Pelajaran dari Gagal Menanjak Daihatsu Ayla di Kali Kenteng

infografik torsi dan horsepower
Sejumlah kendaraan pemudik mengantre melintasi tanjakan Jembatan Kali Kenteng di ruas tol fungsional Salatiga-Kartasura, Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (11/6). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.
- 22 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Medan menanjak jadi tantangan bagi pengemudi roda empat. Kejadian gagal menanjak Daihatsu Ayla di Kali Kenteng bisa jadi pelajaran bagi pengemudi lain.
tirto.id - Polisi berseragam berlari kecil menuruni jalan curam sambil membawa sepotong balok kayu. Ia berlutut dan menaruh balok kayu di belakang roda sebuah mobil berwarna metalik yang nyaris meluncur deras dari tanjakan. Ini adalah cuplikan video saat mobil low cost and green car (LCGC) Daihatsu Ayla sempat gagal melintasi tanjakan Kali Kenteng, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (9/6/2018).

Video yang menjadi viral di media sosial membuat ragam tanggapan, tapi tak sedikit warganet yang langsung memvonis "mobil murah" Daihatsu Ayla memang payah untuk melintasi tanjakan curam. Spesifikasi Ayla yang hanya menggendong mesin 1.000 cc seolah jadi pembenaran.

Pihak Daihatsu merespons dengan memberikan klarifikasi mengenai performa Daihatsu Ayla. Anjar Rosjadi, Technical Service Executive Coordinator PT Astra Daihatsu Motor (ADM), sangat yakin kejadian Daihatsu Ayla gagal menanjak itu merupakan akibat dari pengemudi yang kurang mahir. Respons ADM ini tentu sangat mafhum, karena mereka tentu tak mau produknya jadi anggapan sebagai produk kacangan.

“Di video itu suara mesinnya tidak kedengaran sama sekali (RPM rendah). Itu artinya (pengemudi) tidak terbiasa menyeimbangkan torsi dengan kopling dan gas dalam keadaan menanjak,” tegas Anjar saat dihubungi Tirto, Kamis (21/6/2018).



Menyoal kemampuan Daihatsu Ayla di tanjakan, Anjar menyatakan produk tersebut sudah teruji di pusat RnD Daihatsu sebelum dipasarkan. Menurutnya, kegagalan menanjak bisa dipengaruhi tiga faktor, yakni kondisi jalanan yang terlalu sulit dilalui, kondisi kendaraan tidak prima, dan tidak kalah penting aspek keterampilan pengemudi saat menghadapi medan jalan yang sulit.

Sempat beredar rumor ihwal kemiringan jembatan Kali Kenteng yang mencapai 57 derajat. Jelas saja informasi tersebut menimbulkan kegaduhan. Sebab, nyaris mustahil sebuah jalanan dengan kemiringan 57 derajat dilalui kendaraan bermotor. Polemik kemiringan jembatan Kali Kenteng langsung disanggah oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Melalui akun twitternya, Kementerian PUPR menyatakan kemiringan jembatan yang ada di tol fungsional Salatiga-Kartasura itu hanya 5,7 derajat, atau kenaikan ketinggian 10 meter setiap 100 meter.

Di atas kertas, bukan perkara besar bagi sebuah kendaraan untuk melalui jalan yang memiliki sudut kemiringan 5,7 derajat, termasuk Daihatsu Ayla. Sebab, mobil berkapasitas mesin kecil tak bisa dicap pecundang dalam hal pendakian hanya karena tenaga yang dimiliki relatif kecil.

“Mobil (Daihatsu Ayla) mesinnya kecil, tapi kan bobotnya juga ringan. Power to weight dan torque to weight ratio-nya sudah seimbang,” kilah Anjar.




Torsi dan Tanjakan

Bagi pengemudi, menaklukkan tanjakan memang butuh teknik dan proses yang tak mudah saat mengemudi. Keterampilan sopir diuji saat berhadapan dengan jalur pendakian, apalagi tanpa landasan “take off” yang Panjang. Pada kondisi semacam ini, torsi sangat penting dan perlu disadari oleh para pengemudi.

Dalam arti sederhana, torsi merupakan kemampuan mesin untuk bergerak melakukan proses pembakaran, dimulai dari gerakan piston, camshaft, dan komponen lain sampai akhirnya menghasilkan tenaga dorong. Torsi adalah parameter seberapa besar kemampuan mesin mampu menghasilkan energi kinetik dengan satuan Newton Meter (NM). Setiap produk kendaraan bermotor memiliki kekuatan torsi berbeda, tergantung kapasitas ruang silinder.

Autoexpress dalam sebuah ulasannya yang berjudul “What is Torque? All about torque: definition, equations, and units”, mesin yang mampu mencapai torsi puncak pada putaran mesin rendah akan terasa lebih mengentak dibandingkan mesin dengan torsi puncak pada RPM tinggi. Kendaraan dengan bobot berat membutuhkan torsi mesin lebih besar ketimbang mobil berbobot ringan. Hal itu berkaitan dengan jumlah tenaga yang bisa dikirim mesin ke sistem penggerak untuk menjalankan mobil. Salah satu prasyarat agar bisa lolos dari hadangan tanjakan, yaitu mengail torsi semaksimal mungkin sejak titik awal.



Caranya, pada mobil transmisi manual, gunakan gir transmisi paling rendah, lalu tekan gas hingga mesin mendekati putaran tertinggi, guna mendapatkan torsi optimal sedari awal jalur pendakian. “Bagaimana caranya mobil bisa menanjak dengan power pas-pasan atau power besar tapi muatan penuh? Caranya dengan menjaga momentum. Ada orang yang enggak tahu momentum, asal betot gas sampai RPM tinggi," kata Jusri Pulubuhu, instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting kepada Tirto.

"Momentum itu bisa didapatkan dengan menggunakan transmisi rendah, kemudian menekan gas sampai mendekati torsi puncak, sekitar 80 persen lah dari torsi maksimal. Lalu 20 persen lagi digunakan ketika kehilangan momentum di tengah (tanjakan) agar tidak kehabisan tenaga,” jelasnya.

Namun, sering kali ada anggapan kemampuan mobil menanjak karena faktor besaran tenaga kuda (horsepower) mesin. Padahal, tenaga kuda merupakan ukuran seberapa cepat mobil bisa bergerak mengandalkan energi dari mesin. Car and Driver dalam artikel berjudul “Horsepower vs. Torque: What’s the Difference?” horsepower lebih dekat dengan urusan kecepatan tertinggi, atau waktu tempuh yang bisa dicapai sebuah kendaraan.

Formulasi untuk mendapatkan horsepower besar adalah dengan meningkatkan torsi mesin diiringi peningkatan jumlah putaran mesin. Dengan kata lain, horsepower adalah produk dari kinerja torsi. Dalam konteks pendakian atau saat menanjak, mobil dengan horsepower rendah pun tetap bisa melenggang asalkan torsi mesin optimal dan menjaga momentum.

Saat Gagal Menanjak

Pada kejadian Daihatsu Ayla di Kali Kenteng, mobil sudah mulai mendaki, tapi kehilangan momentum di tengah. Akibatnya, tenaga dorong hilang sampai akhirnya mundur. Dalam keadaan darurat seperti itu, bukan lagi sekadar teknik mengemudi yang dibutuhkan, tetapi sudah membutuhkan kemampuan antisipasi dari pengendara.

Saat mengalami kondisi darurat di tanjakan, segera lakukan pengereman. Jika terlambat, mobil akan meluncur dan menjadi bahaya bagi kendaraan lain di belakang. Saat menghadapi mobil tidak mampu lagi bergerak, penumpang lain bisa merespons dengan keluar dari mobil dan mencari ganjalan. Namun, jika dirasa sudah sangat mendesak, sopir harus bereaksi menghentikan mobil dengan menginjak rem, dibantu rem tangan, kemudian mematikan mesin mobil.

“Manakala dia harus berhenti di tanjakan, apa yang harus dilakukan? (Pertama) jangan panik, injak rem, kemudian tarik hand rem. Kalau itu mobil manual, injak rem harus injak kopling berbarengan," kata Jusri.

Setelah mampu berhenti, pengemudi bisa kembali menjalankan mobil secara perlahan. Caranya, injak kopling dan rem bersamaan, sambil memasukkan perseneling. Kemudian, mulai injak gas sampai mendapatkan momentum mobil bergerak. Jika dirasa sudah stabil, rem tangan bisa diturunkan.



“Ketika situasi aman untuk mundur (dan) memulai start dari awal, hidupkan mesin dengan posisi gigi mundur, (lalu) lepaskan hand rem, sambil rem kaki dilepas, (kemudian) starter. Mobil akan hidup seperti didorong. Ini lebih aman karena mobil mundur dengan engine brake maksimal. Kalau pakai (injak) kopling mobil meluncur,” katanya.

Insiden gagal menanjak di Kali Kenteng juga terjadi pada mobil-mobil berkapasitas mesin besar atau di atas 1.000 cc. Artinya banyak faktor yang menentukan sebuah kendaraan gagal menanjak, ada faktor teknis hingga pemahaman berkendara dari pengemudi.

Baca juga artikel terkait MUDIK LEBARAN 2018 atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: Yudistira Perdana Imandiar
Penulis:
Editor: Suhendra
DarkLight