Menolak Perang Melawan Indonesia, Serdadu KNIL di Australia Mogok

Oleh: Petrik Matanasi - 18 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Berita Proklamasi Kemerdekaan RI membuat sejumlah serdadu KNIL di Australia menolak perang melawan tanah airnya sendiri.
tirto.id - Sebagian kecil Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) berhasil meloloskan diri ke Australia ketika tentara Jepang menyerbu Indonesia yang dulu masih bernama Hindia Belanda. Mereka tiba di Negeri Kangguru tidak dalam waktu yang bersamaan. Sebagian tiba di Australia setelah tahun 1942 dengan menumpang kapal-kapal atau pesawat-pesawat milik Sekutu.

Dalam arsip Muhammad Bondan nomor 498 yang terdapat di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), disebutkan bahwa terdapat 228 orang Indonesia yang tinggal di Brisbane, Australia, dan nyaris semuanya anggota KNIL.

Mereka adalah serdadu rendahan yang hanya lulusan sekolah dasar atau bahkan tidak pernah sekolah sama sekali. Lebih dari seperempatnya pergi ke Australia menggunakan pesawat. Mayoritas berasal dari Pulau Jawa. Sedangkan sebagian kecil berasal dari Ambon dan Manado.

Salah seorang anggota KNIL yang datang ke Australia adalah Gustaaf Adolf Kamagi. Seperti disebutkan dalam Arsip Kementerian Pertahanan RI nomor 333, dia pergi ke Australia pada akhir 1942 setelah bergerilya di Timor melawan Jepang bersama pasukan khusus Australia.

Anggota KNIL lainnya yang bergerilya di Timor adalah Kopral Srinojo Papilaja. Louis de Jong dalam Het Koninkrijk de Nederlanden in de Tweede Wareldoorlog Deel III C Nederlands-Indie III (1986:205) menyebut bahwa di Australia Papilaja kemudian dilatih di Cairns oleh Kapten van der Veen. Dia lalu ditugaskan dalam misi Tiger VI masuk ke sekitar Banyuwangi untuk mendapatkan segala macam kartu identitas dan uang yang berlaku di daerah pendudukan Jepang. Pahlawan Nasional Iswahjudi juga termasuk sersan penerbang KNIL yang disusupkan dari Australia ke Jawa Timur.


Selain serdadu KNIL, para pelaut dan Digulis--orang buangan yang ditempatkan di Tanahmerah, Bovendigoel, Papua--beserta keluarganya juga mengungsi ke Australia. Oleh militer Belanda di Australia, mereka kemudian direkrut untuk menjadi milisi atau dijadikan pegawai NICA. Selama di Australia, militer Belanda menyusun kembali kekuatannya setelah kocar-kocar disikat Jepang. Mereka di antaranya membentuk batalion teknik dan batalion infanteri pertama.

Dalam arsip Muhammad Bondan di ANRI nomor 427 disebutkan nama-nama yang dipulangkan ke Indonesia dari Mackay, Lytton, Columbia, Casino, dan Brisbane. Mereka di antaranya bekas pelaut, yaitu Karto (19 tahun), Saiman (18), Amat (19), Ibao (20), Solong (30), Mohammad Ali (18), Soepii (32), Illias (27), Ka Mari (27), dan Oesman (43).

KNIL juga menjadikan orang-orang di atas 40 tahun sebagai serdadu milisi. Mereka antara lain: Moestedjo (52 tahun), Sastroprawiro, (52) Moesirin (45), Sontani (42), Moch Gaos (40), Wirjodihardjo (52), Soekarnaatmadja (55), Soedjadi (42); Soeratman (47) dan Johanis Woworoentoe (49 tahun).

Beberapa nama yang dijadikan milisi itu mirip dengan nama-nama para Digulis yang dicatat Koesalah Toer dalam Tanah Merah yang Merah: Sebuah Catatan Sejarah (2010). Gaos berasal dari Semarang dan kemudian tinggal di Purwokerto, Moesirin yang pernah ditempatkan di Tanahtinggi, dan Sontani yang berasal dan kembali ke Yogyakarta. Woworoentoe, menurut Harry Poeze dalam Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945 (1999:171) adalah propagandis komunis bersama Daniel Kamoe dan Clement Wentoek yang pernah belajar di Moskow.

Para Digulis itu mayoritas adalah orang-orang yang sekitar 15 tahun tak pulang ke daerah asalnya.


Mereka yang Membangkang

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 akhirnya sampai juga ke telinga orang-orang Indonesia di Australia. Hal ini sangat merepotkan otoritas Belanda.

“Permulaan bulan September [1945] para prajurit Indonesia di Casino mengajukan tuntutan pada perwira Belanda agar mereka dibebastugaskan dan dimasukkan dalam kehidupan sipil,” tulis Rupert Lockwood dalam Armada Hitam (1983:85).

Kekuatan militer yang dibangun Belanda di Australia pun menjadi berantakan, dan cukup mengganggu usaha Belanda merebut kembali Indonesia. Lockwood mencatat setidaknya 230 serdadu KNIL berkebangsaan Indonesia di Australia secara bulat dan terang-terangan telah mendukung Republik Indonesia.

Sepanjang Oktober 1945, terjadi pengunduran diri yang cukup masif dari kalangan serdadu Indonesia. Di antara yang mundur itu terdapat sejumlah serdadu reguler yang telah menjadi anggota KNIL sebelum 1942.

Infografik Serdadu Asal Indonesia di Australia
Infografik Serdadu Asal Indonesia di Australia. tirto.id/Fuad


Arsip Mohammad Bondan nomor 427 menyebut lebih dari 120 serdadu mundur pada tanggal 13 Oktober, 30-an serdadu mundur pada tanggal 27 Oktober, dan sisanya pada tanggal-tanggal lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Jawa dengan pangkat paling tinggi sersan, yakni: Salimin (27 tahun) dan Kamagi (23 tahun).

Dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan (2011:117), Mohammad Bondan menyebut bahwa pada 12 September 1945 sebanyak 135 milisi KNIL ditangkap karena pemogokan di Brisbane. Lalu pada 13 Oktober tahun yang sama, 230 serdadu digiring paksa ke kamp Lytton setelah mogok di Wacol, dekat Brisbane. Dan pada 18 Oktober terdapat 400 milisi serta serdadu reguler mogok di Casino. Anggota Angkatan Udara Belanda di Melbourne juga tak ketinggalan, mereka mogok lalu dipindahkan ke Casino.

Beberapa serdadu yang membangkang ditahan. Sekitar Februari 1946, serdadu-serdadu KNIL yang hendak pulang ke Jawa ditawan di Pulau Semau, dekat Kupang. Arsip Mohammad Bondan di ANRI nomor 460 menyebutkan bahwa terdapat 75 orang serdadu Jawa yang ditawan. Mereka adalah serdadu bawahan kelas dua dan tiga, kecuali Kopral Moezeki, Kopral Abdul Hamid, Kopral Soekir, Kopral Kasman, Kopral Soewarto, Sersan Tojib, dan Sersan Soekatmo.

Di Kupang, seperti dicatat Bondan, seorang kopral dari Manado telah bikin kesal otoritas Belanda karena menyiarkan berita proklamasi kepada setiap serdadu KNIL yang ditemuinya. Ia akhirnya dibawa aparat Belanda tanpa jelas di mana rimbanya.

Kamp Casino menjadi kamp yang bergolak oleh pendukung RI. Pada 18 April 1946, diberitakan terjadi keributan yang mengakibatkan seorang serdadu asal Indonesia bernama Tadjeri alias Tarsan tertembak. Menurut versi Belanda, mereka hendak memberontak. Sedangkan menurut pihak Indonesia hal itu bermula dari penolakan mereka saat disuruh ke stasiun, karena tiap mereka keluar kamp barang mereka ada yang hilang.

Kemudian sebanyak 13 pembangkang—Kamagi, Gozali, Kamirin, Waworuntu, Tala, Tuala, Lengkong, Djadi, Lantang, Karto Prajitno, Dengah, Sahja, dan Mustari—diam-diam dibawa aparat Belanda dari Kamp Casino ke Kupang pada 7 November 1946. Belakangan Kamagi dibebaskan dan bergabung dengan Republik Indonesia.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight