Pertarungan Dua Raksasa Lapangan Hijau di Layar Kaca

Ilustrasi. FOTO/SHUTTERSTOCK
- 3 April 2016
Dibaca Normal 6 menit
Sepakbola tak bisa lepas dari penggunaan taktik dan formasi. Konami berhasil memberi kemudahan para gamers meracik tim dengan sekehendaknya. Gerakan pemain yang realistis, kontrol yang menyenangkan, penggunaan aplikasi taktik dan formasi, komentator yang membuat semangat, membuat WE bisa menyingkirkan FIFA meski hanya sementara. Namun Konami harus mundur teratur saat berbicara tentang lisensi.
tirto.id - Kaum adam yang masuk dalam kategori generasi Milenial tentunya tak asing dengan game Winning Eleven (WE). Apalagi jika dia seorang penggila sepakbola dan adiktif terhadap konsol game Play Station pertama yang booming pada akhir 1990-an.

Winning Eleven adalah bagian dari nostalagia itu. Memainkannya mengingatkan kita pada masa kecil atau remaja. Di Indonesia, WE memang lebih populer ketimbang game-game sepakbola lainnya. Tahun lalu, game ini berulang tahun ke-20.

Game yang dirilis perusahaan asal Jepang, Konami ini pertama kali dilempar ke publik Jepang pada 1995. Setelah sukses di dalam negeri, baru pada 1996 mereka mulai ekspansi ke luar negeri, khususnya ke benua Eropa dan Amerika Utara.

Misi mereka keluar dari Jepang hanya satu, menghentikan dominasi game FIFA buatan perusahaan asal Amerika Serikat, EA Sports yang menggurita dan merajai game sepakbola pada era 90-an. Upaya ini memang sukses besar.

Konami merilis game ini dengan nama berbeda di luar Jepang. Nama pertama yang pertama di lempar adalah Goal Storms pada 1996. Setahun kemudian, namanya berganti menjadi International Sports Soccer Pro (ISS Pro). Sony Play Station melansir, pada periode 1997-2000, ISS Pro jadi game sepak bola terfavorit di Asia, Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Hanya pasar Amerika Utara saja yang gagal dikuasai.

Kepada Technews, Hideki Kayakawa, CEO Konami mengakui bahwa salah satu game yang membesarkan Konami sampai sekarang adalah kejayaan WE pada periode-periode itu.

Membuat Game Sepakbola Lebih Realistis

Secara grafis, WE kalah jauh dari FIFA. Di saat FIFA sudah memakai grafis 3D dan lebih realis, tampilan WE masih kasar, didominasi pixel dan bentuk pemainnya kotak-kotak. Sulit membedakan pemain satu dengan lainnya.

Tapi banyak gamers lebih memilih WE karena gameplay-nya lebih realistis dimainkan. Dalam urusan menendang perlu adanya takaran saat memencet tombol, beda dengan FIFA yang ketika menendang pasti tepat sasaran, seolah sudah diatur layaknya robot.

Gerakan-gerakan WE pun lebih realistis saat mengocek atau mengoper. Terobosan besar dilakukan Konami dengan penggunaan empat tombol L-R di console stick PS yang pada waktu itu tak pernah dipakai pada game-game bertemakan olahraga.

Kombinasi tombol utama (X,o, △, □) dan empat tombol L-R membuat kesulitan lebih terasa. Pemakaian tombol L-R membuat fitur teknik permainan semakin banyak, seperti tembakan jarak jauh, loop ball, one-two, sprint dll. Komponen ini membuat game bisa melakukan trik-trik seperti pertandingan sepakbola aslinya.

Sepakbola tak bisa lepas dari penggunaan taktik dan formasi. Konami jeli dan jadi pioneer. Konami berhasil memberi kemudahan para gamers meracik tim dengan sekehendaknya. Para gamers bisa mengatur taktik dan formasi apa saja, memakai formasi 4-4-2, 4-3-3 atau 3-5-2.

Konami juga menginisiasi penggunaan peringkat pemain didasarkan pada statistik. Tiap-tiap pemain mempunyai nilai dari komponen speed, stamina, kick, pass, curve dan jump yang berbeda-beda. Angka-angka tiap individu ini tentu berpengaruh ke permainan.

Kemudahan ini seringkali membuat kita mengubah default yang ada. Bek kiri Brazil, Roberto Carlos mungkin jadi pesepakbola yang sering diubah posisinya, dari seorang bek jadi seorang striker karena dia punya speed dan shoot power mendekati angka sempurna, sembilan.

Saat WE Eleven berjaya di Indonesia, kita tentunya akrab dengan kata-kata “shuuto”, “wan cu”, “gorr gorr gorr,”. Kata-kata itu diteriakan sang komentator, Jon Kabira dengan penuh ekspresif dan semangat. Tak hanya menyebut nama pemain, komentator pun akan berekspresi saat momen-momen lain terjadi di lapangan, membuat kita serasa menyaksikan di televisi.

Gerakan pemain yang realistis, kontrol yang menyenangkan, penggunaan aplikasi taktik dan formasi, komentator yang membuat semangat, membuat WE bisa menyingkirkan FIFA, meski hanya sementara.

FIFA yang Enggan Bertarung

Dominasi WE semakin menguat saat Sony meluncurkan Sony Playstation 2 pada 2001. WE benar-benar mendominasi game sepakbola di konsol game ini. Tahun 2002, data Famitsu (majalah game terbesar di dunia yang berasal dari Jepang) memaparkan penjualan Pro Evolution Soccer 2 mencapai 3,792 juta copy. Angka itu menduduki peringkat kedua game terlaris setelah Pokemon.

Bagaimana dengan FIFA? Game buatan EA Sports ini hanya mampu 1,23 juta kopi. Itupun penjualan hanya terfokus di Inggris dan Kanada. Hasil ini sungguh mengagetkan mengingat pada tahun itu digelar Piala Dunia 2002. Sebagai game yang memiliki lisensi langsung dari FIFA, EA Sports gagal mengulang kesuksesan seperti Piala Dunia 1994 dan 1998, saat mereka jadi game olahraga terlaku di dunia.

Tren itu berlanjut ketika Pro Evolution Soccer 3 dilepas tahun 2003. Pasar Eropa berhasil mereka kuasai dengan penjualan lebih dari 2 juta copy dalam waktu singkat. Dalam beberapa tahun selanjutnya, dominasi ini tetap dilakukan dengan ketimpangan yang cukup jauh.

Jadi sebuah pertanyaan, kenapa EA Sports seolah mundur perlahan dan enggan bersaing dengan Konami di game sepakbola? Hal ini terjadi karena EA Sports mengerahkan sumber dayanya untuk fokus menjual game olahraga American Football berjudul Madden NFL. Game ini laku keras di Amerika Serikat dan selalu masuk 10 besar penjualan terbanyak di dekade 2000-an.

Pada periode itu, National Purchase Diary (NPD) mencatatkan penjualan game ini selalu di atas 50 juta dolar AS. Keuntungan ini belum ditambah game Need for Speed yang jadi juara di game bergenre balapan. Wajar jika untuk sementara waktu, EA Sports mundur selangkah melawan Konami.

“EA didn’t give a shit about FIFA,” ucapan Neil Thewarapperuma ini bukanlah basa-basi. Neil adalah marketing manager EA Sports untuk wilayah Eropa, dalam kurun waktu 1988 – 2000.

Dia tidak salah. Pada awal dekade 2000-an, EA tidak peduli tentang FIFA, atau sepak bola sama sekali. EA Sports tidak memiliki kepentingan dengan olahraga yang praktis tidak populer di negara asalnya. Sepakbola memang masih kalah tenar dengan Basket atau American Football.

EA Sports tampaknya terganggu dengan sikap Konami yang membajak Thiery Henry untuk dijadikan sampul PES 2005. Padahal sebelumnya, pemain Arsenal ini muncul di sampul FIFA 2004. Penghinaan itu diperparah lewat pernyataan Henry kepada media. “Saya mulai memainkan game Jepang ini sudah sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu."

Ini memicu reaksi di EA Sports. Vice Executive President, Bruce McMillan meminta tim inovasi di Kanada untuk segera mengejar ketertinggalan ini. Terlebih dia merasa kesal dengan keluhan sahabatnya, seorang pengusaha kaya asal Inggris, Bob Summerwood, yang mengaku FIFA jadi game yang membosankan.

Harus Segera Bangkit

Salah satu tindakan revolusioner Bruce adalah mengangkat software engineer, Gary Paterson. Gary adalah seorang penggemar WE. “Seluruh tim saya saat itu adalah penggemar Pro Evo,” katanya kepada The Sun.

Gary pun melontarkan pujian kepada Konami. "Mereka berinvestasi dalam game play – ketimbang marketing, dan hasilnya datang,” ucap Gary.

Jauh sebelum Gary masuk, FIFA sudah melakukan trik licik untuk menyaingi WE. Caranya dengan meniru semua konfigurasi tombol permainan WE. Pada game FIFA 2003, konfigurasi tombol yang dulunya default dan tak bisa diubah diganti oleh EA Sports jadi bisa diatur oleh gamers. Hal ini memudahkan para pecinta WE yang ingin bermain FIFA.

Sadar atau tidak EA Sports berhasil melakukan plagiat secara halus. Hampir 10 tahun cara lick ini mereka lakukan. Dan tanpa malu-malu puncaknya pada FIFA 2012 saat pertama kali bermain game ini, kita akan disodorkan pilihan ingin memakai konfigurasi tombol ala FIFA atau WE.

Sampai akhir dekade 2000-an, FIFA masih tak mampu membendung penjualan WE. Meski begitu kehadiran Gary Paterson membuat mereka berbenah. Gary membenahi fitur-fitur detail permainan seperti fans, pergerakan pemain, cuaca, dll.

Perubahan itu dimulai saat merilis FIFA 2007. Pada konsol PS2, PS3 dan XboX mereka mampu meraih angka 9/10 dari kajian yang dilakukan majalah game OPM, OXM dan Game Masters. Sebuah capaian bagus mengingat pada beberapa tahun sebelumnya nilai mereka hanya 5/10.

Data dari GFK Chart-Track, menyatakan FIFA 2007 berhasil jadi game paling laku di Inggris pada tahun itu. Hal ini berlanjut saat mereka mengeluarkan FIFA 2008.

Untuk kali pertama sejak tahun 2000, pasar Eropa berhasil direbut. FIFA 2008, laku hingga 4 juta copy, sedangkan PES 2008 hanya terjual separuhnya. Secara global, selisih penjualan semakin dikikis habis.

Puncaknya saat EA Sports merilis FIFA 2011. Penjualan game tersebut secara global mencapai 10,71 juta copy. PES hanya terjual 4,51 juta copy. Penyebab selisih yang besar ini karena FIFA memonopoli penjualan games dari semua genre di Eropa, hampir 30 persen. Tren dominasi di Eropa ini terjadi hingga sekarang.

Semakin ke sini, FIFA semakin berjaya. Pada 2014 lalu, penjualan FIFA bahkan mencapai 17,4 juta copy. FIFA kini jadi game unggulan EA Sports. Selain serius menggarap pemenuhan game play agar serealistis mungkin, EA Sports pun tak segan mengeluarkan biaya pemasaran hingga puluhan juta dolar AS. Hal yang dapat dimaklumi mengingat data VGChartz mencatatkan pendapatan mereka pada 2014, bisa mencapai 3,3 miliar dolar AS.

Massif-nya penjualan game FIFA tak lepas dari kebijakan EA Sports yang melayani berbagai multi-platform, mulai dari PS3, PSP, PS2, Nintendo Wii, Nintendo 3ds, XBoX 360, Xbox One dan Komputer PC. Sedangkan PES hanya fokus menjual bagi pengguna Sony Playstation saja.



Konami Tak Berkutik oleh Jejaring Blatter

Lisensi adalah momok menakutkan lain dari FIFA. Konami harus mundur teratur saat berbicara tentang lisensi. Penyebab FIFA begitu menggurita karena banyaknya klub dan liga yang telah mereka pegang lisensinya.

Pada FIFA 2016 saja tercatat ada 30 liga dan lebih dari 650 klub. Itu belum termasuk tim nasional baik timnas putra ataupun putri. Hampir seluruh liga-liga besar di Eropa dan Amerika sudah dipegang lisensinya oleh EA Sports. Wajar jika mereka digemari para gamers, karena pilihan klub yang semakin banyak.

Coba bandingkan dengan WE yang hanya memiliki sembilan liga. Untuk mengakalinya, WE membeli lisensi ketengan satu per satu ke tiap klub. Keunggulan WE adalah mereka memiliki lisensi turnamen Liga Champions, Europa League, Liga Champions Asia, dan Copa America.

Dominasi lisensi tak lepas dari kedekatan hubungan EA Sports dan lembaga sepakbola tertinggi di dunia, FIFA yang sudah terjalin 23 tahun lamanya. EA Sports-lah yang kali pertama menyadari pentingnya membeli lisensi untuk sebuah game. Kesuksesan membeli lisensi NHL ingin diulang di sepakbola. Dengan lisensi itu EA Sports bebas memakai nama pemain, stadion dan tim NHL untuk game mereka.

Pada 1993, Direktur Eksekutif, Matt Webster sengaja diterbangkan ke Zurich, Swiss guna mendatangi markas FIFA langsung. “Saat membahas nama game, muncul nama EA Soccer. Tapi jika merunut tradisi EA Sports, maka kami harus meminta izin terlebih dulu ke asosiasi resmi, dalam hal ini FIFA,” kata dia.

Kala itu, Webster berjumpa dengan Sekretaris Jendral FIFA, yang masih dijabat oleh Sepp Blatter. Setelah beberapa kali pertemuan, kesepakatan terjadi. Setelah Blatter terpilih jadi presiden FIFA, maka hubungan EA Sports dan FIFA semakin erat.

Kontrak selalu diperpanjang dan tak pernah putus. Tahun 2013 lalu, EA Sports sepakat melakukan hubungan jangka panjang hingga 2023. Posisi EA Sports yang termasuk dalam jejaring dari Blatter wajar membuat Konami kelabakan.

Di sisi lain, hubungan dengan Blatter ini juga membuat EA Sports selalu gagal mendapatkan lisensi UEFA Champions League. Keputusan Presiden UEFA, Michale Platini yang memberikan lisensi itu ke Konami tak lepas dari sisi politis. Semua tahu Platini adalah musuh dari Blatter.

Lepas dari dominasi kepemilikan lisensi, Konami kini sudah tertinggal jauh oleh EA Sports. Mengejarnya teramat sulit. Terlebih jika melihat kondisi internal Konami yang semrawut pasca ditinggal direktur produksi, Hideo Kojima, akhir tahun lalu.

Meski begitu Konami tetap berani bersaing dengan EA Sports. Banyak yang memuji tampilan grafis PES 2016 lebih baik ketimbang FIFA 16. Andai menilik dari sudut pandang seorang gamer dan jika harus memilih siapa yang terbaik WE atau FIFA, maka debat ini akan mengeraskan urat leher fans masing-masing.

Perdebatan ini akan kelar saat berbicara tentang uang. Para pendukung WE mau tak mau harus menggerutu dan mengelus dada. Ini adalah kado buruk bagi mereka yang baru saja merayakan 20th Anniversary game Winning Eleven.

Baca juga artikel terkait FIFA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis:

DarkLight