Rivalitas Juventus-Napoli di Antara Politik Lokalisme

Infografik Rivalitas Tiada Akhir
gonzalo higuain [foto/www.foxsports.com]
Oleh: Faisal Irfani - 8 September 2019
Dibaca Normal 5 menit
Napoli, klub asal Selatan, siap mengganyang segala bentuk kemapanan yang dipunyai klub raksasa asal Turin (dan utara): Juventus.
tirto.id - Sudah berapa kali Anda mendengar pernyataan bahwa sepakbola bukan semata urusan menang atau kalah di lapangan? Mungkin Anda justru telah bosan mendengar hal tersebut. Akan tetapi, faktanya sepakbola memang tak bisa berdiri sebagai entitas tunggal. Ia diikuti berbagai fenomena yang mencakup ekonomi, sosial, maupun politik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Di Italia, gambaran itu tersaji dengan begitu sempurna melalui rivalitas Juventus dan Napoli. Kedua klub tersebut tak cuma bertarung mengenai siapa yang digdaya di rumput hijau atau memperebutkan status sebagai klub besar, melainkan juga bagaimana menancapkan pengaruh politisnya di antara para loyalis.

Ingatan paling segar yang menggambarkan betapa panasnya perseteruan kedua tim tersebut terjadi ketika Gonzalo Higuain memutuskan menerima pinangan dari Juventus pada 2017 lalu. Sejak didatangkan dari Real Madrid pada 2014, Higuain sukses mencetak 91 gol dalam 146 laga—torehan yang segera membuatnya didapuk sebagai idola tifosi Partenopei.

Namun, kepindahan Higuain ke Juventus dengan mahar sebesar 94 juta euro (sekitar Rp1,361 triliun) telah mengubah kecintaan itu menjadi kebencian yang tak termaafkan. Beberapa tifosi, catat The New York Times, menunjukkan kegeraman mereka dengan membakar jersey striker asal Argentina tersebut. Sementara lainnya ada yang membuang ke selokan, tempat sampah, hingga mencoretinya dengan kalimat “marcio sporco traditore” alias: pengkhianat yang kotor.

“Juventus memiliki persaingan dengan banyak klub. Tapi, dengan Napoli mungkin lebih intens,” ungkap José Altafini, mantan pemain Napoli (1965-1972). “Kepindahan Higuain ke Juventus seperti menambahkan bahan bakar ke api [persaingan itu].”


Si Kaya Lawan si Miskin

“Juve memiliki Maserati, FIAT, Ferrari, dan satu abad sejarah di belakang mereka,” tegas Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis. “Kami tidak memiliki sejarah Juventus. Tapi, citra Napoli kuat karena Neapolitans adalah protagonis sejati di Italia.”

Rivalitas Juventus-Napoli punya dimensi yang luas: ia tak sekadar berbicara tentang urusan bola, tapi juga merefleksikan kondisi sosial-politik di dalamnya. Refleksi tersebut terlihat makin tajam ketika dua entitas yang terlibat rivalitas ini menggambarkan wajah yang sama sekali berbeda.

Dari segi geografis, misalnya, Juventus terletak di utara, sementara Napoli berada di selatan—di bawah kaki Gunung Vesuvius. Kawasan utara merupakan daerah yang bergelimang kemakmuran sebab di sana berdiri pusat industri seperti FIAT. Selain itu, koneksi dengan keluarga kerajaan Italia dan elit pemerintah menjadi faktor keistimewaan lain yang dipunyai Turin.

Berbeda dengan Turin, Naples adalah wilayah yang kumuh, miskin, dan tak memiliki privilise sebagaimana yang dimiliki kota-kota di utara. Di kawasan tersebut, pemandangan yang jelas terlihat yaitu pengangguran yang tinggi, di samping pula angka kriminalitas yang tak terkendali.

Perbedaan yang kontras tersebut jelas berimbas dengan stereotip yang melekat pada keduanya. Wilayah utara, yang dihuni Juventus, identik dengan orang-orang kaya, kelas menengah, dan—tentu saja—golongan ningrat. Sebaliknya, kawasan selatan dianggap sebagai sarang bandit, kriminal, hingga pengedar narkoba.

Situasi tersebut tak pelak memunculkan companilismo atau yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti semangat lokalisme. Lucas Hodges-Ramon, dalam artikelnya di Gentleman Ultra berjudul “Juventus vs. Napoli: A Tale of Italy’s Regional Divide” (2016) menyebut bahwa setiap kali Juventus dan Napoli bertanding, identitas regional semacam itu akan selalu ditekankan.

Apa yang dialami oleh Juventus-Napoli pada kenyataannya juga termanifestasi di seluruh stadion Italia, terutama karena companilismo menjadi salah satu penopang gerak ultras hingga membentuk semacam identitas kolektif di antara mereka.

Carlo Podaliri dan Calro Balestri dalam “The Ultras, Racism and Football Culture in Italy” (1998) menjelaskan secara harfiah bahwa companilismo berarti lonceng menara gereja. Sebagaimana wujudnya, lonceng tersebut menjadi simbol visual paling menonjol yang menggambarkan komunitas lokal.

Sama seperti lonceng, klub sepakbola—seiring waktu—juga punya kedudukan serupa: ia melambangkan citra suatu kota tertentu. Hal itu kemudian turut berkontribusi dalam terbentuknya identitas politik kelokalan yang lantas menyusun interaksi para penggemar sepakbola di seluruh Italia.

Mark Doidge dalam “The Italian Ultras: From Local Divisions to National Co-Operation” (PDF, 2014) menjelaskan bahwa companilismo memastikan suatu kota menjadi ‘ibu negara’ dalam skala yang lebih kecil. Imbasnya yakni muncul sikap ‘kebanggaan’ di antara masyarakat daerah tertentu dan, tak jarang, memandang pihak di luar lingkungannya lebih rendah.

Hodges-Ramon, masih dalam tulisannya di Gentleman Ultra, menerangkan identitas lokal di Italia punya akar sejarah yang panjang. Sebelum risorgimento—gerakan ideologis yang membantu membangkitkan kesadaran nasional di kalangan orang-orang Italia—muncul dan memuncak dalam peristiwa penyatuan resmi Kerajaan Italia pada 1861, semenanjung Italia adalah wilayah yang terkotak-kotak.

Setiap identitas kolektif didefinisikan dengan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya, terutama selama era Renaissance, ketika daerah-daerah seperti Florence, Venice, dan Milan berjuang untuk kedaulatannya sendiri di kawasan semenanjung. Pendeknya, kesadaran masyarakat melihat Italia sebagai sebuah bangsa belum ada.

Pembagian tersebut makin diperkuat oleh partai politik macam Lega Nord (Liga Utara) yang federalis, separatis, sekaligus sayap kanan, semua konsisten menyerang gagasan unifikasi Italia. Klaimnya: penyatuan Italia tak akan terwujud sebab wilayah Selatan hanya akan jadi beban negara. Dalam implementasinya, Lega Nord getol mendorong serta mengadvokasi pemberian otonomi daerah yang luas dan besar.

Jejak-jejak ini masih terasa sampai sekarang hingga merembet ke rumput hijau. Stadion lalu menjadi arena saling risak kedua kubu: mereka yang berada di utara (Juventus) dan selatan (Napoli).

Tifosi Juventus, misalnya, diejek dengan "gobbi" (bungkuk), merujuk pada sebagian besar masyarakatnya yang bekerja di FIAT, yang notabene milik keluarga Agnelli. Sedangkan orang-orang utara melabeli masyarakat di selatan dengan “terroni”: sebuah istilah merendahkan yang secara kasar dapat diterjemahkan sebagai “petani”.

Implikasi saling ejek berdasarkan teritori ini akhirnya meluas; dipraktikkan oleh pendukung lainnya serta menjadi tradisi yang lazim dijumpai di kala pertandingan liga. FIGC (PSSI-nya Italia) pun ambil sikap: pada 2013 mereka akan menghukum siapa saja yang masih menyuarakan ejekan berdasarkan kedaerahan.

Hukumannya sama seperti UEFA menghukum perilaku rasisme: menutup sebagian maupun seluruh stadion dari kehadiran penonton.

Setahun berselang, 2014, aturan ini direvisi. Ejekan berdasarkan teritori hanya dihukum dengan pembayaran denda, selaras dengan menghidupkan flare hingga nyanyian cabul dan provokatif. Namun, revisi itu tak menghentikan kritik yang kadung bermunculan.

Para pengkritik, seperti penonton hingga petinggi klub, berpendapat saling ejek berdasarkan daerah adalah bagian dari tradisi berekspresi dalam kultur sosial-politik sepakbola Italia.


Disulut Persaingan Maradona vs Platini

Di atas rumput, tensi panas Juventus-Napolis (sempat) direpresentasikan melalui pertarungan antara Michel Platini dan Diego Maradona.

Sebagaimana diketahui, Liga Italia dekade 1980-an (hingga awal 2000) adalah liga yang bergelimang bintang. Hampir semua pemain tenar di masa itu, Anda bisa sebut Zico, Passarella, Van Basten, hingga Gullit, merumput di Italia dan menjadikan kompetisi di sana begitu populer di mata dunia.

Kedatangan Platini ke Juventus dari Saint-Etienne, pada tahun 1982, menambah kedahsyatan Serie A. Tak hanya itu, Platini, di bawah komando Giovani Trapattoni, mampu membawa Juventus berjaya dengan menggondol berbagai trofi, baik lokal hingga internasional.

Kehebatan Juventus lambat laun memicu perlawanan di antara klub-klub lainnya, tak terkecuali Napoli. Dua tahun usai kedatangan Platini, Napoli memboyong satu nama yang kelak ditahbiskan jadi pemain terhebat sepanjang masa: Diego Armando Maradona.

Oleh sebagian besar masyarakat Naples, kehadiran Maradona disambut dengan gegap gempita. Harapan seketika muncul di jalan-jalan kota yang sempit dan kumuh. Bahkan, saking antusiasnya, muncul sebuah anekdot yang berbunyi: “Tak mengapa kita kurang rumah, bus, sekolah, pekerjaan, maupun sanitasi. Karena yang penting kita memiliki Maradona!”.

Harapan masyarakat Naples kepada Maradona memang beralasan. Pada era itu, seperti ditulis Kris Voakes dalam “How Napoli-Juventus Symbolises the Italian Cultural Divide Between North & South” yang terbit di Goal (2013), sepakbola Italia didominasi klub-klub di wilayah utara (Juventus, Inter, dan AC Milan). Sementara klub-klub selatan (Napoli, AS Roma, dan Lazio) cuma jadi penggembira.

Kedatangan Maradona mengubah konstelasi persaingan yang ada. Selama tujuh tahun bermain di Napoli, Maradona sukses menempatkan klub ini dalam peta klub-klub papan atas. Menjelang akhir 1980-an, Napoli bahkan sukses mengganyang dominasi Juventus dengan trofi scudetto dan Piala UEFA.

Kala itu, sinar matahari seperti terbit dari selatan dan kota berpesta seperti belum pernah terjadi sebelumnya.

Sempat Surut Lalu Berlanjut

Dalam konteks rivalitas Juventus-Napoli, kehadiran Maradona dan Platini merupakan representasi yang tepat untuk menggambarkan segala citra dari dua entitas tersebut.

Maradona adalah pesepakbola yang lahir dari keluarga miskin di Villa Fiorito, besar di jalanan dan menjadikan bola sebagai satu-satunya harapan untuk membalikkan hidup. Ini sejalan dengan realitas di Napoli yang dipenuhi kenestapaan: kemiskinan, kriminalitas, sampai narkoba. Sepakbola menjadi ruang eskapisme yang ditunggu-tunggu kedatangannya.

Sementara Platini merupakan sebaliknya. Ia berasal dari kelas menengah Perancis yang menempatkan sepakbola sebagai suatu keindahan tanpa tanding. Sepakbola, bagi Platini, adalah cara untuk memoles personanya. Ia bermain dengan elegan, menawan, dan bermacam perhitungan lainnya. Apa yang dibawa Platini dipandang sesuai dengan karakteristik orang-orang Turin yang serba mewah dan mapan.

“Jika Platini adalah kecerdasan dalam sepakbola yang dipersonifikasikan, Maradona adalah jenius sepakbola yang lahir dari naluri murninya. Begitulah bakatnya yang luar biasa sehingga orang-orang jarang kecewa ketika pergi ke Naples untuk melihatnya bermain. Hubungannya dengan bola, kendalinya, keseimbangan yang absurd, maupun kemampuan menembaknya: semua menakjubkan,” demikian tulis Paddy Agnew dalam “The Greatness of Platini and Maradona Stood Out” yang tayang di Irish Times (1999).

Rivalitas Juventus-Napoli mulai goyah sejak Gli Azzurri dihantam kebangkrutan pada awal 1990-an dan butuh waktu lama untuk kembali bangkit. Terlebih, sang junjungan, Maradona, juga tak bisa selamanya diandalkan karena ia mulai disibukkan oleh kecanduannya terhadap narkoba. Alhasil, harapan yang semula menyelimuti seluruh kota Naples berganti dengan awan kelabu.



Pertarungan panas antara dua klub baru muncul lagi dalam beberapa tahun belakangan setelah Juventus mampu melewati badai bernama calciopoli dan kondisi finansial Napoli mulai membaik. Hanya saja, Bianconeri hingga kini masih kelewat dominan hingga membuat I Partenopei selalu jadi tim nomor dua.

Kendati demikian, bara rivalitas itu dipastikan akan tetap menyala. Sebab kini, Maurizio Sarri, pelatih yang membawa Napoli merebut status klub raksasa sekaligus sosok yang memoles kehebatan Higuain di Serie A, sekarang menangani Juventus.

Dengan kekalahan menyakitkan yang diderita Napoli pada pekan kedua Serie A 2019/2020 kala bertandang di Allianz Stadium, Minggu (01/9/2019) lalu, bisa dibayangkan seperti apa nanti panasnya situasi di San Paolo ketika mereka gantian menjadi tuan rumah.

Baca juga artikel terkait JUVENTUS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight