Pahlawan Nasional 2020

Raden Mattaher, Perlawanan Singo Kumpeh yang Merepotkan Belanda

Header Raden Mattaher. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 12 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Raden Mattaher adalah salah satu panglima Sultan Thaha dalam perlawanan terhadap Belanda di Jambi. Ia gugur dalam sebuah penyergapan pada 1907.
Pada awal abad ke-20, Jambi bergolak. Kaum feodal lokal bentrok dengan pemerintah kolonial. Belanda kemudian mengirimkan sejumlah pasukan. P van Meel dan kawan-kawan dalam Gedenschrift Koninklijk Nederlands Indische Leger 1830-1950 (1990:67) mencatat, pada tahun 1901 satu ekspedisi militer KNIL dikirim ke Jambi. Dua tahun kemudian, dikirim pula satu ekspedisi militer KNIL ke Kerinci.

KNIL adalah angkatan perang yang serdadu-serdadu rendahannya sebagian besar adalah orang-orang Jawa, Ambon, Manado, dan suku-suku di Indonesia lainnya.

Seperti Aceh, Bali, dan tanah Batak, Jambi baru bisa ditaklukkan Belanda setelah tahun 1900. Salah seorang tokoh perlawanan Jambi adalah Sultan Thaha. Dan salah satu panglimanya yang terkenal adalah Raden Muhammad Taher alias Raden Mattaher.

"Dia (Raden Mattaher) seorang Panglima Sultan Thaha yang terkenal dan paling ditakuti oleh Belanda, berkali-kali terlibat dalam memimpin pertempuran hebat dalam beberapa front,” tulis Mardanas Safwan dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan Sultan Thaha (1976).

Sementara dalam Sejarah Jambi dari Masa ke Masa (1976:46), Raden Mattaher mendapat julukan Singo Kumpeh karena terkenal ketangkasannya dalam perang Kumpeh.

Setelah Sultan Thaha wafat pada 1903, perlawanan terhadap pemerintah kolonial diteruskan oleh Raden Mattaher. Seperti umumnya gerakan perlawanan terhadap Belanda, kelompok Raden Mattaher disebut sebagai kelompok pengacau keamanan. Untuk memburunya, pemerintah kolonial membutuhkan pasukan anti gerilya yaitu Marsose, yang punya reputasi tak kenal ampun alias kejam terhadap para "pemberontak".


Perang antara kelompok Raden Mattaher, atau orang Jambi secara luas, dengan pemerintah kolonial Belanda diberitakan sejumlah surat kabar kolonial.

Mengutip dari Javasche Courant, Soerabaijasch Handelsblad (06/06/1903) mengabarkan bahwa patroli Belanda di bawah pimpinan Letnan Eindhoven di Loeboek Kepajang dalam pencarian Mattaher, harus mundur karena sikap ragu-ragu tentara KNIL yang berasal dari Jawa.

Serdadu-serdadu KNIL berantakan kala itu. Anak buah Raden Mattaher berhasil membunuh salah satu tentara Belanda. Sementara warga Jambi yang menjadi sekutu Belanda rumahnya dijarah.

Pada awal tahun 1905, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (16/01/1905) mengutip dari Lokomotief, memberitakan kontak senjata antara aparat kolonial dengan kelompok perlawanan Mattaher. Insiden itu terjadi di Mawan, wilayah Toengkap, yang mengakibatkan seorang seorang serdadu KNIL asal Ambon terluka ringan. Setelah itu, patroli tentara kolonial mendapat kabar bahwa kelompok Raden Mattaher bergerak ke Kilis.

Sampai tahun 1905, Raden Mattaher terus bergerilya dan dikejar-kejar tentara pemerintah.

Pada pertengahan 1907, koran Het Vaderland (22/08/1907) memberitakan bahwa pada 23 Juli 1907, sebuah patroli penduduk Muara Tambesi telah menangkap Oemar, seorang anggota kelompok Raden Mattaher, di dekat Troesan Raden. Seorang pria dari kelompok patroli itu terluka. Lalu patroli lain yang terdiri dari 20 orang pimpinan Letnan Spandaw, menemukan tempat persembunyian Raden Mattaher di Hulu Kahidupan.

Meski demikian, Raden Mattaher dapat meloloskan diri dengan meninggalkan dua senjata api kuno. Tiga perempuan dan dua anak ditahan dalam penggerebekan itu. De Locomotief (13/08/1907) menyebut bahwa sekitar awal Agustus, istri Raden Seman, istri Raden Achmad, anak Raden Mattaher, dan seorang ibu, berhasil ditahan pemerintah kolonial. Menurut keterangan Residen Jambi, kelompok Raden Mattaher kemudian disergap oleh satu brigade Marsose.




Seorang opsir Belanda, De Haan, disebut Residen telah menangkap dua pria jahat, menangkap dua wanita dan seorang anak, menjarah empat senjata api dan senjata tajam.


Pada 1907, koran Telegraph (03/10/1907) mengabarkan bahwa sebuah patroli yang dipimpin oleh Letnan Geldorp menyerbu komplotan Raden Mattaher di Muara Jambi dan menewaskannya beserta enam orang pengikutnya.

Sementara menurut Mardanas Safwan, pada 7 September 1907 Raden Mattaher gugur dalam suatu pertempuran di Muara Kumpeh setelah melakukan perlawanan tidak kurang dari tujuh tahun terhadap Belanda. Tentang kematiannya, surat kabar Deli Courant (12/09/1938) menyampaikan sebuah cerita kematian Raden Mattaher ditangan Kaeng.

Setelah mendapat laporan tentang posisi Raden Mattaher sekitar pukul 8 malam tanggal 30 September 1907, sebuah patroli dari Jambi diberangkatkan dengan kekuatan 16 karabin. Kepala Kampung Gedang, Kemas Ngebei Posjo Joedo Kadir turut serta. Esoknya, pagi 1 Oktober 1907, pasukan patroli telah mengepung sebuah rumah, dan Kaeng melihat tiga orang akan meninggalkan rumah tersebut.

Raden Mattaher terdesak di dalam rumah. Dia pura-pura menyerah kepada Kepala Kampung Gedang, Kemas Kadir, lalu menyerangnya dengan sebilah keris yang tersembunyi dan melukai tangan Kemas Kadir. Raden Mattaher pun melawan Marsose dalam perkelahian. Namun Kaeng dengan cekatan menebas Raden Mattaher dengan kelewang. Raden Mattaher pun tewas bersama adiknya. Dalam peristiwa itu, empat pengikutnya juga ditangkap.

Kaeng adalah serdadu KNIL kelahiran Passo, Minahasa, 25 Mei 1873. Ia masuk dinas militer pada 1898. Pada 13 Juni 1907, Kaeng pernah dianugerahi lencana kehormatan oleh pemerintah kolonial atas keberanian dan kesetiaan. Atas jasanya membunuh Raden Mattaher, berdasarkan Koninklijk Besluit tanggal 8 September 1908, Kaeng dianugerahi salib besi sebagai Ridder der Militaire Willemsorde kelas empat.Terbunuhnya Raden Mattaher dianggap sebagai akhir dari perlawanan bersenjata di Jambi pada era kolonial.

Sementara pada Selasa (10/11/2020), dalam acara peringatan Hari Pahlawan, Presiden Joko Widodo memberi gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh, salah satunya Raden Mattaher bin Pangeran Kusen bin Adi.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight