28 Oktober 1928

Seberapa Terkenal Para Panitia Sumpah Pemuda di Google?

infografik mozaik sumpah pemuda
Ilustrasi W.R Supratman, saat memperdengarkan lagu Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda II. tirto.id/Gery
Oleh: Petrik Matanasi - 28 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Bila dilacak lewat mesin pencari Google, popularitas Yamin adalah yang teratas di antara panitia Kongres Pemuda II 1928.
tirto.id - Siapa pelaku sejarah Sumpah Pemuda yang paling terkenal? Jawabannya tentu Muhammad Yamin. Jika saat ini Anda mencari sosok Yamin di Google, ditemukan 491.000 hasil untuk 'Mohammad Yamin'.

Pamor Yamin yang menjadi sekretaris dan penyusun ikrar Sumpah Pemuda memang tinggi. Tapi jangan lupa, Yamin tak hanya dikenal dalam perannya di peristiwa 1928 itu. Ia juga kemudian dikenal karena menjadi salah satu tokoh BPUPKI yang merumuskan Pancasila, dan selanjutnya turut merumuskan sejarah nusantara dan keindonesiaan.

Baca juga: Yamin adalah Gajah Mada

Selain Yamin, ada panitia penting Kongres Pemuda II, misalnya Soegondo Djojopuspito yang menjabat ketua panitia. Ada Amir dari Jong Batak Bond, juga Djoko Marsaid sebagai Wakil Ketua. Ada pula Djohan Mohammad Tjai sebagai Pembantu 1 dan Kotjosungkono dari Pemuda Indonesia Pembantu II. R.C.L. Senduk dari Jong Celebes menjadi Pembantu III, Johannes Leimena dari Jong Ambon sebagai Pembantu IV, dan Rohyani dari Pemuda Kaoem Betawi sebagai Pembantu V.

Para panitia juga undangan yang hadir adalah orang-orang terpelajar. Yamin sendiri kala itu mahasiswa hukum di Recht Hogeschool di Batavia, yang gedungnya sekarang menjadi Kantor Kementerian Pertahanan.

Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Hindia Belanda, adalah penggagas Kongres Pemuda II. Setelah kuliah hukumnya di Recht Hogeschool berantakan, Soegondo Djojopuspito berkecimpung di sini. Dia juga mewakili PPPI dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II.

Baca juga: Bonus Demografi dan 100 Tahun Sumpah Pemuda

Meski posisinya dalam kepanitiaan lebih tinggi ketimbang Yamin, Soegondo kalah populer. Di mesin pencari Google, hanya terdapat 17.400 hasil pencarian untuk "Sugondo Joyopuspito" atau 14.800 hasil pencarian ketika diketik dengan ejaan van Ophuysen: "Soegondo Djojopuspito". Jika mengetik namanya lalu ditambahi kata "Sumpah Pemuda", akan terdapat 10.900 hasil pencarian.

Menurut Soenyata Kartadarmadja dalam Sugondo Djojopuspito: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1983), setelah Kongres Soegondo tetap dalam arus pergerakan nasional. Bersama Soenario Sastrowardoyo, kakek dari aktris Dian Sastrowardoyo, ia mendirikan Perguruan Rakyat pada 11 Desember 1928. Tempatnya di Gang Kenari No. 15 Salemba. Soegondo menjadi kepala sekolahnya.

Pada 1930, dia ke Bandung dan menjadi guru di Taman Siswa. Dia termasuk simpatisan PNI Soekarno yang dibekukan pemerintah Hindia Belanda. Di tahun 1933, dia menikahi Suwarsih Djojopuspito. Setahun kemudian, Soegondo sempat ditahan tapi dibebaskan. Meski bebas, ia dilarang mengajar sampai 1935.

Baca juga: Jejak Panjang Pengabdian Sunario Sastrowardoyo

Setelah gagal mendidikan Sekolah Loka Siswa, Soegondo ke Semarang dan mengajar lagi di sekolah Taman Siswa, tapi hanya sebentar. Akhir 1936, dia ke Surabaya dan menjadi wartawan De Indische Courant Soerabaia. Lalu datanglah masa pendudukan Jepang. Di masa ini, dia sempat bekerja di penjara.

Setelah kemerdekaan, Soegondo tercatat sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). Tahun 1950, Soegondo diangkat dalam kabinet Halim sebagai Menteri Pembangunan Masyarakat. Jabatannya di BP-KNIP diisi Djohan Sjahroezah.

Sementara itu, sang bendahara Kongres, seorang marga Harahap dari Pemuda Batak yang biasa dikenal sebagai Amir Sjarifudin, cukup sering disebut dalam sejarah Indonesia. Seperti Yamin, Amir juga mahasiswa hukum di Recht Hogeschool.

Hasil pencarian tentang Amir mencapai 193.000 hasil jika memakai nama "Amir Sjarifudin" dan hanya 119.000 hasil jika memakai "Amir Syarifudin". Ia dikenal dan lebih banyak muncul terkait keterlibatannya dalam Peristiwa Madiun 1948. Jika ditambahkan "sumpah pemuda", hanya ada 20.300 hasil pencarian untuk Amir.

Dari sekian banyak panitia kongres, meski cukup populer, dia bernasib paling tragis. Ia kena sikat tentara Republiken macam A.H. Nasution. Tempatnya buruk pula dalam sejarah Indonesia. Ia dieksekusi mati karena dianggap terlibat Peristiwa Madun 1948, meski pernah menjadi perdana menteri.

Baca juga:
Sementara itu, meski terdapat 10.600 hasil pencarian soal Djoko Marsaid yang menjadi Wakil Ketua Kongres, namun tidak ada catatan lengkap soal asal-usulnya, kecuali bahwa dia anggota Jong Java. Selebihnya tidak jelas. Jika mengetik namanya lalu ditambahi kata "Sumpah Pemuda", ditemukan 7.200 hasil pencarian tentangnya.

Begitu juga dengan Djohan Mohammad Tjai dari Jong Islameiten Bond yang dalam kongres menjadi Pembantu 1. Hanya 6.470 hasil pencarian tentangnya di Google. Setelah namanya ditambahi kata "Sumpah Pemuda", akan ditemukan 9.990 hasil.

Hasil pencarian untuk Kotjosungkono dari Pemuda Indonesia yang menjadi Pembantu II di Kongres malah lebih sedikit. Hanya ada 375 hasil. Tapi jika nama pria kelahiran Madura ini ditambahi "Sumpah Pemuda", hasilnya malah lebih banyak: 622 hasil pencarian.



Adapun Pembantu III R.C.L. Senduk dan Pembantu IV Johannes Leimena nampaknya masih dikenang oleh orang-orang satu daerahnya. Keduanya adalah mahasiswa kedokteran STOVIA di Kwitang. Gedungnya kini sudah menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Keduanya juga kemudian jadi dokter.

Pemuda Rumondor Cornelis Lefrand Senduk berasal dari Minahasa. Ketika Kongres Pemuda II dilaksanakan, dia adalah anggota Jong Celebes. Kemudian ia sempat menjadi dokter di Sukabumi. Di tahun 1938, bersama dokter Bahder Johan, Senduk dengan berani mengusulkan berdirinya Palang Merah Indonesia, namun ditolak.

Dua tahun kemudian usul itu diulangi kembali namun ditolak lagi. Tokoh ini besar jasanya dalam sejarah Palang Merah Indonesia. Di mesin pencari Google, terdapat 1.140 hasil pencarian tentangnya. Jika nama RCL Senduk ditambahi "Sumpah Pemuda", ditemukan 233 hasil pencarian saja.

Baca juga: Pengikut Kristus untuk Kemerdekaan Indonesia

Pemuda Johannes Leimena adalah anggota Jong Ambon. Di kepanitiaan Kongres, dia menjadi Pembantu IV. Popularitasnya di mesin pencari Google cukup lumayan: ada 41.900 hasil pencarian tentangnya. Jika ditambahi "Sumpah Pemuda", ada 14.600 hasil pencarian yang muncul.

Leimena populer bukan semata karena Sumpah Pemuda. Ia pernah menjadi dokter zending. Di awal kemerdekaan, Leimena yang sederhana ini berkali-kali diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Ia juga pernah juga menjadi Menteri Sosial. Di akhir pemerintahan Sukarno, Leimena menjabat Wakil Perdana Menteri (Waperdam) III. Dalam sejarah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Leimena cukup dikenal, meski di masa Orde Baru namanya agak dilupakan.

Dari semuanya, Rohyani dari Pemoeda Kaoem Betawi adalah yang paling tak dikenal. Saat Kongres, ia menjadi Pembantu V. Hanya ada 777 hasil pencarian tentangnya. Itupun harus disertai frasa "Sumpah Pemuda". Jika tidak, hanya muncul foto-foto perempuan yang kemungkinan bernama Rohyani.

Baca juga:
Melihat deretan ini, bisa dilihat bahwa mantan panitia yang paling banyak terekam dalam jejak digital adalah mereka yang pernah menjadi pejabat tinggi setelah Indonesia merdeka. Soegondo, Yamin, dan Leimena adalah tiga sosok paling kesohor.

Yamin menjadi paling dikenal dan diingat karena terkait juga dalam banyak penulisan yang bertema pembentukan Indonesia dan keindonesiaan. Orang mengenalnya juga sebagai sejarawan. Selain menjadi tokoh utama yang menulis sejarah Majapahit dan mengangkatnya sebagai simbol persatuan Indonesia masa lampau, Yamin juga menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran & Kebudayaan.

Yamin ikut berperan dalam menentukan lambang negara Garuda Pancasila bersama Sultan Hamid II. Sultan dari Pontianak inilah yang kemudian merancang lambang negara tersebut.

======

Naskah tayang pertama kali pada 28 Oktober 2016. Redaksi mengunggahnya kembali dengan beberapa penyuntingan minor .

Baca juga artikel terkait SUMPAH PEMUDA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight