tirto.id - Hujan meteor Southern Taurids akan mencapai periode puncak pada 4-5 November 2026. Fenomena tahunan ini dikenal karena meteor-meteor bergerak relatif lambat dan sesekali menghasilkan cahaya terang serupa bola-bola api alias fireball.
Di balik garis cahaya yang melintasi langit malam tersebut, ada perjalanan panjang "material kecil" dari ruang angkasa. Sebagian berasal dari komet yang melepas debu ketika mendekati Matahari, tapi ada pula yang berasal dari pecahan asteroid.
Ketika Bumi melintasi jalur penuh serpihan tersebut, sebagian material tadi masuk ke atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi lalu menghasilkan kilatan cahaya. Peristiwa inilah yang dikenal sebagai hujan meteor.
Lantas, apa beda meteor, meteoroid, dan meteorit? Bagaimana butiran debu dari ruang angkasa bisa berubah jadi cahaya di langit malam? Kapan jadwal hujan meteor selanjutnya?
Mengenal Meteor, Bedanya dengan Meteoroid dan Meteorit
Sebagaimana dijelaskan oleh NASA, hujan meteor terkait dengan tiga istilah astronomi, yakni meteoroid, meteor, dan meteorit. Masing-masing menjelaskan material yang sama, tapi dalam kondisi berbeda berdasar posisi dan tahap perjalanannya.
Meteoroid merupakan benda kecil di ruang angkasa yang bisa berasal dari komet atau asteroid. Ketika meteoroid memasuki atmosfer Bumi lalu menghasilkan cahaya, fenomena tersebut baru disebut sebagai meteor. Adapun meteorit adalah sisa material meteoroid yang berhasil melewati atmosfer lalu jatuh menghantam permukaan Bumi.
Sebagian besar meteoroid yang berukuran kecil akan habis terbakar di perjalanan, tapi pecahan yang cukup besar dan kuat bisa bertahan hingga mencapai tanah lalu jadi meteorit.
Singkatnya, meteoroid merupakan material di ruang angkasa, meteor adalah fenomena cahaya ketika material tadi masuk ke atmosfer, sementara meteorit merupakan sisa material yang mencapai permukaan Bumi.

Ilmuwan memperkirakan sekitar 48,5 ton material meteorid jatuh ke Bumi setiap hari. Hampir semuanya menguap di atmosfer, meninggalkan jejak terang yang dikenal sebagai meteor.
Lalu, apa yang dimaksud dengan hujan meteor?
Dalam penjelasan mengenai hujan meteor, NASA menyebut fenomena ini terjadi ketika Bumi melewati aliran puing-puing yang ditinggalkan komet atau asteroid. Partikel-partikel tersebut masuk ke atmosfer bumi, kemudian menghasilkan sejumlah meteor dalam periode berdekatan.
"Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati aliran serpihan yang ditinggalkan komet atau asteroid," terang NASA.
Selama Bumi melintasi aliran serpihan, meteor bisa terlihat beberapa hari bahkan minggu. Aktivitasnya mencapai puncak ketika Bumi melewati bagian aliran yang lebih padat.
Dari Debu Menjadi Cahaya di Langit
Jauh sebelum terlihat sebagai garis cahaya, calon meteor bermula dari "serpihan kecil" yang mengembara di ruang angkasa. Sebagian berasal dari komet yang meninggalkan jejak debu ketika mendekati Matahari.
Ketika komet mendekati Matahari, panas membuat es di permukaannya mengalami sublimasi, yaitu perubahan wujud dari padat langsung menjadi gas. Gas yang terlepas membawa partikel debu dan material kecil dari permukaan komet.
Proses tersebut membuat komet meninggalkan jejak serpihan di sepanjang orbitnya. Seiring waktu, material itu menyebar mengikuti lintasan komet lalu membentuk aliran meteoroid.
Di samping itu, asteroid juga bisa jadi sumber material pembentuk hujan meteor. Tumbukan antarbenda di ruang angkasa berpotensi memecah asteroid jadi fragmen-fragmen kecil. Sebagian pecahan menyebar dan mengorbit Matahari.
Baik berasal dari komet maupun asteroid, serpihan-serpihan itu bergerak mengikuti orbit benda induknya. Akibatnya, aliran meteoroid menempati jalur tertentu di ruang angkasa yang suatu saat bisa dilintasi Bumi.
Sebagaimana dijelaskan American Meteor Society (AMS) melalui laman FAQ, "Ketika partikel-partikel kecil ini memasuki atmosfer kita dengan kecepatan tinggi, mereka menghasilkan garis-garis cahaya."
"Karena tiap tahun Bumi berpapasan dengan banyak meteor tersebut pada titik yang kurang lebih sama, hujan meteor cenderung kembali sekitar tanggal yang sama," terang AMS.

Adapun terkait prosesnya, saat memasuki atmosfer, meteoroid bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, berkisar 11-72 kilometer per detik, tergantung pada jenis hujan meteor. Pada tahap ini, udara di depan meteoroid mengalami kompresi hebat.
Proses tersebut menghasilkan panas tinggi sehingga gas di sekitarnya memanas lalu berpijar. Panas juga membuat sebagian material meteoroid menguap dan terlepas.
NASA menjelaskan bahwa proses pelepasan material akibat pemanasan ini disebut ablation. Gas dan material yang terlepas mengalami eksitasi dan ionisasi, kemudian menghasilkan pancaran cahaya yang terlihat sebagai garis terang di langit.
Maka, cahaya meteor terbentuk dari interaksi meteoroid dan atmosfer Bumi. Fenomena ini berlangsung singkat saat partikel melintasi atmosfer dengan kecepatan tinggi.
Menariknya, meteor dalam satu hujan meteor seolah-olah berasal dari satu titik di langit. Dalam astronomi, titik tersebut disebut radiant.
Menurut AMS, kesan tersebut muncul akibat perspektif pengamat di Bumi. Partikel-partikel meteor sebenarnya bergerak melalui lintasan yang hampir sejajar, tetapi jejak cahayanya terlihat bertemu pada satu titik.
Adapun letak radian jadi dasar penamaan hujan meteor berdasar rasi bintang di sekitarnya. Pada Southern Taurids, misalnya, meteor terlihat seolah-olah berasal dari arah rasi Taurus.
Puncak Hujan Meteor 2026-2027
Setelah Southern Taurids mencapai puncaknya pada 4-5 November 2026, pengamat langit masih punya sejumlah kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor hingga awal 2027.
Beberapa di antaranya bahkan menawarkan kondisi pengamatan yang cukup baik, sebab iluminasi Bulan atau persentase bagian permukaan Bulan yang tampak terang dari Bumi relatif kecil pada momen tertentu.
Berikut jadwal hujan meteor sepanjang 2026 dan 2027, merujuk kalender International Meteor Organization (IMO).
Persentase iluminasi Bulan mengacu pada malam puncak yang tercantum di kalender IMO.
Untuk warga di Indonesia, perlu diperhatikan bahwa beberapa hujan meteor memiliki radian rendah atau kurang menguntungkan jika diamati dari belahan Bumi bagian selatan.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































