STOP PRESS! Masyarakat Diminta Waspadai Ransomware Petya

Irfan al-Alawi

"Sekarang Mekah Telah Menjadi Mekahattan"

"Sekarang Mekah Telah Menjadi Mekahattan"
Avatar Irfan Al Alawi
Reporter: Felix Nathaniel
16 Maret, 2017 dibaca normal 10:30 menit
"Kita tidak akan merasa seperti di Mekah, kita akan berada seperti di Manhattan. Hanya lima persen yang bisa dikenali sebagai Mekah."
tirto.id - Kedatangan Raja Salman Abdul Azis Al-Saud ke Indonesia pada 1 Maret 2017 menjadi perbincangan yang hangat di media massa. Pemerintah sangat bersemangat menyambut kunjungan bersejarah Raja Saudi Arabia yang sudah 47 tahun lamanya tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Kedatangan Raja Faisal pada 1970 silam menjadi kunjungan terakhir penguasa negeri kilang minyak tersebut.

Kedatangan Raja Salman ditindaklanjuti dengan penAndatanganan 11 nota kesepahaman kerja sama kedua belah pihak. Kerja sama tersebut meliputi bidang keamanan, kerja sama Islam, kesehatan, budaya, pendidikan, agrikultur, perikanan, penerbangan, pertahanan, investasi, serta usaha kecil mikro dan menengah (UMKM).

Dari bidang pendidikan, budaya, dan kerja sama Islam, ada yang mencemaskan penyebaran Wahabi, ideologi yang bukan hanya muncul dan tumbuh di Arab Saudi namun juga menjadi "resmi" di sana. 

Namun kecemasan ini ditampik Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR, saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (Kamis, 2/3). Selepas perjumpaan anggota DPR dengan Raja Salman di ruang sidang paripurna, Hidayat menegaskan bahwa Wahabi bukanlah bagian dari Saudi.

“Saudi sendiri mengatakan bahwa Wahabi bukan bagian dari Saudi,” kata Hidayat yang juga Ketua Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam tersebut.

Tirto berkesempatan mewawancarai Dr. Irfan al-Alawi, peneliti dari Islamic Heritage Research Foundation dan juga Direktur internasional Islamic Centre for Islamic Pluralism. Pria berumur 50 tahun ini sudah menghabiskan lebih dari separuh masa hidupnya untuk meneliti Wahabi.

Nama Irfan al-Alawi sempat banyak dibicarakan beberapa tahun lalu, termasuk di Indonesia, terkait kabar akan dipindahkannya beberapa situs bersejarah di Mekah dan Madinah, termasuk Kubah Hijau, sebuah bangunan di sisi tenggara Masjid Nabawi di Madinah. Di sanalah terdapat makam Nabi Muhammad. Ia dianggap menyebarkan kabar bohong.

Namun Irfan jalan terus dengan kritik-kritiknya. Ia juga mengkritik praktik pembangunan mal dan hotel-hotel di sekitar tempat-tempat suci umat Islam di Mekah dan Madinah.

"Mereka (pemerintah Saudi) tahu akan mendapatkan uang yang lebih banyak karena banyak orang yang ingin melihat Ka’bah atau Masjid Nabawi dari kamar hotel. Banyak orang dari Afrika Selatan, atau orang kaya dari Qatar, Bahrain, Dubai, mereka akan sengaja datang dan rela membayar untuk fasilitas ini," kata Irfan.

Ia menganggap tugas melindungi situs-situs bersejarah umat Islam adalah tugas semua muslim di dunia, termasuk pemerintah-pemerintah negara yang berkepentingan dengan Mekah dan Madinah sebagai situs suci umat Islam. Jika tekanan kepada pemerintah Saudi tidak dilakukan, maka sisa-sisa situs bersejarah pun bisa terancam hilang.

"Jadi sepanjang 50 tahun terakhir, kita sudah kehilangan 95% situs bersejarah, mereka tidak bisa digantikan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempertahankan situs bersejarah yang tinggal sedikit, contohnya sumur zamzam," sambung Irfan lagi. 

Ia telah tinggal di Mekah selama lebih dari 30 tahun. Rasa ingin tahunya tentang sejarah dan kebudayaan, serta situs-situs sejarah di Arab Saudi, bangkit saat usianya hampir 19 tahun. Dan ia terus meneliti sampai sekarang sebagai dosen di Universitas London.

Berikut petikan wawancara dengan Dr. Irfan Al-Alawi, penulis buku A Guide to Shariah Law and Islamist Ideology in Western Europe 2007-2009:

Anda menerima banyak tuduhan setelah menyebarkan kabar rencana penghancuran situs-situs bersejarah umat Islam di Mekah. Anda bahkan dituduh sebagai zionis? 

Ya tentu saja mereka berkata seperti itu. Karena saya mengatakan hal yang bertentangan dengan Wahabi, mereka akan berpikir saya Zionis atau Yahudi. Tentu mereka akan mengatakan demikian, karena mereka akan membela Saudi.

Beberapa orang di Indonesia juga mengecam Anda. Apa respons Anda terhadap orang-orang, termasuk di Indonesia, yang mengatakan Anda mengabarkan berita palsu seputar penghancuran Kubah Hijau?

Pengkhotbah dari Saudi, Syekh al-‘Uthaymeen, mengatakan dengan jelas pada saat khotbah di Masjidil Haram bahwa Green Dome dan makam Nabi Muhammad harus dihancurkan karena itu adalah simbol dari syirik! Selamat 14 abad, para cendekiawan Islam tidak melihat ziarah ke makam sebagai bentuk syirik, hanya pengkhotbah Saudi ini saja yang beranggapan seperti itu.

Jadi itu tidak benar. Karena banyak sekali buku di kerajaan Saudi Arabia, bahkan orang juga bisa mengakses di Google, dan mereka akan lihat bahwa buku-buku tersebut disebarkan oleh Mufti dari Saudi dalam bahasa Arab bahwa mereka ingin menghancurkan Kubah Hijau.

Kenapa banyak yang tidak sadar apa yang dilakukan Saudi di Mekah dan Madinah?

Jika umat muslim di Indonesia atau di negara lain tidak menerima hal ini, mereka harus sadar bahwa tempat pemakaman Al Baqi di Madinah atau Al Mu’ala di Mekah dihancurkan pada 1924. Contoh lain, ada rumah peristirahatan besar milik Ali al-Uraidhi ibn Ja’far al-Sadiq yang (dulunya) dilindungi oleh Ottoman. Ketika Saudi melihat banyak orang ke sana dan berdoa, mereka menutup masjid dan rumah tersebut sehingga mereka tidak bisa masuk. Namun, orang masih terus berdatangan. Jadi pada 2002, pemerintah Saudi datang dengan bulldozer dan dinamit untuk menghancurkannya. Mereka melakukannya kepada makam cicit dari Nabi Muhammad. Hal ini sudah kami dokumentasikan dalam foto dan dipublikasikan. Orang-orang kaget.

Jika mereka bisa menghancurkan makam tersebut pada 2002, kenapa tidak bisa mereka lakukan hal yang sama pada Kubah Hijau? Kubah Hijau di bawah pemerintahan Saudi dijaga dengan sangat banyak aturan dan larangan. Orang Indonesia sangat naïf, mereka harus tahu tentang hal ini. 

Kenapa tertarik meneliti hal semacam ini?

Karena sekarang dunia mulai berubah secara drastis. Kekerasan bertambah dan saya pikir itu bukan cara Islam. Harusnya Islam bisa menghormati warisan budaya, Islam bukan juga agama yang menganut kekerasan. Islam mengajarkan bahwa kita harus berdamai meskipun bertetangga dengan Yahudi, Budha, ataupun Kristiani. Dan inilah yang harus kita lakukan, menyebarkan kedamaian.

Katanya Anda lama tinggal di Mekah, bagaimana menurut Anda pemerintahan Saudi Arabia, terutama tentang kebijakan mereka di Mekah dan Madinah?

Situasi di bawah pemerintahan Saudi atau tepatnya Al-as Sheikh yang merupakan keturunan Grand Mufti (Mufti Sheikh Abdul-Azis Al as Sheikh) dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab, terlalu bersifat ke arah ajaran Wahabi. Mereka sudah melakukan ini dari sekitar 1800-an. Jadi mereka menghancurkan sebagian besar dari situs-situs bersejarah Nabi Muhammad di Mekah dan Madinah. Di sana tersisa sedikit sekali situs peninggalan Nabi dan kerabatnya, dan pemerintah Saudi tidak mau melakukan sesuatu untuk melindungi warisan tersebut.

Sebaliknya, mereka malah ingin membangun lebih banyak hotel dan berbagai bangunan tinggi karena mereka percaya jika umat Muslim mengunjungi situs bersejarah mereka melaksanakan syirik dan bid’ah, (namun jika tidak ada situs-situs itu) sebaliknya pemerintah Arab Saudi akan menghasilkan uang dari orang yang datang menunaikan haji atau umroh. Mereka tahu komoditas minyak mereka sedang sulit. Jadi satu-satunya cara menghasilkan uang adalah dari haji atau umroh.

Mereka tahu akan mendapatkan uang yang lebih banyak karena banyak orang yang ingin melihat Ka’bah atau Masjid Nabawi dari kamar hotel. Banyak orang dari Afrika Selatan, atau orang kaya dari Qatar, Bahrain, Dubai, mereka akan sengaja datang dan rela membayar untuk fasilitas ini. Oleh sebab ini, mereka menyediakan hotel di Mekah dan Madinah yang sangat mahal bagi kebanyakan orang-orang Malaysia, Indonesia, India Pakistan. 

Menurut orang-orang di Indonesia, menyediakan fasilitas dekat dengan Mekah itu malah bagus. Bagaimana menurut Anda?

Kami setuju bahwa harus ada beberapa hotel yang dibangun untuk keperluan akomodasi para haji, tapi tidak seharusnya dibangun dekat dengan Masjidil Haram. Mereka bisa membangunnya jauh dari sana, kemudian membangun rel kereta api untuk membawa para peziarah menuju Masjidil Haram. Pembangunan-pembangunan itu membuat Masjidil Haram sesak. Tidak ada ruang penghormatan bagi Ka’bah, tidak ada ruang penghormatan bagi Masjid al-Nabawi, dan itu menjadi bencana karena tidak ada udara segar di sana. Mekah dan Madinah menjadi seperti Manhattan dan Anda hanya akan melihat menara-menara atau bangunan-bangunan yang lebih banyak dan megah daripada Dubai.

Seharusnya pemerintah membangun lebih jauh dari Masjidil Haram dan para peziarah bisa mendapat ruang yang lebih baik, sekaligus memberi penghormatan bagi Masjidil Haram. Pembangunan bisa menjadi lebih berbahaya karena di akhir tahun nanti, pemerintah Saudi berencana membuka hotel terbesar di dunia. Hotel tersebut akan mengakomodasi peziarah dengan 10.000 kamar. Contoh saja, jika terjadi kebakaran di hotel, bagaimana mereka akan mengarahkan orang-orang dari 10.000 kamar tersebut? Itu mustahil! Ini tidak sehat dan tidak aman, ini seperti waktu crane ambruk saat ibadah haji 1,5 tahun lalu. Banyak orang yang meninggal dan ini disebabkan pemerintah Saudi tidak memiliki stAndar keamanan yang memadai.

Apakah Anda tidak ingin berkunjung ke Indonesia dan menyebarkan pengetahuan ini?

Orang-orang sudah banyak yang membaca artikel saya. Tapi saya akan sangat senang berkunjung ke Indonesia dan menunjukkan berbagai gambar yang tidak pernah diekspos secara umum sebelumnya. Bahkan pada House of Khadija di Mekah yang kita ekspos pada 1985. Mereka melakukan pembongkaran menggunakan buldozer untuk membuat toilet terbesar di Mekah yang dekat dengan Marwah dan makam para nabi. Kita punya semua  buktinya di sini dan di dokumen-dokumen ini.  Saya berharap organisasi di Indonesia bisa memberi saya undangan akan dapat menunjukkan semuanya tentang bagaimana mereka menghancurkan Mekah dan Madinah sepanjang 50 tahun belakangan ini.

Darimana Anda mendapat data penelitian tersebut?

Data ini kami dapat dari penelitian yang panjang. Kami menemukan peta-peta dari kamar Ottoman (Sultan Mahmud II), ruangan Osman, juga dari Sultan Ali Pasha dari Mesir, karena mereka memerintah sejak jaman pemerintahan kerajaan Ottoman. Mereka menerbitkan buku-buku, peta-peta, dari sejak 800 tahun lalu. Kami menemukan ini semua dalam bentuk naskah mentah dari berbagai daerah seperti Mesir dan Istanbul (Turki). Di Irak, kami melakukan penelitian juga dan kami menemukan House of Khadija yang harusnya ada di Mekah. Karena dalam catatan Ottoman, ia tahu bahwa rumah itu ada di sana, tapi Saudi di tahun 1924-1925 menghancurkan semuanya.

Tidak ada yang hadir saat itu terjadi. Jadi ketika saya menemukan naskah dari perpustakaan – yang sangat lama untuk ditemukan – hampir 20 tahun lamanya, kami menemukan semuanya. Kami memutuskan untuk terus mendokumentasikan apa yang terjadi sejak saat itu. Namun, mereka malah semakin menjadi-jadi.

Pada 1980 contohnya, pemerintah Saudi meruntuhkan House of Abu Ayyub al-Ansari, mereka juga meruntuhkan Indian Masjid Al-Nabawi dan mereka juga meruntuhkan daerah lainnya. Jadi hingga hari ini, jika ada seseorang datang kepada saya dan mereka ingin tahu tentang di mana mereka bisa menemukan rumah peristirahatan Abu Ayyub al-Ansari, di mana sumur-sumur yang dulu ada, di mana rumah peristirahatan lainnya, saya bisa dengan tegas mengatakan dengan tolak ukur dan navigasi yang tepat, di sinilah (Mekah dan Madinah yang penuh dengan bangunan tinggi) rumah peristirahatan mereka dulu berada.

Berapa orang yang ikut Anda dalam melakukan penelitian?

Ada sekitar 12 orang yang tergabung. Sebagian ada juga yang merupakan arsitek, ada yang berprofesi sebagai arkeolog.

Apakah warisan budaya di Mekah dan Madinah benar-benar sedang dihancurkan oleh pemerintah Saudi Arabia?

Ya, pemerintah Saudi sudah menghancurkan hampir 95% situs suci bersejarah yang penting di Mekah dan Madinah. Kita hanya punya sedikit sekali situs suci peninggalan di Mekah dan Madinah. Contohnya, ada masjid di Madinah yang hanya tersisa di Madinah di daerah Pertempuran KhAndaq. Pihak pemerintah sudah menutupnya selama 6 tahun dan tidak mengijinkan orang berdoa di dalamnya. Namun, bahayanya adalah pemerintah Saudi bisa datang dan menghancurkan bangunan untuk membangun masjid mereka sendiri karena mereka tidak ingin para peziarah berdoa di tempat Nabi Muhammad dan keluarganya dulu berdoa.

Jadi sepanjang 50 tahun terakhir, kita sudah kehilangan 95% situs bersejarah, mereka tidak bisa digantikan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempertahankan situs bersejarah yang tinggal sedikit, contohnya sumur zamzam. Sumur tersebut masih memproduksi air di Mekah dan banyak peziarah yang membawa airnya pula. 

Mereka berusaha memindahkan makam Nabi? Beranikah?

Ya, mereka sudah ingin menghancurkan Kubah Hijau di Masjid Nabawi. Mereka sudah ingin melakukannya sejak dulu, dan itu termasuk dalam rencana mereka sebelum artikel saya diterbitkan dua tahun lalu. Mereka tidak sadar bahwa saya sudah menerima rencana mereka dari salah satu profesor di Riyadh. Ia mengatakan bahwa mereka ingin perubahan, mereka ingin menghancurkan semua ruangan di mana Nabi Muhammad beristirahat dan memisahkan Masjid al-Nabawi dengan lokasi di mana Nabi Muhammad disemayamkan.

Jadi ketika pemerintah Saudi membaca artikel independen saya, dan banyak orang juga membaca, mereka mulai ketakutan dan mereka tidak sadar bahwa umat Muslim akan bereaksi terhadap hal ini. Akhirnya pemerintah Saudi mulai tenang dan sampai sekarang mereka belum menentukan tanggal untuk menghancurkannya.

Tapi ulama mereka, Grand Mufti (Mufti Sheikh Abdul Azis Al as Sheikh), menuliskan berbagai buku dan melakukan berbagai ceramah. Mereka mendefinisikan Kubah Hijau dan mereka mengatakan bahwa itu bukan masjid, mereka ingin menghancurkan karena dianggap tempat orang melakukan syirik dan bid’ah.

Jadi bukan dipindahkan, tetapi dihancurkan?

Ya, itu sebelumnya. Namun sekarang, karena artikel saya di koran-koran, umat Muslim bereaksi dan Pemerintah Saudi menjadi ketakutan. Tapi sekarang, meskipun mereka takut, mereka tetap ingin menghancurkan Kubah Hijau yang berada di puncak Masjid Nabawi. Karena mereka mengatakan bahwa itu tidak seharusnya di sana, bahwa Kubah Hijau dibangun oleh Ottoman dan tidak ada dalam masa Nabi Muhammad. Jadi pemerintah Saudi ingin menghancurkan itu.

Ketika kami pergi ke dalam masjid dan melakukan penelusuran, kami melihat bahwa Kubah Hijau berada dalam kondisi yang sangat parah dan perlu dibenahi seperti dicat dan ditata ulang, bahkan bangunannya mulai tidak lurus lagi. Tapi, pemerintah Saudi tidak mengijinkan perbaikan itu karena mereka ingin Kubah Hijau menjadi rusak dan hancur dengan sendirinya.

Mereka juga berjanji untuk membangun masjid Abu Bakr yang mereka hancurkan pada 1990an menjadi bank, tapi tidak pernah mereka lakukan. Sekarang yang tersisa adalah Masjid Fatima (putri dari Nabi Muhammad), Sulman Farsi, Omar ibn Khatab, dan Ali ibn Abi Talib.

Jadi kalau umat Muslim diam, semua itu akan dihancurkan?

Ya jika umat Muslim tetap diam seperti ini, tentu saja. Seperti yang telah mereka lakukan sepanjang 50 tahun ini. Saya sudah mengatakan hal ini sepanjang lebih dari 25 tahun. Saya telah menjelaskan apa yang terjadi di Saudi, saya memberikan ceramah di Inggris dan Amerika Serikat, dan saya meyakinkan orang-orang bahwa hanya dengan reaksi (yang serius) saja pemerintahan Saudi akan bisa berhenti. Seperti ISIS, apa yang ISIS lakukan di Suriah, apa yang mereka lakukan di Irak, itu sama saja. Mereka menghancurkan, sama seperti ISIS.

Jadi masalahnya adalah umat muslim di dunia harus sadar, terutama dari Indonesia, dari Malaysia, dari Mesir, semua umat Muslim harus sadar dan meminta Saudi menghentikan ini. Pemerintah Saudi harus tahu bahwa mereka bukan pemilik Mekah dan Madinah, umat Muslim di dunia yang menjadi pemilik Mekah dan Madinah. Ini merupakan amanah bagi seluruh umat Muslim di dunia.

Berapa lama lagi sampai itu terjadi?

Waktu berjalan sangat cepat. Kita punya waktu yang sangat terbatas. Inilah sebabnya umat Muslim dan pemimpin Muslim di dunia mesti meminta Saudi untuk berhenti. Kita tidak bisa melarang mereka menghabiskan dana demi membangun fasilitas, tapi jangan di sekitar masjid suci. Sekarang lihat apa yang tersisa? Hanya sebercak situs suci. Kita ingin situs itu dilindungi.

Apakah Anda masih berpikir Mekah dan Madinah sebagai tanah suci?

Tidak! Maaf saya harus mengatakan ini, tapi Mekah bukanlah Mekah lagi. Sekarang Mekah telah menjadi Mekahattan. Coba saja pergi ke Mekah dan Madinah, di sana ada menara jam, ada berbagai bangunan besar dengan kaca dan marmer terpampang di sana. Kita tidak akan merasa seperti di Mekah, kita akan berada seperti di Manhattan. Jika Anda pergi ke Mekah, hanya lima persen yang bisa dikenali sebagai Mekah. Sekarang tinggal lima persen dari Mekah, bisa bayangkan untuk 10 atau 15 tahun ke depan?

Saya ingin menanyakan soal Wahabi. Bagaimana Anda melihat pengaruh Wahabi kepada negara Muslim, contohnya terhadap umat Islam di Indonesia?

Saudi juga seperti yang kita tahu, dengan diwakili Raja Salman, berkunjung ke Paris, melakukan tur ke Malaysia, Indonesia, Bali, Brunei, dia mencoba memberi mereka uang, mencoba memberikan ajarannya kepada negara di sana. Yang sejatinya ingin mereka lakukan adalah memasukkan pemahaman Wahabi di sana dengan memberikan buku-buku kepada mereka, memberikan donasi kepada universitas, dan membawa imam dari Madinah atau Mekah. Ini semua dilakukan karena banyak muslim di Indonesia sejatinya adalah suffi, alawi, atau semacamnya. Sekarang satu-satunya cara Saudi Arabia untuk bisa masuk adalah memberikan sumbangan ke masjid atau toko buku dan melakukan pengajaran kepada imam. Mereka melakukannya secara tidak langsung.

Ini yang selalu mereka lakukan di Mesir. Sebelumnya, Mesir tidak seperti ini. Mesir dihuni oleh kaum Suffi. Tapi sekarang, banyak ditemukan buku tentang paham Wahabi di toko buku Mesir. Kenapa? Karena uang. Ini situasi yang serupa. Saudi memberikan uang kepada Indonesia dan berusaha mencuci otak generasi muda dengan membuka jalur melalui masjid dan penyediaan uang.

Bagaimana pola persebaran Wahabi di dunia?

Pola dari Wahabi Saudi sangat sederhana. India dan Pakistan bukanlah negara yang cukup makmur. Mereka mengirimkan uang dan membuka madrasah untuk mengajarkan tentang Alquran dan Hadis di sana. Mereka juga memberikan uang untuk membangun masjid yang sangat bagus di Islamabad, Pakistan. Mereka memberi uang, kemudian memberi penawaran untuk melatih para imam di sana agar mahir berbahasa Arab. Saudi mengajak mereka meneruskan pendidikan di Universitas Madinah atau Universitas King Abdul Azis atau Universitas Imam Muhammad di Riyadh. Mereka akan menanggung biayanya dan Imam dari Pakistan atau India akan menghabiskan 4-5 tahun belajar bahasa Arab di sana.

Begitu kembali ke negara asalnya, sebagian besar dari mereka sudah menjadi Wahabi. Mereka sudah berhasil menyebarkan ajaran di India dan Pakistan. Madrasah sudah menjadi Taliban, karena Taliban adalah saudara dari paham Wahabi. Ketika orang bertanya siapa Wahabi di India dan Pakistan, mereka akan menjawab bahwa Jamaat Tabligh mempunyai ideologi yang sama dengan Wahabi. Bedanya adalah mereka tumbuh besar di India dan Pakistan, sedang Wahabi datang dari Saudi. Tapi kepercayaan mereka sudah seperti saudara.

Wahabi menyebar secara lambat di Mesir karena mereka ingin melemahkan Mesir. Mereka membuat Perdana Menteri el-Sisi menjadi bagian dari mereka, karena Sisi pernah menjadi jenderal di Saudi Arabia. Mesir mengira Sisi adalah pemimpin yang baik, tapi tidak. Dia dikontrol oleh pemerintah Saudi. Mesir ingin menjual satu atau dua pulau kepada Saudi Arabia, dan ini cara Saudi. Pelan-pelan melemahkan kekuatan Mesir dan menjadi penguasa di sana.

Banyak literatur yang dipublikasikan oleh perusahaan bernama Darussalam. Itu adalah perusahaan dari Saudi. Mereka perusahaan besar di kerajaan Saudi dan telah mempublikasikan berbagai buku dalam bahasa yang berbeda (Malaysia, Indonesia, Pakistan, India, Inggris, dan bahasa lainnya). Dan mereka menyebarkan literatur untuk menyembah Islam, tapi semuanya berdasarkan dengan ajaran Wahabi. Kami telah menemukan buktinya di Inggris, saya sudah mendokumentasikannya dan mempublikasikannya di televisi. 

Bagaimana dengan pengaruh di Yaman?

Di Yaman mereka membunuh Houthis Syiah. Kemudian, Raja Salman bersama anaknya, Muhammad, mengirimkan uang dan memberikan donasi untuk memulihkan Yaman. Jadi di satu sisi mereka membunuh orang-orang dan yang penting mereka juga menghancurkan 700 bangunan warisan budaya, dan mereka tidak bisa membangunnya kembali. Ini cara mereka untuk menghabisi Syiah dan juga melalui dakwah untuk menyebarkan Wahabi di Yaman dan menjadikannya bagian dari dunia. Karena sebagian besar Yaman Barat adalah Houthis, dan Yaman Selatan adalah Sunni. Jadi ini caranya untuk membunuh orang-orang dan membawa dakwah, kemudian menolong mereka yang miskin, yang menginginkan makan, baju, dan Saudi terus mengirim uang untuk mengubah Yaman menjadi penganut Wahabi.

Pernahkah Anda diancam sewaktu mewartakan hal ini?

Ya, banyak orang dari Inggris, Amerika atau belahan dunia lain yang mengatakan saya Suffi, saya sunni. Tidak sedikit dari mereka yang menuduh saya bekerja sebagai mata-mata pemerintah Israel dan saya seorang Zionis karena saya tidak berpikir dengan cara Wahabi. Mereka pikir saya Yahudi ketika bicara di televisi dan saya dibayar oleh pemerintah Israel. Hanya itulah cara Wahabi untuk menjatuhkan kita.

Apakah pihak keluarga pernah mengecam Anda?

Karena saya biasanya berbicara tentang ulama Wahabi dan tidak bicara soal Raja selama bertahun-tahun, mereka tidak keberatan. Memang Raja Salman dibanding Raja Abdullah tidak begitu bagus, lihat berapa banyak kerusakan yang ia buat. Tapi saya tidak menyinggungnya secara langsung, saya berbicara soal Wahabi. Ketika saya bicara tentang keluarga kerajaan, barulah mereka tidak suka.

Baca juga artikel terkait ARAB SAUDI atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - fel/zen)

Keyword