tirto.id - Perayaan Diwali 2026 akan diselenggarakan pada 8 November 2026. Diwali, atau Festival cahaya, ditandai dengan doa, menyalakan diya atau lampu minyak kecil, berbagi manisan, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.
Secara tradisional, mengutip Cosmopolitan, perayaan Diwali dirayakan selama 5 hari. Perayaan ini setiap harinya membawa tradisi tersendiri, meski kebiasaan di berbagai komunitas biasanya bervariasi.
Perayaan tersebut dimulai dari Jumat hingga Selasa, 6–10 November 2026. Diwali sendiri merupakan pertengahan perayaan tersebut, yakni pada hari ketiga atau Minggu, 8 November 2026.
Pada perayaan utama, Diwali melibatkan keluarga dan menyalakan diya atau lampu minyak. Mereka bertukar hadiah, berpesta, menghabiskan waktu bersama, dan berdoa.
Lalu, apa itu diya, lampu yang dinyalakan pada perayaan Diwali? Simak juga penjelasan ilmiah sederhananya mengenai lampu ini.
Lampu Diya di Perayaan Diwali
Lampu diya biasanya dinyalakan pada perayaan Diwali. Ini merupakan lampu kecil berisi minyak yang biasanya digunakan di seluruh India, khususnya dalam tradisi Hindu, Jain, dan Budha.
Secara tradisional, diya terbuat dari tanah liat atau kuningan. Bentuknya menyerupai mangkuk kecil dan dangkal dengan sumbu kapas yang dimasukkan sehingga satu ujungnya terendam dalam minyak, sedangkan ujung lainnya menjulur di atas bibir mangkuk untuk dinyalakan.
Menyalakan diya dianggap sebagai tindakan penyucian spiritual dan menghubungkan diri dengan Tuhan. Ini karena makna yang terkandung dalam minyak serta sumbu dalam diya.
Minyak dalam diya, melansir Britannica, diartikan sebagai representasi keburukan manusia, seperti keserakahan, kecemburuan, kebencian, dan nafsu. Sementara itu, sumbunya melambangkan jiwa manusia atau atman.

Diya dinyalakan setiap hari selama puja atau ibadah ritual. Selain itu, diya juga dinyalakan selama ati, yakni sebuah persembahan cahaya seremonial kepada dewa ketika nyala api diputar perlahan di depan sebuah gambar sambil dinyanyikan himne-himne pujian.
Dalam perayaan Diwali atau festival cahaya, peran diya sangat menonjol. Diwali, dalam mitologi Hindu, menandai kembalinya Dewa Rama ke Ayodhya setelah pengasingan selama 14 tahun dan kekalahan raja iblis Ravana.
Penduduk Ayodhya dikatakan telah menerangi kota dengan lampu minyak (diya) untuk menyambut Rama pulang. Ini menjadi sebuah gestur yang diulangi setiap tahun melalui penyalaan diya.
Diya dinyalakan di rumah-rumah, halaman, dan jalan-jalan. Tujuannya yakni untuk merayakan kemenangan cahaya atas kegelapan dan kebaikan atas kejahatan.
Sains Sederhana pada Lampu Diya
Selain menawarkan makna yang mendalam yang terkandung dalam diya, lampu minyak kecil ini juga turut menjelaskan banyak konsep ilmiah yang begitu luas. Benda sederhana seperti diya juga menyimpan penjelasan sains.
Seorang akademisi, Panini Telang, menyebut bahwa gaya adhesi turut dijelaskan dengan cara sumbu dan minyak berinteraksi. Hal ini mengingat bahwa sumbu terbuat dari kapas yang merupakan untaian serat.
Sumbu kapas yang dicelupkan ke dalam minyak di dalam lampu diya menyerap minyak karena gaya adhesi, dilansir dari Times of India. Molekul minyak tetap menyatu di dalam lampu karena gaya adhesi.
Gaya adhesi sendiri, dikutip dari laman Biolin Scientific, merupakan gaya tarik-menarik antara molekul-molekul zat yang berbeda. Gaya ini menjelaskan mengapa zat-zat saling menempel.
Perlu diingat, satu molekul minyak kacang yang merupakan minyak di dalam diya mengandung 56 atom karbon, 104 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Ketika menyalakan lampu diya, minyak terus-menerus disuplai ke sumbu oleh aksi kapilaritas.
Aksi kapilaritas merupakan kemampuan cairan untuk mengalir di ruang sempit tanpa bantuan gaya eksternal. Ini terjadi karena gaya adhesi antara cairan dan permukaan padat di sekitarnya.
Selain gaya adhesi, hal menarik dari lampu diya adalah bagaimana minyak dari lampu tersebut bisa naik melawan gravitasi. Hal ini dijelaskan oleh Telang bahwa gaya adhesi antara molekul sumbu lebih besar daripada gaya kohesi antara molekul.

Akibatnya, tercipta gradien tekanan. Inilah yang membuat cairan seperti minyak naik melawan gravitasi. Kemudian, lampu minyak bisa menyala dan memberi cahaya melalui api jika dinyalakan.
Lebih lanjut, Telang juga menjelaskan bahwa dalam nyala lampu minyak diya, ada 5 elemen yang mewakili alam semesta. Di antaranya, yakni elemen bumi, langit, udara, api, dan air.
Elemen Bumi diwakili oleh diya, minyak, dan sumbu kapas. Sementara itu, api adalah cahaya itu sendiri dan elemen langit adalah cahaya di sekitar nyala api yang merupakan ruang di sekitar Bumi.
Kemudian, elemen udara adalah oksigen yang berdifusi dari udara ke sumbu, mengingat pembakaran selalu membutuhkan oksigen. Sedangkan, elemen air adalah molekul H2O yang terbentuk pada pembakaran minyak.
Tak hanya itu, laman Indian Shelf juga turut menjelaskan bahwa saat dibakar, minyak pada diya melepaskan partikel dan polutan dalam jumlah rendah dibandingkan dengan sumber penerangan dalam ruangan lainnya, seperti lilin atau dupa.
Dengan menyalakan lampu diya, ini sekaligus bisa membantu meminimalkan polusi udara dalam ruangan dan meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan tertutup.
Lebih dari itu, simbolisme cahaya dalam perayaan Diwali dengan dinyalakannya diya menjadi simbol harapan dan pembaruan. Secara ilmiah, cahaya turut memengaruhi biologis manusia.
Tubuh manusia mengikuti ritme sirkadian, siklus alami 24 jam yang diatur oleh paparan cahaya dan kegelapan. Perbedaan cahaya pada siang dan malam hari turut memengaruhi tubuh manusia.
Ketika mata mendeteksi cahaya siang hari, sinyal bergerak ke otak, lalu menekan melatonin dan membuat manusia tetap waspada. Sebaliknya, pada malam hari, kegelapan memicu pelepasan melatonin dan mempersiapkan tubuh untuk beristirahat.
Cahaya lampu pada diya menambah kecerahan pada malam hari sehingga mengangkat suasana hati dan meningkatkan kewaspadaan.
Studi menunjukkan, paparan cahaya bisa mengurangi gejala gangguan afektif musiman atau seasonal affective disorder (SAD), sejenis depresi yang terkait dengan bulan musim dingin yang lebih gelap.
Cahaya tambahan dalam diya yang dinyalakan pada Diwali bisa meningkatkan kesejahteraan mental. Ini bahkan bisa menjadi sejenis terapi cahaya yang efektif untuk mengatasi SAD.
Nyala cahaya bisa mengatasi beberapa efek kegelapan musim dingin, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic. Hal ini dengan membantu ritme sirkadian dan menyeimbangkan kadar serotonin.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id




































