Sekilas Sejarah Hidup Mien Uno Mama Sandiaga & Sudjiatmi Ibu Jokowi

Oleh: Iswara N Raditya - 13 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit

Mien Uno, mama Sandiaga, merupakan pengusaha yang besar di kota besar. Sudjiatmi, ibu Jokowi, merupakan ibu rumah tangga dari kota kecil.

tirto.id - Mien Uno kesal lantaran sang putra kebanggaan, Sandiaga Uno, kerap dituding melakukan “sandiwara”. Di sisi lain, ada sosok ibu publik figur yang cenderung diam meskipun anaknya kerap jadi sasaran kritik bahkan caci-maki, yakni Sudjiatmi, ibunda Joko Widodo (Jokowi).

Sandiaga Uno yang kini sedang maju sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto untuk Pilpres 2019, dituding bersandiwara dalam beberapa aksinya di ranah publik. Tuduhan itu sontak membuat Mien Uno geram.

"Saya ingin berhadapan dengan orang itu untuk mengatakan apa yang dilakukan adalah sesuatu yang memang benar terjadi," tukasnya di Media Center Prabowo-Sandiaga, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

"Jadi sekarang, kalau ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno, dia harus minta maaf kepada ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas Sandi dengan segenap tenaga untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?" tantang Mien Uno.

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni, merespons sikap Mien Uno tersebut. Selain menyatakan harapannya agar Sandiaga tak melibatkan sang ibunda dalam politik, Raja Juli juga membandingkan Mien Uno dengan Sudjiatmi, ibu dari Jokowi.

"Dia [ibunda Jokowi] lebih banyak berdoa untuk anaknya, anaknya dituduh PKI, dituduh penista agama, macam-macam lah, nah tak sepatah kata pun yang keluar dari ucapan beliau. Ini menunjukkan seorang ibu yang dewasa," tutur Raja Juli.

Siapa Mien Uno, siapa Sudjiatmi?

Mien Uno

Perempuan kelahiran Indramayu, Jawa Barat, ini pernah masuk dalam jajaran 99 Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi Globe Asia edisi Oktober 2007. Siapakah sebenarnya ibunda Sandiaga ini?

Diungkap dalam buku Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi (1991) karya Egy Massadiah dan kawan-kawan, Mien Uno lahir pada 23 Mei 1941 dengan nama asli Rachmini Rachman. Ia berasal dari keluarga pendidik. Ayah dan ibu Mien, Raden Abdullah Rachman dan Siti Koersilah, berprofesi sebagai guru.

Adik kandung Mien, Arief Rachman, nantinya dikenal pula sebagai pakar pendidikan kenamaan tanah air. Begitu pula dengan Mien yang pada akhirnya ikut terjun ke kancah pendidikan nasional.

Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, Mien masuk Sekolah Pendidikan Guru di Bogor. Lantaran memang ingin menjadi guru, ia kemudian melanjutkan kuliah di IKIP Negeri Bandung, jurusan Administrasi Pendidikan.

Namun, impian Mien menjadi guru baru terlaksana 10 tahun setelah menikah dengan Razif Halik Uno atau Henk Uno. Lulus kuliah lalu merajut bahtera rumah tangga, Mien memilih fokus mengurus keluarga yang dikaruniai dua putra laki-laki ini, yaitu Indra Cahya Uno dan Sandiaga Salahuddin Uno.


Tahun 1973, ketika anak-anak Mien, termasuk Sandiaga, beranjak remaja, keluarga ini pindah ke Jakarta. Di sinilah cita-cita Mien mulai terbuka. Dikutip buku berjudul Etiket (2013) yang ditulis Mien, ia belajar sekaligus mulai mengajar di Martha Tilaar Beauty and Gallery pada 1975.

Nama Mien R. Uno semakin dikenal setelah ia dipercaya mengasuh acara "Dunia Wanita" dan "Lembaga Konsumen" yang ditayangkan di TVRI pada pertengahan dekade 1970-an itu.

Selain mengajar dan tampil di layar kaca, Mien juga merambah ke ranah lain. Tahun 1976, ia bergabung dengan Himpunan Pecinta Kain Tenun dan Batik "Wastraprema". Mien juga turut mendirikan usaha dagang batik milik seniman asal Yogyakarta, Bagong Kussudiardja, ayah Butet Kartaredjasa.

Alhasil, karier Mien kian melambung. Ia menduduki posisi sebagai Sekjen Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) pada 1978, juga bergiat di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

Selain itu, Mien aktif pula dalam berbagai kegiatan pendidikan. Ia sering diundang untuk menyampaikan ceramah tentang totalitas diri, juga mengenai moral dan etika. Pada akhirnya nanti, Mien dikenal sebagai pakar etiket dan menulis beberapa buku.

Mien diganjar seabrek penghargaan. Selain sebagai salah satu wanita berpengaruh di Indonesia versi Globe Asia, ia juga menyandang predikat Wanita Berbusana Terbaik 1995 versi Majalah Mode, Recognition of Excellence (1987), The Most Outstanding Performance (1988), dan Public Figure 1990.

Tak hanya itu, Mien digelari pula sebagai Top Executive Indonesia (1992-1993), Citra Wanita Pembangunan Indonesia (1994), Indonesian Woman of The Year (1995), Citra Abadi Pembangunan Nasional (1996), serta Most Powerful Women dan Permata Pertiwi (2008).

Di usia yang terus bertambah, kiprah Mien tak lekang ditelan zaman. Ia kini menjabat sebagai Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa. Mien Uno juga pernah menjadi anggota Badan Pertimbangan Nasional (BPPN) periode 1999-2003.


Sudjiatmi

Bagaimana dengan ibunda Jokowi?

Sudjiatmi lahir pada 15 Februari 1943 di Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. Ia anak dari pasangan Wirorejo dan Sani yang sehari-hari berdagang kayu, usaha yang nantinya juga ditekuni Sudjiatmi dan suaminya. Jokowi pun dikenal sebagai pengusaha kayu atau mebel sebelum terjun ke politik.

Wawan Mas'udi & Akhmad Ramdhoni dalam Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana (2018) memaparkan, Sudjiatmi menikah dengan Widjiatno Notomihardjo pada 1959. Pasangan ini lalu pindah dari Boyolali ke Srambatan, Solo bagian utara. Tanggal 21 Juni 1961, lahirlah anak pertama mereka, Joko Widodo.

Sudjiatmi dan suaminya memang orang biasa yang bahkan pernah mengalami kehidupan sulit. Keluarga ini beberapa kali pindah rumah, termasuk pernah tinggal di permukiman kumuh di bantaran kali.

Meski pernah mengalami masa sulit, pasangan Notomiharjo dan Sudjiatmi menyekolahkan Jokowi hingga ke perguruan tinggi, hingga sang putra merintis usaha mebel dan bisa memperbaiki taraf kesejahteraan keluarga.

Hingga akhirnya, Jokowi terjun ke politik dan menjalani karier yang sukses, dari Wali Kota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta, sampai terpilih menjadi Presiden RI ke-7 pada 2014.

Berkiprah di politik memantik konsekuensi bagi Jokowi, juga keluarganya termasuk sang ibunda. Kritik, caci-maki, hingga tuduhan tak berdasar seringkali menyerang keluarga Jokowi. Jokowi bahkan pernah diisukan sebagai anak PKI, Cina, Kristen dan tudingan-tudingan sesat lainnya.


Sudjiatmi, dinukil dari buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014) karya Kristin Samah dan Francisca Ria Susanti, pernah didatangi sejumlah ulama terkait tudingan anaknya bukan orang Islam. Ia terkejut, namun tetap tenang dan menjawab apa adanya bahwa berbagai serangan itu tidak benar.

"Saya biasa saja. Saya ditanya teman-teman. 'Sakit Bu?' 'enggak, biarin.' Orang mau ngomong apa saja, yang penting Jokowi ndak [seperti] itu, ndak [seperti] yang dituduh-tuduhkan," ucapnya, 24 Desember 2018.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih