Rumsfeld, Penjahat Perang AS, Mati Tanpa Pernah Diadili di Den Haag

Oleh: Sekar Kinasih - 8 Juli 2021
Dibaca Normal 6 menit
Donald Henry Rumsfeld, mantan Menteri Pertahanan AS, meninggal dunia.
tirto.id - Donald Henry Rumsfeld, Menteri Pertahanan Amerika Serikat di era Presiden Gerald Ford (1975-1977) dan George W. Bush (2001-2006), bertanggung jawab terhadap strategi Perang Dingin dan invasi Afganistan serta Irak atas nama perang terhadap terorisme, meninggal dunia di kediamannya di Taos, New Mexico, 29 Juni 2021 pada usia 88 tahun. Keith Urbahn, juru bicara keluarga, mengatakan penyebab kematian Rumsfeld adalah multiple myeloma.

Rumsfeld menyatakan perang terhadap terorisme saat menjabat di periode kedua. Namun perhatiannya terhadap terorisme muncul sejak beberapa dekade sebelumnya. Dikutip dari autobiografi berjudul Known and Unknown: A Memoir (2011), dalam pidato saat menerima penghargaan George Catlett Marshall Medal dari Asosiasi Militer AS pada 17 Oktober 1984, Rumsfeld mengatakan, “Terorisme bukanlah [kejadian] acak maupun kerjaan orang gila yang terisolasi. Alih-alih, [terorisme] disponsori oleh bangsa-bangsa yang menggunakannya sebagai unsur utama dalam kebijakan luar negeri mereka.”

Isi pidato Rumsfeld dilatarbelakangi oleh serangkaian aksi teror dari grup-grup militan yang menyeruak pada paruh pertama dekade 1980-an. Di Lebanon, kantor Kedutaan Besar dan barak Angkatan Laut AS jadi sasaran pengeboman, sementara intelijen dan warga sipil AS jadi korban penculikan. Pengeboman juga terjadi di Kedubes AS di Kuwait, di samping aksi pembajakan pesawat. Selain itu, sempat terjadi percobaan pembunuhan menggunakan bom terhadap Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, oleh Irish Republican Army.

Sepanjang 1983-84, Rumsfeld menjadi utusan khusus pemerintahan Ronald Reagan untuk kawasan Timur Tengah. Tugasnya adalah mendorong penyelesaian perang sipil di Lebanon dan konflik Arab-Israel. Selama itu, Rumsfeld berusaha menyelami pergolakan politik di Timur Tengah sembari menemui tokoh-tokoh besar Arab seperti Hosni Mubarak dari Mesir, Amin Gemayel dari Lebanon, sampai Saddam Hussein dari Irak.

Terlepas dari usahanya tidak disambut hangat oleh bangsa-bangsa Arab dan Israel dan pengaruh kebijakan AS di Lebanon mulai luntur, pengalaman singkat tersebut menimbulkan kesan mendalam baginya tentang ancaman dari terorisme. Masih dikutip dari memoarnya, Rumsfeld percaya bahwa kiat sukses untuk menghadapi teroris adalah tidak sekadar melindungi diri, namun juga “menggiring pertempuran kepada mereka.” Menurut Rumsfeld, selain mengejar para teroris, penting juga memburu rezim yang menampung dan menyokong mereka.

Singkatnya, seperti ditulis Rumsfeld, “Pertahanan terbaik adalah serangan yang bagus.”


Rumsfeld lahir di Chicago, Illinois, pada 1932. Setelah lulus pendidikan ilmu politik di Princeton, ia bekerja sebagai pilot dan instruktur penerbangan di Angkatan Laut AS.

Perjalanannya sebagai seorang Republikan dimulai pada usia 30, ketika terpilih sebagai anggota DPR. Selama jadi anggota dewan, Rumsfeld menyuarakan dukungan terhadap Perang Vietnam yang ditentang keras di dalam negeri, terutama oleh anak-anak muda dengan slogan populer: 'make love, not war'.

Pada 1969, Rumsfeld melepas jabatan di DPR untuk membantu administrasi Presiden Richard M. Nixon merancang program ekonomi. Setelah Nixon lengser karena skandal Watergate, Rumsfeld direkrut sebagai kepala staf Presiden Gerard Ford—kelak diangkat sebagai Menteri Pertahanan sampai administrasi Ford berakhir Januari 1977. Kala itu, Rumsfeld mencatat sejarah sebagai Menteri Pertahanan termuda dalam sejarah AS—usianya baru 43 tahun waktu itu.

Fokusnya selama menjabat 14 bulan adalah memperbarui persenjataan untuk menyamai alutsista Uni Soviet. Oleh karena itu Rumsfeld berusaha menambah anggaran belanja kementerian yang cenderung turun sejak pertengahan 1950-an. Agenda ini tersandung oleh pesan kampanye kandidat capres Demokrat, Jimmy Carter, yang menyerukan bahwa anggaran Kementerian Pertahanan terlalu besar.

Setelah Ford kalah dari Carter dalam Pemilihan Presiden 1977, Rumsfeld memutuskan untuk absen dari dunia politik. Sampai dekade 1990-an, Rumsfeld terjun ke dunia bisnis sebagai CEO untuk pabrik pemanis buatan dan alat elektronik, kemudian sebagai penasihat perusahaan perbankan dan direktur perusahaan biofarmasi.

Di sela-sela aktivitas bisnis inilah ia sempat bekerja sebentar sebagai utusan pemerintahan Presiden Reagan di Timur Tengah pada awal 1980-an.

Pada awal masa jabatan di era Presiden Bush, Rumsfeld berambisi memodernisasi sistem pertahanan, salah satunya melalui pengembangan teknologi luar angkasa. Namun demikian, program ini cuma bertahan sebentar saja. Delapan bulan setelah dilantik, terjadi serangan Al-Qaeda. Semenjak itu fokusnya beralih ke strategi melawan terorisme melalui Perang Irak—sampai mengundurkan diri pada 2006.

Rumsfeld dalam Pusaran Perang Irak

Pandangan pada dekade 1980-an bahwa teroris disponsori oleh negara masih mengakar kuat di kepala Rumsfeld ketika menjabat Menteri Pertahanan (2001-2006) di bawah pemerintahan George W. Bush (2001-2009). Rumsfeld berperan mengarahkan aksi-aksi militer AS di Afganistan dan Irak sebagai respons terhadap serangan Al Qaeda ke World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 jiwa.

Satu bulan setelah serangan 9/11, pasukan AS—bersama militer Inggris—dikirim ke Afganistan untuk menggilas Al-Qaeda dan melengserkan pemerintahan Taliban. Koalisi menganggap Taliban menyediakan perlindungan bagi tersangka utama 9/11, Osama bin Laden dan Al-Qaeda. Pada pekan pertama Desember, misi membuahkan hasil: rezim Taliban runtuh. Menurut informasi yang diterima Rumsfeld, dalam invasi awal tersebut sebanyak 8-12 ribu pejuang Taliban dan Al-Qaeda meninggal, sementara korban jiwa di pihak militer AS mencapai 11 orang.


Joseph J. Collins dalam buku Lessons Encountered: Learning from the Long War (2015) mengatakan pada saat invasi ke Afganistan tengah dirancang, di lingkup Kementerian Pertahanan AS kala itu sudah mencuat spekulasi liar bahwa Saddam Hussein dan pemerintahan Irak juga berperan sebagai sponsor Al-Qaeda. Wakil Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz termasuk salah satu yang kerap mengungkit upaya untuk menyerang Irak.

Akhirnya, pada November, Presiden Bush memerintahkan Rumsfeld untuk meninjau potensi rencana invasi ke Irak.

Terlepas dari itu, melansir temuan koresponden David Martin untuk CBS News, enam jam pasca 9/11 Rumsfeld sebenarnya sudah punya gagasan untuk menyasar Irak. Dalam kertas memo yang ditujukan untuk para ajudannya—kerap disebut sebagai 'snowflakes—serpihan salju' disebutkan bahwa AS tidak hanya perlu memburu Osama bin Laden, tetapi juga Saddam Husein, meski tak ada bukti yang menghubungkannya dengan serangan 9/11.

Sejak 2002, Presiden Bush, Wapres Dick Cheney, Rumsfeld, dan Wolfowitz kerap menyampaikan sejumlah pernyataan yang mengaitkan dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal Irak dengan jaringan terorisme yang mungkin disokongnya. Rumsfeld bahkan mengklaim tahu lokasi senjata tersebut.

Praduga senjata pemusnah massal dan relasi dengan teroris menjadi justifikasi administrasi Bush untuk memulai invasi Irak pada 20 Maret 2003. Setahun kemudian sebenarnya Irak telah disimpulkan tidak memiliki senjata kimiawi atau biologis, bahkan tidak punya kapasitas menciptakan senjata nuklir, berdasarkan laporan dari tim investigasi Pentagon bernama Iraq Survey Group. Di samping itu, menurut temuan Pentagon pada 2008, tak didapati pula hubungan antara Saddam Hussein dan Al-Qaeda.

Laporan Pentagon berlawanan dengan pernyataan Rumsfeld yang pada 2002 pernah bilang bahwa badan intelijen CIA punya bukti tentang keberadaan Al-Qaeda di Irak. Selain itu, Rumsfeld juga pernah berbohong pada 21 September 2002 bahwa dia telah memperingati Saddam Husein tentang penggunaan senjata kimia pada pertemuan 1983, ketika diutus Ronald Reagan sebagai perwakilan AS di Timur Tengah. Rekaman kabel AS tentang pertemuan tersebut membuktikan bahwa Rumsfeld tak pernah mengatakan itu.

Rumsfeld juga disorot karena andilnya dalam penganiayaan yang dilakukan anggota militer AS terhadap tawanan perang di Penjara Abu Ghraib di Baghdad pada penghujung 2003. Menurut laporan dari Komite Layanan Militer Senat AS yang dirilis 2008, Rumsfeld juga pernah memberikan izin penggunaan teknik-teknik interogasi agresif di Kamp Detensi Teluk Guantanamo, Kuba, pada Desember 2002. Metode ini di antaranya menelanjangi tawanan, mengerahkan anjing penjaga untuk mengintimidasi, dan memaksa mereka berdiri selama berjam-jam.

“Saya berdiri selama 8-10 jam per hari. Kenapa berdiri [untuk para tahanan] harus dibatasi selama 4 jam?” kata Rumsfeld tentang metode penyiksaan.

Sutradara Errol Morris berusaha melihat sejauh mana Rumsfeld menjustifikasi aksi militernya dalam dokumenter berjudul The Unknown Known (2014). Film tentang karier politik Rumsfeld ini berisi wawancara dan pembacaan ratusan memo 'serpihan salju'. Salah satu momen menarik dalam film ini adalah ketika Rumsfeld membacakan catatan-catatan tentang otorisasi penyiksaan tawanan penjara. Di tengah pembacaan, ia terkejut, “Astaga—banyak juga, ya.”

Otorisasi tentang metode penyiksaan tersebut akhirnya dicabut enam pekan kemudian. Akan tetapi, menurut laporan Komite Layanan Militer, izin dari Rumsfeld sudah terlanjur diketahui luas di lingkup militer AS dan “memengaruhi serta berkontribusi pada penggunaan teknik-teknik kejam… di Afganistan dan Irak.”


Rumsfeld sempat mengajukan pengunduran diri dua kali kepada Presiden Bush, tapi selalu ditolak. Bush baru melepasnya pada Desember 2006. Kala itu, Republikan sudah kehilangan suara di Kongres, baik di tingkat DPR dan Senat, seiring kritisisme terhadap Perang Irak yang semakin menguat.

Sejumlah pensiunan jenderal yang terlibat dalam invasi awal di Afganistan dan Irak lebih vokal mengkritik Rumsfeld dan menyerukannya untuk mundur. Salah satu eks-jenderal, John Batiste, menuding Rumsfeld bersikap arogan. Sebelumnya, pada satu sesi wawancara dengan televisi PBS pada 2004, eks-Letjen Paul Van Riper pernah menyebut kesamaan Rumsfeld dengan Menhan AS era Perang Vietnam, Robert McNamara, adalah sama-sama “bebal dalam operasi militer, dalam strategi dan kebijakan.” Akibatnya mereka jadi suka memandang hina orang lain dan bersikap arogan, tak mau menerima pendapat berbeda.

Melansir New York Times April 2006, para eks-jenderal menentang Rumsfeld karena dia berupaya membangun kontrol sipil lebih kuat di Pentagon, di samping terkadang terlalu jauh terlbat dalam perencanaan perang—melebihi menteri-menteri pertahanan sebelumnya. Para eks-jenderal juga tampaknya prihatin terhadap korban jiwa militer AS di tengah ketidakpastian sampai kapan perang berkecamuk.

Saking jengahnya lingkaran Pentagon, sampai ada guyonan begini: apabila Rumsfeld diculik oleh teroris ketika tengah rapat bersama petinggi militer di dalam ruangan, tak satu pun jenderal mau bergerak untuk menyelamatkannya.

Tak Menyesal Meski Korban Berjatuhan

Invasi ke Irak menimbulkan kerugian sampai 800 miliar dolar AS. Tapi sebanyak apa pun uang, itu tetap saja tidak sepadan dengan jumlah korban jiwa yang melayang: 4.400 dari militer AS dan ratusan ribu warga Irak.

Selain itu, dampaknya pun global, demikian disampaikan Tallha Abdulrazaq, peneliti kajian strategi dan keamanan Timur Tengah di University of Exeter, Inggris di Al Jazeera. Demokratisasi yang dicita-citakan AS di Irak pasca lengsernya Saddam Hussein tidak terwujud. Malah ideologi ekstrem yang muncul: mulai dari gerakan Negara Islam (ISIS) sampai grup-grup militan yang berinduk pada Islamic Republic of Iran’s Revolutionary Guard Corps (IRGC). Lebih jauh lagi, kata Abdulrazaq, invasi AS ke Irak pada akhirnya ikut mendorong masifnya gelombang pengungsi dari Timur Tengah yang dalam satu-dua dekade ini bikin Eropa kewalahan, dan pada waktu yang sama menghidupkan kembali politik sayap kanan di benua biru.

Lalu, dengan segala akibat yang ditimbulkan, pernahkan Rumsfeld menyesali keputusan-keputusannya?

Dalam wawancara dengan Steve Inskeep dari radio NPR dan Diana Sawyer dari ABC News pada 2011, Rumsfeld memandang Perang Irak sepadan dengan usaha yang dikeluarkan, dan tak sekalipun mengucap kata sesal dalam peran-sertanya di Afganistan dan Irak. Meskipun demikian, kepada Sawyer, Rumsfeld mengakui betapa insiden di Abu Ghraib menjadi “noda” bagi AS.

Dalam memoar Known and Unknown (2011), Rumsfeld bersikukuh bahwa, “Membersihkan wilayah [Irak dan Timur Tengah] dari rezim brutal Saddam sudah menciptakan dunia yang lebih stabil dan aman.” Sementara dalam cuplikan The Unknown Known (2014), ketika ditanya apakah invasi ke Irak seharusnya tidak terjadi karena tidak ditemukannya senjata pemusnah massal di sana, Rumsfeld merespons, “Saya kira waktu akan menjawabnya.”

Dokumenter The Unknown Known (2014) juga tidak menimbulkan mea culpa—momen penyesalan atau permintaan maaf, sebagaimana diutarakan Menteri Pertahanan era Kennedy dan Lyndon (1961-68), Robert McNamara, terkait Perang Vietnam. Ungkapan penyesalan itu pernah McNamara sampaikan dalam film dokumenter tentangnya yang dibuat Morris pada 2003, The Fog of War.

Ringkasnya, Rumsfeld memang tak pernah menyesali perbuatannya. Yang paling menyedihkan dari itu semua: ia tak sempat diadili sebagai penjahat perang di Den Haag, meski kasus penyiksaan di Abu Ghraib sudah diajukan ke Pengadilan Kejahatan Internasional.


Infografik Donald Henry Rumsfeld
Infografik Donald Henry Rumsfeld 9 Juli 1932-29 Juni 2021. tirto.id/Fuad


Beberapa hari setelah meninggal, muncul berbagai obituari untuk Rumsfeld dari media arus utama AS, yang berusaha mencitrakan perjalanan hidupnya secara berimbang. Washington Post menyebutnya sebagai figur “berpengaruh tapi kontroversial”. New York Times memujinya sebagai seorang “pejuang garang” yang mau melawan musuh-musuh di kabinet dan ortodoksi militer.

Jon Allsop di Columbia Journalism Review mengatakan “obituari figur-figur politik sering bersifat menjilat”, demikian pula tulisan-tulisan tentang Rumsfeld, karena terkait dengan penghormatan media AS terhadap orang-orang besar dan dorongan kultural untuk tidak menjelek-jelekkan mereka yang sudah meninggal.

Di balik itu semua, Allsop menekankan bahwa konsekuensi dari perang-perang yang disokong Rumsfeld dapat ditemui dalam konten-konten berita hari ini. Maka kematiannya perlu dijadikan pengingat akan kebijakan-kebijakan buruk yang menimbulkan penderitaan bagi rakyat Irak dan Afganistan sampai sekarang.

Baca juga artikel terkait INVASI AS atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Politik)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino
DarkLight