Penelitian Sebut Sikap Baik Dibawa Bayi Sejak Lahir

Oleh: Febriansyah - 26 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Anak-anak berperilaku baik mampu memperlihatkan penilaian moral pada usia lebih awal
tirto.id - Kita sering mendengar kutipan, bayi yang baru lahir mirip seperti kertas kosong. Dalam konteks ini, kita juga sepakat bahwa manusia dilahirkan sebagai makhluk amoral, sementara moralitas itu adalah materi yang bisa dipelajari.

Perdebatan tentang manusia dan moralitas sendiri telah terjadi berabad-abad lamanya. Dua pandangan yang terkenal diungkapkan oleh Thomas Hobbes dan Jean-Jacques Rousseau. Hobbes menggambarkan manusia sebagai ‘mahluk jahat' dan 'kejam' yang enggan hidup sengsara dan mati, oleh sebab itu mereka menciptakan aturan.

Sementara Rousseau secara terbuka mengkritiknya, ia berpendapat bahwa manusia akan lembut dan murni tanpa korupsi, keserakahan, dan ketidaksetaraan yang disebabkan oleh sistem kelas yang dipaksakan oleh masyarakat kita.

Sementara, fakta tentang nakal dan baiknya moral manusia dari lahir masih tidak terlalu jelas.

Terkait hal ini, penelitian psikologi perkembangan terbaru menunjukkan, anak-anak berperilaku baik mampu memperlihatkan penilaian moral pada usia lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Perilaku baik itu ditunjukkan dalam eksperimen terbaru yang berjudul Can Babies Distinguish Good and Bad Behaviour? | Babies: Their Wonderful Worldstudi.

Penelitian ini melibatkan beberapa bayi yang diajak untuk menonton pertunjukkan boneka. Konsepnya adalah bagaimana bayi-bayi itu nanti memilih boneka mana yang baik.

Konsepnya, terdapat tiga boneka, yaitu Bulat Merah, Segitiga Kuning dan Kotak Biru untuk dipilih. Kotak Biru adalah boneka jahat yang menghalangi perjalanan Bulat Merah (baik) di rel pertunjukkan. Tapi kemudian ditolong oleh Segitiga Kuning untuk mendorong bulat merah.

Setelah pertunjukkan selesai, bayi yang menonton bersama ibunya tadi disodorkan pilihan antara Segitiga Kuning dan Kotak Biru. Hasilnya, setiap bayi yang menonton selalu memilih Segitiga Kuning.

Adegan ini mereplikasi temuan sebuah penelitian dari Pusat Kognisi Bayi di Universitas Yale, yang lebih jauh membuktikan bahwa bayi memilih boneka karena tindakan yang mereka saksikan bukan karena variabel lain seperti preferensi bawaan atau keakraban dengan warna atau bentuk tertentu.

Hal ini diperkuat dengan alasan, ketika pertunjukan itu diputar ulang dengan menukar peran setiap boneka, bayi-bayi itu sebagian besar masih memilih boneka yang bertindak sebagai penolong, bukan berdasarkan preferensi warna saja.

Sebuah studi tahun 2017 dari Universitas Kyoto memiliki pendekatan dan temuan yang mirip dengan studi boneka, yang semakin memperkuat hasil dari eksperimen itu. Bayi-bayi berusia enam bulan diperlihatkan video yang menampilkan tiga karakter seperti Pacman. Tiga karakter itu masing-masing disebut 'Agen', 'Korban', dan 'Penindas'. Tiga karakter ini menabrak dinding dan memakan korban.

Namun di sana ada karakter bernama 'Agen penolong', yang terkadang akan campur tangan untuk membantu korban dengan menempatkan dirinya di antara korban, tetapi kadang-kadang melarikan diri.

Setelah menonton video itu, bayi-bayi diinstruksikan untuk memilih karakter yang mereka sukai. Hasilnya, sebagian besar memilih 'agen penolong' yang berusaha membantu korban.

Penelitian lain berasal dari Harvard yang berjudul Big Mother Study menunjukkan bayi-bayi tampaknya punya perilaku altruistik atau punya perhatian dan kasih sayang terhadap sesama. Dalam penelitian itu bayi-bayi menujukkan perilaku membantu orang lain.

“Tetapi penelitian ini tidak dapat sepenuhnya menyangkal pandangan Freud dan Hobbes yang pesimistis tentang sifat baik manusia. Tetapi setidaknya hal-hal ini mencoba menyarankan bahwa bayi secara alami cenderung lebih menyukai perilaku altruistik dan mungkin meninggalkan bayi sendirian di pulau terpencil bukan ide terbaik, tetapi jaminan bahwa mereka tidak akan menghancurkan makhluk-makhluk paling lemah itu pasti ada,” tulis Tom Aglietti seperti dilansir BBC.

Baca juga artikel terkait BAYI atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight