Mulai September Sepeda Motor Dilarang Lintasi Jalan Sudirman

Sejumlah kendaraan terjebak macet saat melintas di jalan Sudirman, Jakarta, Senin (7/8). ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Oleh: Hendra Friana - 9 Agustus 2017
Dibaca Normal 1 menit
Pemerintah berharap pengguna sepeda motor beralih ke transportasi massal.
tirto.id -
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan uji coba pelarangan sepeda motor melintasi Jalan Jendral Sudirman akan mulai diberlakukan bulan September mendatang. Ruas jalan yang rencananya akan diujicoba adalah Bundaran Hotel Indonesia sampai Bundaran Senayan.
"Apakah nanti kita ikuti sesuai dengan pembatasan yang sudah ada yaitu dari jam 06.00 sampai jam 23.00 atau hanya di titik tertentu saja, itu nanti akan kita kaji lagi dengan rapat persiapan di Dirlantas Polda Metro Jaya," ungkapnya usai Focus Group Discussion (FGD) Rencana Umum Pengendalian Pembatasan Sepeda Motor di Jabodetabek, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (8/8/2017).
Uji coba tersebut, lanjut Andri, akan dilakukan selama 3 sampai 4 Minggu. "Setelah itu dievaluasi. Apabila baik ya lanjutkan, kalau tidak ya kita harus berani tak merealisasikannya."
Andri berharap pelarangan tersebut dapat mendorong para pengendara motor berpindah ke moda transportasi massal seperti Transjakarta dan kereta Commuter Line. "Dari sekian banyak orang yang pakai kendaraan bermotor setengahnya minimial udah shifting (berganti) pakai angkutan masal. Gitu," ujarnya.
Untuk mendorong hal tersebut, ia mengatakan bahwa Pemprov DKI akan menyiapkan beberapa Sistem Ruas Parkir (SRP) agar para pengendara motor bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal.
Selain itu, Pemprov juga akan mendorong penambahn Bus Transjakarta hingga akhir 2017. Saat ini, kata Andri, Pemprov sudah memiliki 1.400 bus dan 1.200 di antaranya telah beroperasi dengan baik.
"20017 ini kita mengharapkan ada penambahan 2000 angkutan umum dari berbagai jenis. Bus. Apakah itu articulate, low deck single, maupun medium. Inilah yang akan kita manfaatkan untuk penugasan- penugasan dalam program peanangan lalu lintas," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ), juga menyampaikan bahwa pembatasan kendaraan bermotor di ibukota berpengaruh bagi pengurang sepeda motor di Jakarta.
Budi Hartanto Suseno, Konsultan yang ditunjuk BPTJ, mengatakan, pelarangan tersebut akan menurunkan jumlah pengendara motor di Sudirman. "Kalau yang sebelum PSM (Pengendalian Sepeda Motor) itu volume di jalan itu misalnya 2000, di Sudirman biasanya sekitar 15 ribu, itu akan nge-drop sekitar 8 ribu. karena sepeda motornya pindah."
Namun, ia mengatakan hal tersebut tidak serta Merta memindahkan para pengendara motor ke transportasi massal. Ia menyebutkan, dari wawancara terhadap lebih dari 100 narasumber, hanya 50 persen responden yang memilih mau beralih ke angkutan publik. "
"Kajiannya pertama, kami mempunyai logic bahwa setelah pengendara sepeda motor itu dilarang untuk melakukan kegiatannya di sepanjang jalan utama, mereka akan menyimpang. Apakah memilih akan naik public transport atau mau mengambil rute alternatif. Untuk mendapatkan berapa yang pindah ke public transport dan berapa yang pindah ke rute alternatif kami punya kajian berdasarkan studi wawancara," jelasnya.

Baca juga artikel terkait PELARANGAN SEPEDA MOTOR atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Jay Akbar
a