Menuju konten utama

Preview Arsenal vs Manchester United: Adu Taktik Formasi 4-4-2

Arsenal dan Manchester United sama-sama menerapkan formasi 4-4-2 berlian saat melawan tim-tim besar. Apakah formasi itu akan kembali diterapkan di Emirates nanti?

Preview Arsenal vs Manchester United: Adu Taktik Formasi 4-4-2
Ballerin bersama rekannya di Arsenal melakukan selebrasi. twitter/@Arsenal

tirto.id - Bagi Arsenal dan Manchester United, membicarakan gelar Premier League musim 2018-2019 sama saja dengan mimpi di siang bolong. Gelar itu jarakanya amat jauh bagi mereka. Meski secara matematis masih mampu meraih gelar itu, Arsenal dan Manchester United -- yang sama-sama meraih 44 angka -- sudah tertinggal 18 angka dari Liverpool, sang pemuncak klasemen.

Liverpool baru sekali kalah pada musim ini. Anak asuh Jurgen Klopp itu juga tampil stabil. Jika secara ajaib mereka akhirnya tergelincir, masih ada Chelsea, Tottenham Hotspur, dan Manchester City yang harus dilewati oleh Arsenal maupun Setan Merah.

Maka, saat Arsenal dan Manchester United bertemu pada babak keempat Piala FA pada Sabtu (26/1/19) dini hari nanti, duel itu tentu bukan hanya perkara persaingan untuk menjadi tim terbaik dalam sejarah Piala FA, melainkan juga tentang satu-satunya gelar domestik yang paling realistis untuk mereka raih pada musim ini.

“Mereka adalah tim yang sangat berbahaya dan sedang dalam momen yang bagus,” kata Unai Emery, pelatih Arsenal, soal United. “Aku akan mencari starting line-up terbaik, karena melawan Manchester United, kami membutuhkan kualitas serta penampilan terbaik.”

Sementara itu, tak mau kalah dari Emery, Solskjaer juga akan menyiapkan pemain-pemain terbaiknya di Emirates nanti. Kenangannya saat masih menjadi pemain, setiap kali United bertemu Arsenal, bisa menjadi petunjuk.

“Pertandingan melawan Arsenal adalah pertempuran paling sengit yang kami (United) alami selama berada di Inggris,” kata Solskjaer, dilansir dari Guardian. "Mereka pernah meraih gelar ganda (1997-1998), kami pernah memenangkan tiga gelar (1998-1999), dan pertandingan sangat fantastis karena kita adalah dua tim teratas. Kami memilik tim yang hebat dan mereka memiliki tim yang sangat bagus."

Potensi 4-4-2 berlian vs 4-4-2 berlian

Sejauh ini formasi 4-4-2 berlian memang sudah jarang digunakan oleh tim-tim Inggris. Meski begitu, formasi itu barangkali akan menjadi penentu kemenangan antara Arsenal dan United.

Menurut Michael Cox, analis sepakbola asal Inggris, Arsenal tampil meyakinkan kala mengalahkan Chelsea 2-0 dalam gelaran Premier League akhir pekan lalu. Kala itu, secara mengejutkan, Unai Emery menerapkan formasi 4-4-2 berlian untuk pertama kalinya di Premier League musim ini. Formasi itu mempunyai tujuan spesifik: untuk merusak stabilitas lini tengah Chelsea.

“Setelah berulang kali kesulitan pada paruh pertama laga, Arsenal tampil bagus pada 20 menit pertama saat melawan Chelsea: menekan secara agresif dan melakukan serangan cepat secara langsung ke daerah pertahanan Chelsea. Aaron Ramsey mempunyai tugas untuk melakukan man-to-man marking terhadap Jorginho, yang membuatnya kesulitan untuk mendapatkan bola di awal laga, sementara Alexandre Lacazette dan Pierre-Emerick Aubameyang memperlihatkan kemauan untuk melakukan track-back dan menujukkan kombinasi berbahaya saat maju ke depan,” tulis Cox di ESPN.

Pendekatan Arsenal selama 20 menit pertama itu lantas membuat permainan Chelsea berantakan. Menurut catatan Whoscored, Arsenal sangat dominan dalam periode itu: 1 gol, 6 percobaan tembakan ke arah gawang, dan 50,2% tingkat penguasaan bola. Sementara itu, Chelsea hanya mampu melakukan 2 kali percobaan tembakan ke arah gawang dalam periode yang sama.

Chelsea akhirnya memang bangkit pada kedua. Tetapi, itu tak banyak menolong. Meski mereka unggul jauh dalam penguasaan bola, 35,7% berbanding 64,3%, mereka tak mampu mengejar ketertinggalan.

Sementara itu, formasi 4-4-2 berlian juga menjadi salah satu alasan kemenangan Manchester United atas Tottenham Hotspur pada 13 Januari 2019 lalu. United memang tidak menggunakan formasi itu secara terang-terangan, melainkan melalui peran yang diemban oleh Jesse Lingard. Kala itu, meski menjadi bagian dari trio penyerang United, terutama saat bertahan, Lingard seringkali berdiri di belakang Marchus Rashford serta Anthony Martial.

Peran Lingard itu kemudian merusak kinerja lini tengah Spurs. Saat pemain bertahan Spurs harus mengatasi kecepatan Rahsford dan Martial, keberadaan Lingard di posisi nomor 10 membuat gelandang-gelandang Spurs tak nyaman saat melakukan serangan. Alhasil, United pun dapat melakukan pendekatan taktiknya dengan lacar.

“Kami menyerang cepat dengan mengandalkan kecepatan. Jelas, gol Marcus Rashford sangat fantastis, tapi Anda harus tahu bahwa gol itu berawal dari intercept Jesse [Lingard], yang kemudian memberikan umpan ke arah Paul Pogba. Gol itu adalah salah satu alasan mengapa aku menyuruh Rashford dan Martial bermain melebar karena Jesse bisa menghubungkan serangan, bisa bergerak lebih ke belakang, sementara Rashford dan Martial lebih direct. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa aku memainkan Lingard seperti itu dan itu ternyata berhasil,” tutur Solkskjaer setelah pertandingan.

Meski Lingard kembali dimainkan di sisi kanan saat United mengalahkan Brighton 2-1 akhir pekan lalu, mengingat dahsyatnya lini tengah Arsenal saat melawan Chelsea, United mungkin tak mau kalah kuantitas pemain di lini tengah. Jika Arsenal kembali bermain dengan formasi 4-4-2 berlian, sementara United bermain dengan formasi 4-3-3, duel 4 vs 3 jelas tidak akan menguntungkan United. Maka, Lingard kembali bisa menjadi solusi untuk menambah kekuatan di lini tengah United. Dan saat itu terjadi akan ada duel formasi 4-4-2 yang sangat menarik untuk ditunggu di Emirates nanti.

Baca juga artikel terkait PIALA FA 2019 atau tulisan lainnya dari Renalto Setiawan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Abdul Aziz