia 4-1 pada fase grup, sementara satu gol lain kala Spanyol membekuk Swedia 2-1.

Sementara di Piala Dunia 2010, kendati gagal membawa pulang sepatu emas, Villa tetap jadi pemain paling produktif untuk timnya. Jumlah golnya (5) juga menyamai top skor kompetisi Thomas Muller.

Deretan catatan mentereng itu tidak diraih dengan mudah.

Gaya bermainnya yang minim terlibat build-up dari bawah bikin Villa sempat dinilai tidak cocok dengan skuat Spanyol era itu, yang memperagakan sepakbola atraktif dengan umpan-umpan pendek. Tuntutan berat untuk menambal lubang akibat kepergian Raul Gonzalez pun tambah bikin eks penggawa Sporting Gijon itu kerap disorot.

Tapi, berkat kerja keras dan kemauannya beradaptasi, Villa mendapatkan kepercayaan spesial dari kepala pelatih Spanyol saat itu, Luis Aragones.

Soal kemauan untuk beradaptasi, Villa sampai pernah dipuji khusus dari maestro sepakbola Belanda, Johan Cruyff.

“Villa ... aku rasa berani membuktikan dia bukan cuma ada untuk menyelesaikan permainan. Dia mulai identik dengan kedalaman. Dia selalu siap membuka jalur umpan dengan menarik bek dan memberikan ruang untuk pemain di belakangnya,” ujar Cruyff, seperti dinukil These Football Times.

Satu hal—yang membedakan Villa dari para defensive forward murni—adalah fakta kebiasaannya membuka ruang itu sama sekali tidak menurunkan produktivitasnya. Terlepas dari beragam evolusi perannya, El Guaje hingga kini masih terukir sebagai pencetak gol terbanyak timnas Spanyol sepanjang masa.

Jumlah golnya (59) melampaui Fernando Hierro, Fernando Torres, bahkan Raul Gonzalez.

Tiada Penerus Lebih Konsisten

Selepas Villa tak aktif di timnas, Spanyol bisa dibilang kekurangan sosok penyerang yang sepadan.

Pada Piala Eropa 2012, La Furia Roja memang sukses keluar sebagai kampiun, tapi mereka kekurangan stok penyerang murni tajam.

Alvaro Negredo dan Fernando Llorente, dua ujung tombak yang dipercaya sebagai suksesor Villa, jauh dari kata tajam. Sepanjang putaran final, baik Negredo maupun Llorente tak mengemas satu pun gol.


Harapan sempat singgah ke pundak Diego Costa, suksesor berikutnya. Usai mandul di Piala Dunia 2014, Costa mendulang tiga gol pada Piala Dunia berikutnya (2018). Tapi, sayang, setajam-tajamnya eks penggawa Chelsea itu tak sekalipun Costa mampu mengantarkan Tim Matador jadi juara, sebagaimana yang pernah dilakukan Villa.

Alvaro Morata dan Rodrigo, dua suksesor paling baru, hingga kini juga belum bisa menunjukkan tanda-tanda bakal merepetisi kemonceran Villa.

Sumbangsih kentara Villa sempat bikin dia mendapatkan kesempatan khusus melakoni laga perpisahan saat La Furia Roja menantang Italia dan Liechtenstein dalam kualifikasi Piala Dunia pada 2017.

Memang tak ada gol dicetak Villa untuk negaranya dalam usia yang sudah kelewat senja. Namun, dua pertandingan ini tetap disebut-sebut Villa sebagai momentum spesial karena menandai caps ke-98 untuk tanah kelahirannya.

“Aku kesulitan jika harus mendeskripsikan perasaanku [untuk Spanyol]," ujarnya setelah laga kontra Italia. "Aku sangat bahagia dan terima kasih untuk semua suporter. Kurasa, aku sendiri tidak yakin apakah aku layak begitu dicintai seperti ini."

Kini, mesin gol itu bersiap angkat kaki. Villa mungkin tak akan lagi menjadi pusat lampu sorot di lapangan hijau. Namun, satu hal tampak begitu jelas: sosoknya akan jadi kenangan manis yang selalu dirindukan bagi fans di klub maupun tim Spanyol serta kawan sejawat di lapangan.

Baca juga artikel terkait TIMNAS SPANYOL atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Fahri Salam
DarkLight