Pendidikan Tinggi Tak Bisa Menjamin Karier Anda

Oleh: Mutaya Saroh - 4 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Sebagian orang berharap masa depannya akan lebih cerah ketika memutuskan meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tapi ternyata da faktor-faktor lain yang tak kalah penting.
tirto.id - Zac Schanner dan Nathan Triggs, remaja tanggung dari Amerika Serikat gagal masuk ke perguruan tinggi dengan alasan yang berbeda. Zac, musisi yang punya kebiasaan begadang, gagal ujian masuk perguruan tinggi karena di hari tes masuk ia mengalami alergi.

Padahal, Zac berharap bisa masuk perguruan tinggi untuk investasi masa depannya. Ia yang ingin masuk jurusan bisnis ini berharap bisa mengembangkan bisnis di bidang musik dan membantu band-nya menjadi terkenal.

Sementara itu, Nathan tak bisa mengikuti tes perguruan tinggi karena kesalahan teknis. Ia tidak menekan tombol akhir pada formulir pendaftaran tes masuk perguruan tinggi secara online. Semestinya ia mengklik tombol “yes” di layar komputer agar berkas-berkasnya terproses dengan baik. Otomatis ia pun gugur sejak awal.

Berbeda dengan teman mereka, TaTyTerria Gary bisa mengondisikan dirinya tepat waktu dan tertib dalam mengurus berkas-berkas sehingga ia bisa mengikuti tes dengan tenang. Pemilik nilai IPK rata-rata 3,7 ini memilih perguruan tinggi Okhlahoma Baptist University. Ia berharap kelak bisa lulus dengan lisensi sebagai dokter.

Zac, Nathan, dan TaTy, mungkin bisa mewakili pemuda di seluruh dunia yang ingin bisa mengenyam pendidikan tinggi sehingga mencoba masuk melalui jalur tes.

Karena penghasilan orangtuanya pas-pasan, TaTy setiap pekan bekerja paruh waktu agar bisa menunjang kebutuhannya. Tapi benarkah pengorbanannya akan mendatangkan masa depan yang cerah?

Secara umum, lulusan perguruan tinggi biasanya memang mendapatkan upah yang lebih tinggi dari yang tidak bergelar sarjana.

“Jika terjadi mobilitas kelas di Amerika, itu terjadi berkat pendidikan,” ujar Sean C. Bird, dekan di Washburn University kepada The New York Times. Menurutnya, kampus juga merupakan ruang transformasional.

“Mahasiswa memiliki cara bicara yang berbeda, berpikir, berpakaian, dan berjalan yang berbeda daripada yang lain (nampak intelek),” ungkapnya. Inilah yang menyebabkan mereka memiliki nilai lebih.

Pemimpin perusahaan rata-rata akan menilai seseorang dari kesan pertamanya, di antaranya dari cara berjalan, bicara, dan berpikirnya dalam sesi wawancara. Ini menunjukkan perguruan tinggi memberikan dampak yang berbeda bagi lulusannya.

Akan tetapi, menurut Bird, tak semua orang dengan gelar sarjana akan beruntung di bursa lapangan kerja, sebab banyak yang kurang kompeten di lapangan kerja tanpa keahlian khusus.

E. Whitney Soule, dekan di Bowdoin College, menyatakan hal yang senada terkait lulusan perguruan tinggi. Ia mengamati, setiap mahasiswa memiliki harapan akan segera memperoleh pekerjaan setelah lulus. “Kau mengira akan segera memperoleh pekerjaan setelah lulus, tapi kau mungkin tidak memikirkan apa yang bisa dikerjakan,” komentar Soule.

Tapi jangan senang dulu. “[I]tu tidak menjadi jaminan mereka mudah memperoleh pekerjaan,” imbuhnya.

Bursa lapangan kerja, menurutnya, mudah dimasuki bila seorang pelajar tak hanya pintar berteori namun juga memiliki kemampuan khusus yang bisa diandalkan di perusahaan, misalnya kemampuan mekanik, desain, dan lain sebagainya.

Infografik Perguruan Tinggi


Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia

Sama halnya dengan siswa dari Amerika Serikat tersebut, dilema memasuki perguruan tinggi juga bisa dialami siswa Indonesia. Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Arief Rachman memaparkan kualitas lulusan perguruan tinggi tak sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

"Selama ini mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui," ujarnya, seperti dilaporkan Antara.

Sementara itu, JobsDB, sebuah portal pencari kerja memaparkan lebih dari 66 ribu lulusan sarjana baru di Indonesia tidak terserap perusahaan dan berpotensi menjadi pengangguran, sementara jumlah lulusan sarjana baru setiap tahun mencapai sekitar 250 ribu.

Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1). Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 yang mencapai 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Masih menurut hasil studi itu, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

"Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi," kata Consultant Director, Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim.

Ia menambahkan susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skills. Kampus seperti tidak memberikan peningkatan pada kemampuan sumber daya manusianya.

"Skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja, setelah itu harus punya critical skills jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan," kata Lilis.

Berdasarkan studi itu, Lilis mengatakan di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi juga harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability (mampu berpikir banyak skenario) serta interpersonal and communication skills -(keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat).

Terakhir, menurut dia, para lulusan juga harus punya global skills. Skil tersebut meliputi kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Ini berarti pengalaman jauh lebih penting dari ijazah jika ingin bisa bersaing dalam bursa lapangan kerja yang bergengsi.

Baca juga artikel terkait PERGURUAN TINGGI atau tulisan menarik lainnya Mutaya Saroh
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Maulida Sri Handayani