Ribuan Petani Garam Ganti Profesi Jadi Buruh Kasar

Oleh: Addi M Idhom - 30 Juli 2017
Dibaca Normal 1 menit
Ribuan petani garam di Indonesia telah berganti profesi menjadi buruh kasar dalam lima tahun terakhir. Anomali cuaca terus memperburuk hasil produksi tambak garam.
tirto.id - Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati Romica menyatakan, akibat produksi garam tersendat dalam beberapa tahun terakhir, ribuan petani garam di Indonesia beralih profesi menjadi buruh kasar.

Dia mencatat, berdasar informasi Pusat Data dan Informasi Kiara, dalam lima tahun terakhir jumlah petani tambak garam di Indonesia menurun drastis, yakni dari 30.668 jiwa pada tahun 2012 menjadi 21.050 jiwa di 2016. Susan menuding kebijakan impor garam berimplikasi besar terhadap penurunan jumlah petani garam di Indonesia.

Penurunan itu diperkirakan bisa semakin parah sebab tahun ini muncul fenomena kemarau basah yang kerap menganggu panen garam. Karena itu, Susan mendesak pemerintah segera mencari solusi dengan membangunan produksi garam berbasis data kajian prediksi cuaca yang akurat.

"Jika permasalahan dasarnya tidak cepat diselesaikan (data prediksi cuaca), maka yang dirugikan adalah para petambak garam. Mereka akan terus terpuruk jika kemarau basah terus berkepanjangan," kata Susan pada Sabtu (29/7/2017) seperti dikutip Antara.

Di Kota Bekasi, Jawa Barat, pengusaha pengemasan garam mulai mengurangi jumlah pegawainya akibat kelangkaan pasokan garam halus dari sejumlah daerah penghasil.

"Garam halus kami biasa dipasok dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, namun karena di sana kosong, kami beralih ke Makassar. Itu pun garam kasar," kata pengusaha garam halus bermerk "Agung Sebayu", Ratih (42), di Bekasi, pada Sabtu kemarin.

Kegiatan usaha pengemasan garam di Kampung Bekasi Jati RT01/RW26, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, telah berjalan sejak sembilan tahun lalu. Ratih selama ini mengerahkan enam pegawainya untuk mengemas garam dan tujuh pegawai distribusi ke sejumlah warung di Kota Bekasi.

"Mesin pengemasan garam halus saya sudah tidak terpakai. Saya juga sudah mengurangi pegawai yang mengemas garam menjadi dua orang dan yang mengirim ke warung jadi empat orang," kata Ratih.

Menurut dia, kelangkaan garam halus di daerah Pati karena para petani di sana mengalami gagal panen, sementara pasokan dari daerah Makassar juga terbatas jumlahnya. "Di Pati tidak ada panen, di sana hujan terus," kata dia.

Kondisi itu pun membuat harga garam kasar di Kota Bekasi mengalami kenaikan harga cukup signifikan dari situasi normal. "Dari Rp75 ribu per kwintal, sekarang sudah Rp275 ribu per kwintal," katanya.

Kemarau basah pada tahun ini memang menurunkan jumlah produksi garam di sejumlah daerah sumber pasokan komoditas ini. Pada pekan lalu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan produksi garam di daerahnya terus merosor dalam 1-2 tahun belakangan akibat cuaca buruk. Di Jawa Timur, menurut dia, produksi garam bisa mencapai 174 ribu ton per-bulan apabila cuaca stabil cerah.

"Karena ini terlalu banyak hujan dan sering kondisinya mendung, (produksi garam) turun menjadi 123 ribu ton, sehingga minus," kata Soekarwo di Tulungagung, Jumat (21/7/2017).

Akibat anomali cuaca pada tahun ini, produksi garam di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga merosot. Data Dinas Kelautan dan Perikanan NTB menyebutkan produksi garam rakyat anjlok dari angka 178.605 ton pada 2015 menjadi hanya 24.307 ton tahun 2016 akibat anomali cuaca.

Baca juga artikel terkait GARAM atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Addi M Idhom
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom
DarkLight