tirto.id - Teleskop luar angkasa legendaris milik NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, mengalami kerusakan dan gagal orbit yang membuatnya jatuh dan masuk kembali ke atmosfer.
Sebagaimana mengutip NASA, teleskop observatorium Neil Gehrels Swift milik badan antariksa tersebut yang telah mengorbit lebih dari dua dekade sejak 2004 memasuki kembali ke atmosfer Bumi pada Rabu (4/11/2026) waktu setempat.
Melalui keterangan resminya, teleskop NASA kembali ke atmosfer Bumi setelah orbitnya terus menurun akibat hambatan dari lapisan atas atmosfer yang terus meningkat.
Akibatnya, wahana antariksa tersebut harus mengakhiri operasinya yang telah meninggalkan warisan inovasi dan harta karun berupa pengamatan ilmiah.
NASA memperkirakan bahwa teleskop Swift akan memasuki kembali ke atmosfer. Meskipun sebagian besar badan dan komponen akan hancur terbakar akibat gesekan panas ekstrem di atmosfer Bumi, sebagian komponen padat diperkirakan akan jatuh ke permukaan Bumi.
Lantas, apakah puing-puing sisa teleskop yang jatuh ke permukaan Bumi berbahaya? Simak penjelasan lengkapnya berikut.
Kronologi Teleskop NASA yang Jatuh ke Bumi
Wahana antariksa milik NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, pertama kali diluncurkan pada 20 November 2004 atau sekitar 22 tahun silam. Awalnya, teleskop ini dicanangkan untuk menjalankan misi antariksa selama 2 tahun yakni hingga 2006 untuk mendeteksi sekaligus mempelajari semburan sinar gamma dan fenomena kosmik ekstrem lainnya.
Akan tetapi, karena wahana antariksa tersebut mencapai kesuksesan besar ketika menjalankan misi, termasuk memberikan hasil ilmiah yang produktivitasnya lebih dari 10 kali lipat dari perkiraan awal, NASA akhirnya memperpanjang masa operasionalnya jadi lebih panjang hingga dua dekade lebih.
Bahkan, selama mengorbit 22 tahun sejak 2004, teleskop Swift setidaknya berkontribusi dalam pengukuran kecerahan dari semua jenis letusan kosmik, mendokumentasikan letusan multi-gelombang, menangkan lebih 1,5 juta gambar dari Teleskop Ultraviolet/Optik, dan lainnya.

Berkat keberhasilannya itu pula Swift menjadi instrumen vital bagi para astronom dunia dalam memetakan berbagai peristiwa kosmik, mulai dari aktivitas lubang hitam supermasif, ledakan bintang (supernova), hingga pengamatan komet dan asteroid pada sistem tata surya.
Akan tetapi, pada pertengahan 2026, melansir NPR, teleskop Swift mengalami penurunan ketinggian akibat gesekan dengan atmosfer bagian atas serta peningkatan aktivitas Matahari yang terus mempercepat penurunan ketinggian orbitnya secara bertahap.
NASA sendiri sempat melakukan upaya penyelamatan dengan menerbangkan wahana LINK untuk mendorong Swift ke orbit yang lebih tinggi lagi. Sayangnya, upaya tersebut menuai kegagalan setelah LINK mengalami kendala kendali dan kerusakan sistem.
Pada 20 Oktober 2026, ketinggian Swift kian merosot di bawah 275 kilometer yang membuat operasionalnya dihentikan. Artinya, wahana antariksa ini sudah tidak lagi berfungsi dan diperkirakan akan kembali ke atmosfer Bumi.
Mengutip Space, Angkatan Luar Angkasa AS memperkirakan bahwa observatorium sebesar 3.200 pon (1.450 kilogram) itu kembali ke atmosfer Bumi pada Rabu waktu setempat (4/11) pukul 7.39 EST, dengan pengamatan dilakukan oleh satelit Jonathan McDowell yang berada di atmosfer Sumatra Utara, Indonesia.
Para pejabat NASA meramalkan bahwa sebagian besar komponen Swift akan terbakar oleh panas ekstrem pada atmosfer Bumi. Sementara puing keras lainnya diperkirakan akan sampai ke permukaan Bumi.
Apa yang Terjadi pada Teleskop NASA Saat Memasuki Atmosfer Bumi?
Berdasarkan analisis independen Aeroscape Corporation, wahana antariksa Swift milik NASA diperkirakan masuk kembali ke atmosfer Bumi sekitar pukul 03.30 EST pada hari Rabu (4/11/2026), dengan ketidakpastian plus atau minus 11 jam.
Organisasi tersebut menganalisis bahwa teleskop Swift seharusnya memasuki kembali ke atmosfer pada pukul 06.56 pagi EST, dengan toleransi tiga jam.
Ketika wahana antariksa memasuki kembali ke atmosfer, sebagian besar komponen teleskop tersebut diperkirakan akan terbakar di atmosfer oleh gesekan panas ekstrem.
Mengutip Orbital Debris, pesawat ruang angkasa yang memasuki kembali atmosfer biasanya akan hancur pada ketinggian antara 84-72 kilometer oleh gaya aerodinamis.

Puing-puing yang hancur itu juga menerima pemanasan aerodinamis hingga hancur, terutama objek yang terbuat dari material dengan titik leleh rendah seperti alumunium. Namun, komponen dengan titik leleh lebih tinggi seperti titanium, baja, tahan karat, atau karbon bisa bertahan untuk menghantam permukaan Bumi.
Sejumlah pakar memperkirakan bahwa wahana antariksa yang jatuh ke atmosfer Bumi akan mengalami kerusakan oleh kompresi adiabatik yang menyebabkan gelombang kejut super panas.
Akibat gesekan ekstrem tersebut kerap menyebabkan komponen yang masuk menjadi hancur atau meleleh, terutama jika komponen tersebut terbuat dari logam tertentu seperti alumunium, kabel, atau komponen elektronik lainnya yang rentah meleleh.
Artinya, meskipun sebagian besar komponennya akan terbakar, bagian lainnya yang terbuat dari bahan lebih kokoh terhadap panas berpotensi bisa bertahan hingga mencapai permukaan Bumi.
Seberapa Besar Bahaya Puing Teleskop bagi Manusia?
NASA memperkirakan bahwa sebagian besar komponen wahana antariksa Swift akan terbakar habis di atmosfer karena gesekan panas ekstrem. Akan tetapi, komponen lainnya berpotensi akan selamat dan bisa jatuh menuju permukaan Bumi, meskipun kemungkinannya terbilang kecil.
Berkaitan dengan teleskop Swift yang sudah mulai jatuh, NASA meramalkan fragmen yang tersisanya kemungkinan akan jatuh di suatu tempat antara 20,6 derajat lintang selatan dan 20,6 derajat lintang utara yakni wilayah yang mencakup sebagian Meksiko, Karibia, Amerika Tengah dan Selatan, Semenanjung Arab, India, Afrika, dan Oseania, serta sebagian besar lautan.
Kendati demikian, NASA memperkirakan kemungkinan jatuhnya puing-puig Swift di daerah berpenduduk sekitar 1 banding 2.100. Meski jatuhnya puing-puing diramalkan di dekat atmosfer Sumatera Utara, titik akhir komponen tersebut sampai ke permukaan juga belum dapat diperhitungkan.

NASA juga belum dapat memperkirakan risiko terhadap ancaman puing wahana antariksa yang jatuh sampai ke permukaan Bumi. Terlebih, secara historis belum ada kasus cedera fatal yang terkonfirmasi akibat sampah antariksa yang mencapai Bumi.
Guna mengantisipasi berbagai kemungkinan, NASA telah menerapkan standar mitigasi yang ketat lewat permodelan Aerotermal (ORSAT) untuk menekan risiko tersebut.
Selain itu, badan antariksa tersebut juga bekerja sama dengan Angkatan Luar Angkasa AS untuk memantau secara berkala, sekaligus melacak koordinat, ketinggian, dan peluruhan orbit objek Swift yang diperkirakan lolos dari atmosfer.
Adapun sisa puing yang lolos dari gesekan ekstrem diprediksi akan jatuh di samudra atau perairan lepas yang jauh dari permukiman padat penduduk. Sehingga, NASA memperkirakan risiko puing yang jatuh bagi manusia secara langsung sangat kecil.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































