20 Februari 1988

Sejarah Perang Nagorno-Karabakh dan Konflik yang Tak Kunjung Padam

Ilustrasi Perang Nagorno-Karabakh. tirto.id/Nauval
Oleh: Tony Firman - 20 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Sentimen antara etnis Armenia dan Azerbaijan sudah terpupuk selama berabad-abad.
Pada pertandingan final Liga Eropa 2019 Henrikh Mkhitaryan, gelandang serang Arsenal, tak bermain melawan Chelsea.

“Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang kami miliki, kami harus mengambil keputusan sulit untukku, bahwa aku tidak akan tampil dalam laga final Liga Europa menghadapi Chelsea,” kicau Mkhitaryan di akun Twitter miliknya.

Absennya Mkhitaryan bukan karena cidera atau akumulasi kartu, tapi karena alasan keamanan. Final ini bertempat di Baku, ibu kota Azerbaijan. Mkhitaryan yang berkebangsaan Armenia merasa tak aman jika harus menginjakkan kaki di Azerbaijan. Apa boleh bikin, dua negara ini sudah berkonflik sejak berabad-abad lampau, bahkan hingga sekarang mereka tak punya hubungan diplomatik.

Ini bukan kali pertama Mkhitaryan absen jika timnya harus bertandang ke Azerbaijan. Dalam pertandingan Liga Europa 2015, saat masih berseragam Borussia Dortmund, ia tidak ikut melawat ke markas Gabala. Dan pada Oktober 2018, dalam ajang yang sama, ia juga urung tampil saat Arsenal berkunjung ke markas Qarabag.

Sebenarnya, UEFA selaku operator liga sudah menjamin keselamatan Mkhitaryan selama bertanding di Azerbaijan. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga Azerbaijan, Azad Rahimov mengatakan pihaknya sampai kehabisan cara menghilangkan ketakutan Mkhitaryan.

"Apa lagi yang bisa kami lakukan?" kata Rahimov kepada CNN Sport. "Kami bisa mengirim jet pribadi untuknya? Ditemani oleh dua F16 Fighting Falcons ... sebuah armada angkatan laut? Aku tidak tahu apa lagi yang bisa kami lakukan."

Sedangkan Anna A Naghdalyan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Armenia mengatakan, Mkhitaryan tak mungkin memaksa datang ke Baku karena berpotensi menjadi sasaran rasisme, digoreng media Azerbaijan, dan risiko keamanan lain.


Konflik Warisan Soviet dan Persia

Sejak berabad-abad, ketegangan antara Armenia dan Azerbaijan yang sama-sama mendiami tanah Kaukasus Selatan ini berpusat di wilayah seluas 4.400 kilometer persegi bernama Karabakh.

Dunia internasional mengakui wilayah itu adalah bagian dari Republik Azerbaijan. Tetapi di sana, sebagian besar wilayahnya diperintah secara mandiri di bawah Republik Nagorno-Karabakh—sekarang dikenal sebagai Republik Artsakh—yang mayoritas dihuni oleh etnis Armenia.

Bagaimana keruwetan ini bermula? Sejak Perang Dunia I berkecamuk, Nagorno-Karabakh telah jadi rebutan dan sengketa bagi orang-orang Armenia, Azerbaijan, Inggris, dan Turki Utsmani. Jika mundur ke belakang lagi, sejak 428 M, wilayah Karabakh secara bergiliran jatuh di bawah pengaruh Persia, Arab, Seljuk, Mongol, Turki, Persia sekali lagi, dan terakhir Rusia.

Namun, dari semua penjajahan, yang punya dampak paling signifikan adalah era Persia dan Rusia. Dua penguasa di zaman berbeda ini memecah-mecah wilayah Kaukasus itu menjadi bagian-bagian kecil, saling berebut, hingga meninggalkan warisan pelik pada perkembangan wilayah, demografis, dan politik di masa depan.

Di bawah pemerintahan Soviet, wilayah itu dinamai Nagorno-Karabakh yang berarti Pegunungan Karabakh, merujuk pada geografis wilayah tersebut yang bergunung-gunung. Karabakh sendiri berasal dari serapan bahasa Turki dan Persia yang berarti kebun anggur hitam.


Ohannes Geukjian dalam Ethnicity, Nationalism and Conflict in the South Caucasus: Nagorno-Karabakh and the Legacy of Soviet Nationalities Policy (2012) mencatat, orang Armenia menyebut wilayah Karabakh sebagai Artsakh atau Ashkharatsuits seperti tercantum pada peta Armenia Raya di abad ke-7, serta bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Armenia sampai kejatuhannya pada 428 M.

Sedangkan orang Azerbaijan menganggap nenek moyangnya berasal dari Daghlyg Garabagh (pegunungan Karabakh). Karenanya, orang Azerbaijan selalu menganggap Karabakh adalah bagian dari negara mereka. Maka sejak berabad lampau hingga sekarang, dua negara ini masih berseteru.

Sebelum Perang Dunia I meletus, ketegangan antara etnis Armenia dan etnis Azeri (Azerbaijan) tidak terbatas pada latar belakang politik dan teritorial, tetapi juga bersifat etnis dan ekonomi.

Reaksi anti-Armenia dihasilkan dari migrasi orang Armenia ke Baku. Ketika ladang-ladang minyak di Baku ditemukan sejak 1870-an, orang-orang Armenia dari pegunungan Karabakh, Zangezur dan provinsi-provinsi timur Kekaisaran Utsmani berbondong-bondong menyerbu Baku dan banyak mengisi slot pekerjaan di bidang industri perminyakan, tekstil dan tembakau. Sedangkan nasib orang-orang Azerbaijan hanya jadi tenaga kasar serta sisanya terpinggirkan karena dianggap kurang terampil.

Pada periode 1900-an, pekerjaan terbaik di Baku dijalankan oleh orang-orang Armenia yang menguasai 29 persen industri di sana. Dalam hal angkatan kerja, orang-orang Armenia terdiri dari 25 sampai 29 persen. Menjadikannya berada di urutan kedua setelah orang Rusia dalam hal keterampilan dan upah tinggi.

Dalam artikel "Mapping the Nagorno-Karabakh Conflict" (2018) yang dihimpun oleh University of Kent di Inggris, pasca Perang Dunia I, antara 1918 sampai 1920, Armenia dan Azerbaijan memperoleh kemerdekaannya dari Kekaisaran Rusia dan berdiri sebagai sebuah negara republik yang bertetangga. Masalahnya, kemerdekaan turut membawa serta masalah sengketa wilayah Nagorno-Karabakh yang secara resmi berbatasan penuh dengan Azerbaijan namun banyak dihuni oleh orang Armenia.

Berdirinya Uni Soviet pada 1922 membawa babak baru dalam penyelesaian sengketa wilayah tersebut. Setelah pemerintahan Bolshevik menganeksasi Azerbaijan, Armenia dan Georgia, Nagorno-Karabakh diberi status Nagorno-Karabakh Autonomous Oblast (NKAO) dan memasukkannya sebagai bagian dari Republik Soviet Azerbaijan di mana 95 persen penduduknya beretnis Armenia.

Di bawah kendali kuat Soviet, perselisihan kedua pihak relatif bisa diredam. Tetapi tidak ketika Soviet mulai goyah setelah ditinggal mati Stalin. Di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev, kontrol Soviet mengendur di tanah Kaukasus. Akibatnya, banyak terjadi pemogokan dan protes. Tak terkecuali di Azerbaijan.

Warga Armenia yang selama ini terkurung di lautan mayoritas Azerbaijan dan menjadi sasaran diskriminasi menggunakan momentum keretakan Soviet untuk menyatakan kemerdekaannya. Dengan berani, parlemen NKAO pada 20 Februari 1988, tepat hari ini 32 tahun lalu, mengusulkan diri untuk berpisah dari Azerbaijan dan ingin bergabung dengan Republik Armenia. Sejak itu, ketegangan antara orang Armenia dan orang Azerbaijan meningkat dan berakhir menjadi peperangan.

Eskalasi peperangan mulai meningkat pada awal 1990-an ketika pasukan Armenia Karabakh yang didukung Republik Armenia menguasai sebagian besar barat daya Azerbaijan termasuk Nagorno-Karabakh. Sementara di Baku, unjuk rasa anti-Armenia berubah menjadi kekerasan.

Dikutip dari The Independent, sejak 12 Januari 1990, massa Azerbaijan dengan membawa daftar nama dan alamat bergerak dari rumah ke rumah mencari orang Armenia. Sebagian besar dari 250.000 warga Armenia yang tinggal di Baku pada awal perang sudah melarikan diri, tetapi ada sekitar 50.000 orang yang masih tinggal dan menjadi target penyerangan. Para lansia diseret keluar dan dipukuli. Banyak yang dibakar hidup-hidup. Berita soal pemerkosaan dan mutilasi menjadi hal biasa.



Setelah Soviet bubar pada 1991, peperangan antara Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh makin memanas. Pada awal 1992, Nagorno-Karabakh menyatakan kemerdekannya dari Azerbaijan dan menjalankan pemerintahannya sendiri.

Saat pasukan Armenia Karabakh bertempur mengambil alih Khojaly di Karabakh pada 26 Februari 1992, hanya dalam waktu dua jam sebanyak 613 warga sipil Azerbaijan ikut tewas dibantai, termasuk 116 wanita dan 63 anak-anak. Kejadian itu kemudian dikenang sebagai peristiwa Pembantaian Khojaly.

Sampai tahun 1993, pasukan Armenia berhasil menguasai Nagorno-Karabakh dan menduduki 20 persen dari wilayah Azerbaijan. Luas wilayah Nagorno-Karabakh juga membengkak dari semula 4.400 kilometer persegi menjadi 7.000 kilometer persegi.


The Washington Post mencatat, peperangan itu menyebabkan 30.000 orang tewas, dan hampir satu juta orang kehilangan tempat tinggalnya karena mengungsi. Sebanyak 235.000 orang etnis Armenia melarikan diri dari berbagai daerah di Azerbaijan. Sebaliknya, orang Azerbaijan lari tunggang langgang meninggalkan Nagorno-Karabakh.

Federasi Rusia pada 1994 turun tangan. Lewat Protokol Bishek pada 5 Mei, disepakati gencatan senjata yang ditandangani oleh Armenia dan Azerbaijan dan mulai efektif per 12 Mei 1994. Kendati demikian, perang tak pernah benar-benar usai. Kedua negara masih memendam bara dalam sekam. Beberapa kali gencatan senjata dilanggar.

Seperti yang terbaru pada 2016 saat lusinan orang tewas dalam bentrokan Nagorno-Karabakh. Diwartakan BBC, Armenia mengaku 18 tentaranya tewas. Sedangkan Azerbaijan mengatakan 12 tentara tewas dan melaporkan kematian warga sipil yang belum dikonfirmasi. Pertempuran itu disebut sebagai yang terburuk sejak gencatan senjata 1994.

Dalam geopolitik Kaukasus Selatan, Rusia berpihak pada Armenia sebagai mitra penting di Kaukasus. Turki condong ke Azerbaijan, dan Iran yang memiliki populasi orang Azerbaijan terbesar cenderung mendukung langkah negara tetangganya itu.

Mengingat pelik dan sensitifnya isu perseteruan Azerbaijan-Armenia ini, ketakutan Mkhitaryan jadi amat bisa dipahami.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 30 Mei 2019 dengan judul "Bara Nagorno-Karabakh yang Tak Kunjung Padam". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH ARMENIA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight