Pemimpin Pesantren Waria Raih Penghargaan Sebagai Pejuang HAM

Oleh: Irwan Syambudi - 22 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Shinta Ratri dikenal gigih dalam memperjuangkan hak para waria di Yogyakarta. Ia memimpin pesantren Al-Fatah yang khusus memfasilitasi para waria untuk belajar agama.
tirto.id - Front Line Defenders, organisasi internasional untuk perlindungan pembela Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di Irlandia memberikan penghargaan kepada pemimpin pesantren waria Al Fatah Yogyakarta, Shinta Ratri sebagai pejuang Hak Asasi Manusia (HAM).

"Saya [terpilih] sebagai inspirator pejuang hak asasi manusia mewakili regional Asia Pasifik," kata Shinta saat dihubungi reporter Tirto, Senin (22/7/2019).

Penghargaan tersebut awalnya diberikan pada 17 Juli 2019 di Kedutaan Besar Irlandia untuk Indonesia yang berada di Jakarta. Kemudian pada 19 Juli 2019, perwakilan Front Line Defenders mendatangi langsung Ratri di pesantrennya yang terletak di Kotagede, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Selain mendapatkan plakat penghargaan, kata Shinta, ia juga menerima uang pembinaan sebesar 6.500 euro atau sekitar Rp100 juta.

"Itu uang pembinaan untuk kawan-kawan terutama untuk kegiatan yang berhubungan dengan safe and security," kata Shinta.

Selanjutnya, Shinta akan berangkat ke Dublin, Irlandia pada 2 Oktober 2019 mendatang. Ia diundang bersama dengan perwakilan tokoh pejuang HAM yang mendapatkan penghargaan serupa yakni dari Republik Dominika, Tunisia, Rusia dan Malawi.

"[Perwakilan dari] Tunisia yang akhirnya menang secara global. Kalau saya itu hanya sebagai pemenang Asia Pasifik," katanya.

Shinta Ratri dikenal sebagai salah satu orang yang gigih dalam memperjuangkan hak para waria di Yogyakarta. Ia memimpin pesantren Al-Fatah yang khusus memfasilitasi para waria untuk belajar agama.


Pada 2016 lalu, pesantren yang ia pimpin pernah hendak dibubarkan oleh sekelompok massa dari Front Jihat Islam (FJI). Pesantren Al-Fatah dituduh sedang mempelajari fiqih untuk melegalkan pernikahan sesama jenis.

Namun pernyataan itu dibantah oleh Shinta dan ustaz Arif Nuh Safri yang sudah sembilan tahun mengajar di pesantren tersebut. Arif bahkan menyebut bahwa tuduhan FJI tersebut omong kosong.

"Alasan mereka datang ke sini karena pesantren waria mau membuat fiqih waria. Memangnya kenapa kalau pun itu beneran [...] Yang kemudian diplintir itu fiqih waria dikonotasikan ada upaya untuk [melegalkan] pernikahan sejenis, itu omong kosong," kata Arif kepada Tirto.

Arif sudah bersinggungan selama bertahun-tahun dengan para waria di pesantren tersebut, sejak 2010 mendampingi mereka, ia tidak pernah menemukan adanya upaya dari para waria untuk mendukung legalitas pernikahan sesama jenis seperti apa yang dituduhkan.

Bagi mereka, kata Arif, bukan pernikahan sesama jenis yang diharapkan. "Mereka diterima di masyarakat dan diterima di keluarga itu jauh lebih besar, mereka lebih bahagia dari pada sekedar mengurusi seks itu tok," kata Arif yang juga merupakan pengajar di Institut Ilmu Al-Quran An-Nur dan Pusat Bahasa UIN Sunan Kalijaga.


Baca juga artikel terkait HAK ASASI MANUSIA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight