Saat Pemprov DKI Membiarkan Pengusaha OK OCE tanpa Pendampingan

Oleh: Haris Prabowo - 1 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tak ada bantuan modal dan pendampingan kepada pengusaha OK OCE. Salah satu toko OKE OCE Mart di bilangan Kalibata bahkan akan tutup pekan ini.
tirto.id - Jumat 31 Agustus 2018 siang Lenawati baru saja menyelesaikan makan siang ketika saya menemuinya. Di dalam kantor Posko Relawan Anies Sandi Alex (ASA) Center, ia bercerita mengenai GERAI OK OCE pertama di Jakarta yang kini ia kelola. Gerai itu ada di depan kantor ASA. Tepatnya di Jalan Cikajang, Jakarta Selatan.

Lenawati bilang GERAI OK OCE di Jalan Cikajang adalah yang pertama berdiri di Jakarta setelah masuk dalam daftar program janji Anies-Sandi. Sebelum mewawancarainya saya sempat melongok ke dalam gerai. Di sana a
da seorang pegawai perempuan berkerudung. Ia bekerja sebagai kasir sekaligus penjaga. Sambil memegang kertas dan pena ia tampak sibuk mendata barang yang ada dalam toko.

Kompetitor utama GERAI OK OCE di Cikajang adalah mini market Circle K yang berada beberapa meter di sebelahnya. Selama satu jam saya berada di sana, ada tiga orang pembeli yang keluar masuk toko. "Ini memang yang pertama sekali di Jakarta. Pertama ada waktu kampanye Anies-Sandi bulan April 2017. Namun nama awal masih Satu Pintu, akhirnya bulan Agustus berganti nama jadi OK OCE MART," kata Lena siang itu.

Ketika toko masih menggunakan nama Satu Pintu, Lena mengaku belum menjadi pengelola. Ia mulai menjadi pengelola saat diminta oleh Alex Asmasoebrata--pemilik ASA Center dan GERAI OK OCE--mengelola pada bulan Agustus.

"Jadi, saya sudah megang selama satu tahunlah kira-kira," kata Lena.

Lena mengatakan omzet rata-rata penjualan sehari bisa menyentuh satu juta rupiah. "Sekarang omzetnya memang jauh meningkat. Bisa satu juta per hari pendapatannya," kata Lena.

GERAI OK OCE di Cikajang berada di dalam sebuah container berukuran 20 kaki. Berwarna hijau dengan tulisan OK OCE MART yang ditambal oleh tulisan GERAI OK OCE.

Awalnya toko memang bernama OK OCE MART, namun akhirnya Alex--sang pemilik--memilih untuk bergabung dengan GERAI OK OCE. Lena mengatakan saat ini GERAI OK OCE telah bekerjasama dengan PD Pasar Jaya dalam bentuk penyediaan barang dagang.


Nasib GERAI OK OCE di Cikajang tak seburuk OK OCE Mart di bilangan Warung Jati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan yang omzetnya tak mencapai Rp200 ribu per bulan. Susan, seorang pejaga kasir di OK OCE Mart Kalibata bilang tokonya akan tutup akhir pekan ini. Toko tak bisa bertahan lantaran sepi pembeli sedangkan sewa bangunan terbilang mahal.

Saat reporter Tirto mengunjunginya pada Jumat (31/8) siang, toko sudah tak banyak lagi berisi barang-barang dagangan layaknya mini market lain yang masih bertahan. Satu dari pendingin ruangan di dalam toko bahkan sengaja dibiarkan tak beroperasi.

Isi toko disekat menjadi dua. Sisi sebelah kiri digunakan untuk memajang barang dagangan dan kasir bekerja. Sedangkan sisi sebelah kanan dibiarkan kosong. Lina memanfaatkannya sebagai tempat untuk bermain dengan anak. Di sisi kanan pula terdapat banner besar bertuliskan: "Sekretariat Relawan PRADA: Prabowo-Sandiaga".

Tak Didampingi

Meski menjadi salah satu program unggulan Anies-Sandi namun nyatanya sejumlah penjaga toko OK OCE mengaku tidak pernah mendapat pendampingan pelatihan dari Pemprov DKI Jakarta. Apalagi bantuan modal. "Sejauh ini selama satu tahun terakhir belum ada bantuan modal atau dana dari Pemprov," kata Lena.

Hal serupa juga disampaikan pengelola GERAI OK OCE Pancoran yang berada di Jalan Pancoran Timur III, Jakarta Selatan, Ali Masyhar. Ia mengaku tak mendapat bantuan modal dan pelatihan dari Pemprov DKI Jakarta. Namun soal ini ia tak mempermasalahkan. "Kami justru sangat menjauhi meminta modal dari pemerintah. Yang kami inginkan adalah cuma dicarikan supplier barang, dan disambut oleh PD Pasar Jaya," katanya.

Namun, ungkap Ali, para pegiat GERAI OK OCE bisa meminta bantuan dana ke Pemprov DKI Jakarta, lewat Bank DKI. Syaratnya memiliki laporan keuangan usaha yang sehat. "Tapi dari awal juga kami tidak minta dana bantuan. Karena itu bikin kami enggak mandiri," kata Ali.

Klasifikasi OK OCE

Ketua Umum Perkumpulan Gerakan OK OCE (PGO) Faransyah Jaya menjelaskan program OK OCE dibagi menjadi: OK OCE MART, WARUNG MODERN OK OCE, dan juga GERAI OK OCE.

Toko yang nyaris tutup di Kalibata masuk ke dalam kategori OK OCE MART, sedangkan yang di Pancoran dan Cikajang masuk ke dalam GERAI OK OCE.

Namun sebenarnya apa perbedaan di antara ketiganya?

Faran menjelaskan OK OCE MART merupakan mini market yang diinisiasi oleh Lilies Noorlismanie. OK OCE MART memiliki beberapa cabang beserta pengelolanya, salah satunya OK OCE MART Kalibata yang dikelola oleh suami Lilies, Agus.


OK OCE Mart, kata Faran, tak mendapat bantuan apa pun dari pemerintah karena memang dikelola oleh koperasi yang menaungi masing-masing toko. Pihak PGO pun hanya membantu dalam ranah advokasi dan konsultasi.

GERAI OK OCE di Cikajang dan Pancoran juga tak mendapat bantuan modal dan pelatihan. Mereka hanya mendapat kiriman barang langsungi pihak PD Pasar Jaya, serta dipantau secara rutin oleh PD Pasar Jaya.

Sedangkan WARUNG MODERN OK OCE yang ada di Jalan Bangka XI, Jakarta Selatan, kata Faran, tak berbeda dengan OK OCE MART. "Warung Modern OK OCE juga tidak ambil barang dari PD Pasar Jaya. Mereka preferensi dan target pembeli sendiri. Jadi gak pakai kata "GERAI"," kata Faran.

Mendengar kabar dari kasus OK OCE MART Kalibata yang akan tutup, Faran mengatakan memang toko tersebut tidak masuk ke dalam kategori GERAI OK OCE sehingga tak ada pemantauan dari PD Pasar Jaya dan PGO.

"Kalibata tidak ada pemantauan. Karena memang tidak kerja sama dengan PD Pasar Jaya dan PGO. Tapi sudah kami tawarkan. Jika mau pendampingan, pemantauan, dan pembinaan dengan PD Pasar Jaya, nanti bisa dibantu supply barang dan bantuan lainnya," jelasnya.

"Intinya OK OCE MART Kalibata tetap kerja sama, namun hanya pemakaian brand, tapi tidak dalam pengelolaan. Tentu kita ajak memakai GERAI OK OCE, namun harus ambil barang dari PD Pasar Jaya," katanya.

Baca juga artikel terkait PROGRAM OK OCE atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Muhammad Akbar Wijaya