tirto.id - Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) kembali meluncurkan program Qurbanmu, yang menyajikan tiga produk program, yaitu program kemasan, program daging segar (fresh meat), dan program sedekah daging.
Targetnya, hewan kurban yang bisa dihimpun dalam program ini mencapai Rp69.538.012.822 sepanjang 2025. Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan 326 ekor sapi, 137.063 kaleng sapi, atau 2.279 ekor daging sapi segar (fresh meat).
“Kemudian, kambing sebanyak 2.176 ekor,” ujar Direktur Utama Lazismu Pusat, Ibnu Tsani, dalam Kick-Off Program Qurbanmu Lazismu, di Kantor Pusat PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Kamis (8/5/2025).
Ibnu menjelaskan, program ini tidak hanya menyalurkan kurban di Indonesia, melainkan juga di luar negeri, salah satunya hewan kurban bagi warga Palestina melalui Mesir dan Yordania.
Meski begitu, daging kurban yang akan disalurkan ke Palestina melalui Mesir dan Yordania adalah daging yang telah diolah menjadi makanan jadi, seperti rendang dalam kaleng.
Menurut Tsani, berdasarkan informasi yang diterima dari mitra penyalur Lazismu di Timur Tengah, penyaluran kurban dalam bentuk daging segar ke Gaza tidak dimungkinkan. Sebab, selain membutuhkan waktu pengiriman yang cukup lama, distribusinya juga harus melewati jalur yang panjang karena konflik yang terjadi di daerah tersebut.
“Untuk ke area Gaza, misalnya, untuk saat ini kondisinya kan cukup luar biasa mengkhawatirkan, ya. Terutama untuk daging ini kan tidak bisa disimpan lama-lama. Nah, tempat penyimpanan daging di area Gaza ini banyak yang tidak berfungsi. Apabila kita kirimkan dalam bentuk daging segar, akan timbul kemungkinan daging membusuk dan sebagainya,” jelasnya.
Adapun di dalam negeri, kurban yang telah diterima nantinya akan disalurkan ke daerah daerah penyintas bencana alam, daerah rawan tengkes atau stunting, kawasan padat penduduk, serta kantong-kantong kemiskinan di desa dan kota, hingga daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengatakan ibadah kurban tidak sekadar ibadah rutin tahunan, tetapi juga merupakan sarana untuk memberikan dampak dan nilai manfaat yang lebih luas. Dalam hal ini, ibadah kurban dinilai efektif untuk mengatasi masalah yang saat ini berkembang di Indonesia, salah satunya kemiskinan.
“Jadi, bicara zakat dan kurban itu tidak hanya pada aspek penghimpunan, tetapi juga pada aspek penyaluran dan/atau pendistribusian,” tuturnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




























