Hari Buku Sedunia 2020

Sastra Bencana, Katarsis dan Kabar untuk Masa Depan

Oleh: Irfan Teguh - 28 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sastra menjadi salah satu media untuk mengabarkan pelbagai bencana di masa lampau, kepada generasi selanjutnya dengan narasi yang memukau.
tirto.id - Diskusi daring sesi ke-5, Jumat (24/04/2020), dalam acara World Book Day 2020: Indonesia Online Festival menghadirkan Akmal Nasery Basral sebagai pembicara yang membahas topik bertajuk "Sastra Bencana sebagai Katarsis di Era Pandemi".

Akmal belum lama ini meluncurkan karya terbarunya, Te O Toriatte (Genggam Cinta) yang berkisah tentang perjalanan anak berusia 14 tahun dalam melewati bencana demi bencana, mulai dari tsunami Aceh sampai bocornya reaktor nuklir di Fukushima, Jepang. Ia menautkan proses kreatif penulisan novel tersebut sebagai representasi katarsis dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Novel ini berawal dari cerpen "Swans of the Rising Sun" yang diikutsertakan dalam antologi Project Sunshine for Japan (2012), yang merupakan kampanye sedunia untuk mendukung penyintas bencana nuklir di Fukushima, Jepang.

Sebuah Katarsis

Akmal menyampaikan bahwa sumber inspirasi karya sastra amat beragam, salah satunya adalah bencana. Karena sumbernya merupakan kejadian nyata, maka sastra ini masuk ke dalam genre relisme: sesuatu yang nyata, eksis, dan menjadi keseharian.

Sebelum manusia mengenal kertas, imbuhnya, kisah-kisah bencana telah dikabarkan lewat pelbagai media, seperti pada pohon yang dicungkil, dipahat pada dinding padas gua-gua, dan ragam cara lainnya.

Menurutnya, fungsi pertama dari sastra yang bersumber dari bencana adalah kesaksian, atau testimoni, bahwa telah terjadi peristiwa yang akibatnya di luar kemampuan manusia, alias tak tertanggungkan. Peristiwa tersebut kemudian mengubah struktur, baik lingkungan, sosial, budaya, alam, maupun teknologi.

Akmal menambahkan, pengabaran bencana lewat sastra tentu berbeda dengan formula berita--meski belakangan kemudian muncul teknik baru penulisan berita yang bernama jurnalisme sastrawi--Menurutnya, sastra biasanya mengemas peristiwa menjadi cerita yang enak dibaca dan mudah dipahami, meskipun berisi tentang bencana.

"Bencana yang diabadikan dalam bentuk sastrawi—sajak, prosa, nonfiksi—harus memiliki fungsi lain, sebagai penyadaran dan pembelajaran bagi umat manusia yang diwariskan secara turun-temurun,” terangnya.

Sebagai contoh, ia menerangkan masyarakat di kawasan Simeuleu, Aceh. Berdasarkan tradisi sastra lisan, warga di sana sudah tahu jika ada gempa bumi dengan kekuatan tertentu, akan ada bentuk-bentuk pengabaran sastra lisan yang membuat mereka harus menyelamatkan atau melarikan diri ke tempat-tempat yang lebih tinggi.

Contoh lainnya adalah buku Krakatoa: Saat Dunia Meledak 27 Agustus 1883 karya Simon Winchester. Menurut Akmal, buku tersebut berhasil menyampaikan peristiwa besar dengan narasi yang indah meskipun membahas tentang bencana besar.

"Kita bisa mendapatkan sebuah rekonstruksi kejadian seolah-olah berada di masa itu, tersedot ke tahun itu, berada dalam peristiwa yang gigantik," imbuhnya.

Beberapa contoh lain juga dikemukan, yakni The Odyssey karya Homer, peristiwa tenggelamnya kapal Titanic pada 1912 yang kemudian diangkat ke layar lebar, serta Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya HAMKA.

Saat terjadi gempa di Lombok, NTB, pada 2018, Akmal mengajak para korban untuk mencurahkan perasaannya menjadi sebuah puisi, cerpen, atau tulisan apa pun. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi katarsis dalam mengurai kesedihan, terutama bagi mereka yang mengalami langsung bencana tersebut.

Sedangkan bagi yang tidak mengalami langsung namun terlibat dalam kesehariannya, hal tersebut bisa menjadi stimulus untuk melakukan hal serupa, karena juga mengalami kegelisahan terhadap peristiwa yang diamati.

"Sastra bisa menjadi media untuk menuangkan kegelisahan," ujarnya.


Angkatan Baru?

Sastrawan Eka Budianta, yang menjadi salah satu pemirsa pada perjumpaan maya tersebut menyebutkan kemungkinan lahirnya angkatan sastra baru akibat pandemi Covid-19 ini. Ia membandingkan angkatan baru ini dengan Angkatan '45 dan Angkatan '66 yang lahir karena peristiwa besar.

Akan tetapi, ia menyadari, bahwa terlampau dini untuk menyimpulkan kemungkinan tersebut, sebab karya-karya yang terlahir dari situasi pandemi ini mesti memiliki kekuatan untuk bertahan secara kuantitas maupun kualitas.

Di luar wacana tersebut, kondisi saat ini menantang siapapun, terutama para penulis, untuk menjadikannya sebagai karya sastra yang mengabarkan kepada generasi selanjutnya tentang pandemi yang tengah terjadi saat ini.

“Menjadi saksi, prasasti, dan legacy,” tutur Akmal.

========

Laporan ini ditulis oleh Lupy Agustina Dewy (Guru dan Pegiat Sastra Tasikmalaya). Hari Buku Sedunia 2020 yang diadakan oleh Perkumpulan Literasi Indonesia berlangsung pada 23 April-2 Mei 2020. Tahun ini mengusung tema Indonesia Online Festival, "Book Lovers in the Time of Corona: Sharing, Collaboration and Create"

Baca juga artikel terkait HARI BUKU SEDUNIA 2020 atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight