Mengapa Apple Merilis iPhone SE di Tengah Pandemi?

iPhone SE. FOTO/apple.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 9 Mei 2020
Dibaca Normal 5 menit
Apple merilis iPhone SE di tengah pandemi COVID-19.
Pada Juni 2010, Apple merilis iPhone 4, seri terbaru yang menggantikan iPhone 3GS, ponsel “yang tercepat, paling cerdas” yang telah usang hanya dalam setahun.

Sir Jonathan Paul ‘Jony’ Ive, kepala jawatan desain Apple kala itu, mengambil keputusan menghilangkan pita antena plastik di iPhone 4 dengan alasan estetis: membuat iPhone tetap ramping dan sedap dipandang mata. Nahas, masalah besar muncul. Keputusan Ive menghilangkan pita antena plastik membuat iPhone 4 mengalami masalah putus-nyambung sinyal, terutama saat pengguna memegang ponsel dengan tangan kirinya. Kejadian ini dikenal sebagai Antennagate. Banyak pengguna iPhone 4 kala itu murka dan kecewa pada Apple. Meski demikian, sebagaimana dilaporkan Cult of Mac, iPhone 4 menjadi ponsel hit yang "memecahkan rekor pre-order dan total penjualan per pekan”.

Merespons Antennagate, pendiri Apple almarhum Steve Jobs mengadakan konferensi pers menjelaskan duduk perkara permasalahan. Uniknya, konferensi pers tak hanya diselenggarakan Jobs untuk menjelaskan masalah di iPhone 4 dan menenangkan pelanggan. Dalam kesempatan itu, Jobs membela desain iPhone 4 yang ramping, kecil, dan mudah digenggam. Dengan jumawa, Jobs bahkan menghardik produsen ponsel yang menciptakan ponsel berukuran jumbo, lebih dari 4 inci.

“Anda tidak dapat menggenggamnya” kata Jobs mengomentari kemunculan ponsel-ponsel berlayar jumbo atau disebut Phablet pada 2010 silam. Jobs kemudian berkesimpulan bahwa masyarakat akan membeli ponsel berukuran besar.

Sejak kelahirannya hingga 2013, Apple konsisten menjaga keyakinan sang bos tentang ukuran ponsel. Dari iPhone generasi pertama hingga iPhone 4S, Apple menetapkan 3,5 inci sebagai ukuran. Lantas, iPhone 5 hingga 5S, ukuran 4 inci jadi pilihan. Sayangnya, pada 2014, dengan kelahiran iPhone 6 dan 6 Plus, Apple mengangkangi sang bos, dengan melahirkan iPhone berukuran 4,7 inci dan 5,5 inci. Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, keputusan dibuat karena ponsel berukuran 4 inci dianggap “terlalu kecil.”

Perlahan, selepas iPhone 5, Apple tidak pernah lagi menciptakan ponsel berukuran kecil. Misalnya, iPhone 7 yang berukuran 4,7 inci dan iPhone X yang berukuran 5,8 inci. Namun, ketika ukuran standar iPhone ala Jobs telah ditinggalkan, satu seri iPhone yang berusaha menjaga martabat Steve Jobs lahir, yakni iPhone SE, ponsel 4 inci.

“Ponsel yang kecil nan ringkas ini dirancang agar nyaman digenggam tangan Anda,” terang Apple menyambut kelahiran iPhone SE pada 2016 silam. Liz Stinson, dalam ulasannya tentang iPhone SE di Wired, menyebut bahwa “dengan melahirkan iPhone SE, Apple kembali ke desain adiluhung.”

Saat itu desain iPhone SE memang “usang” jika dibandingkan dengan ukuran rata-rata ponsel Android (dan iPhone setelah 2014). Namun, desain “usang” itu, sebut Jared Ficklin, pendiri Argodesign, “terasa indah di tangan”.

Riset National Taiwan University bertajuk “Mobile Phone Use Behaviors and Postures on Public Transportation Systems” (2016) menyebut 93 persen dari 1.230 orang pengguna transportasi publik di Taipei memegang ponsel mereka dengan orientasi berdiri (portrait). Memegang satu ponsel dengan satu tangan adalah hal yang utama. Maka, ukuran ponsel yang dapat mendukung pengoperasian satu tangan adalah yang terbaik.

Di sisi lain, meskipun kecil dan “usang” dengan standar terbaru, iPhone SE menyimpan kekuatan yang tak main-main di dalamnya. Apple menyematkan A9, System-on-Chip (SoC) paling gahar waktu itu. Plus, mereka menempatkan kamera dengan resolusi 12 megapiksel, yang sanggup merekam video 4K, dan Touch ID.

Harga $399 terasa sangat menggiurkan.

Sayangnya, tindakan Apple merilis iPhone SE yang mendobrak pakem standar kala itu bagai drama percintaan remaja masa kini, “ditinggal pas sayang-sayangnya”. Apple, Setelah iPhone SE, Apple tidak pernah lagi melahirkan ponsel berukuran 4 inci, berukuran ringkas, berukuran standar adiluhung ala Steve Jobs. Ia meninggalkan konsumen pecinta ponsel kecil tanpa penjelasan.

“Musibah" pun menimpa Apple. Bisnis ponsel Apple tergerus oleh OPPO, Vivo, OnePlus, Xiaomi, Huawei, dan penguasa ponsel dunia saat ini Samsung. Maka, pada 2020 ini, di tengah pandemi COVID-19, Apple kembali melahirkan iPhone SE.

Rilis di Waktu yang Tidak Tepat

Tepat pada 31 Maret lalu, tenggat kuartal II tahun fiskal 2020, Apple melaporkan total penjualan bersih sebesar $58,3 miliar, meningkat sekitar 1 persen dibandingkan pencapaian di kuartal yang sama setahun sebelumnya, $58 miliar. Dalam keterangan resminya CEO Tim Cook menyatakan bahwa capaian finansial perusahaannya itu “membanggakan, meskipun dunia tengah mengalami dampak ekonomi yang besar akibat pandemi COVID-19".

Kini, total uang cash yang dimiliki Apple berjumlah $40,1 miliar atau sekitar Rp590 triliun. Para pemegang saham, masih merujuk keterangan resmi Apple, dijanjikan pembagian dividen sebesar $0,82 per lembar saham. Maka, Cook, yang saat ini memegang 854.849 lembar saham Apple, akan memperoleh duit sekitar $700 ribu, setara sekitar Rp10 miliar ke rekening pribadinya.

Ya, kinerja Apple memang gemilang. Namun, jika laporan finansial mereka ditelisik lebih dalam, kegemilangan kinerja Apple tidak ditopang jualan utama mereka sejak 2007, yaitu iPhone. Dalam laporan kuartal II-2020 itu, total penjualan bersih iPhone berada di angka $28,9 miliar, turun dari $31 miliar di kuartal sama setahun sebelumnya. Pun, penurunan terjadi pada lini Mac yang memperoleh penjualan bersih sebesar $5,3 miliar dari $5,5 miliar setahun lalu. Begitu juga iPad yang hanya memperoleh penjualan bersih sebesar $4,3 miliar, turun dari $4,8 miliar setahun lalu.

Positifnya kinerja Apple saat ini ditopang oleh layanan-layanan digital seperti App Store, Apple Arcade, hingga iCloud. Layanan-layanan digital ini memperoleh penjualan bersih sebesar $13,3 miliar, melompat dari $11,4 miliar setahun sebelumnya.

Jualan iPhone yang menurun tak hanya terjadi saat ini. Selepas mencapai titik tertinggi penjualan iPhone dalam sejarah--78,29 juta unit pada kuartal I-2017--performa jualan utama Apple tersebut terus melorot. Dalam laporan kinerja Apple pada kuartal II-2019 lalu, misalnya, iPhone menyumbang pendapatan sebesar $31 miliar bagi Apple, turun 18 persen dari perolehan kuartal yang sama setahun sebelumnya, $38 miliar.



Mundur sedikit ke belakang, menurut data yang dipacak Statista, 2018 adalah tahun yang kurang menguntungkan Apple. Data fiskal pada 2018 menunjukkan bahwa Apple kelimpungan menjual iPhone. Pada kuartal I-2018, Apple menjual 77,3 juta unit iPhone. Lalu, penjualan melorot menjadi 52,2 juta unit di kuartal II-2018. Tak berhenti di situ, di kuartal III-2018, iPhone melorot lagi hingga 41,3 juta unit. Di kuartal IV-2018, penjualan iPhone sedikit naik menjadi 46,8 juta unit.

Salah satu alasan mengapa penjualan iPhone kian melempem adalah harga produk ini yang semakin mahal, sukar dijangkau masyarakat. Pada seri pertama, “hanya” iPhone, Apple membanderol produknya seharga $499. Atas kerjasama subsidi harga dengan penyedia layanan telekomunikasi, bahkan, untuk iPhone 4, Apple hanya membanderol produknya seharga $199. Hingga iPhone 6, masyarakat dapat membeli iPhone di bawah $600. Sayangnya, tatkala iPhone X lahir, harga iPhone naik hingga lebih dari $999.

Firma finansial global UBS melakukan riset berapa jumlah hari kerja yang diperlukan seorang profesional di berbagai dunia untuk membeli iPhone X. Cara yang dilakukan UBS cukup sederhana, harga iPhone X di suatu negara dibagi dengan rata-rata pendapatan harian pekerja profesional. Hasilnya, profesional yang bekerja di kota Zurich, Swiss, hanya memerlukan pendapatan setara 4,7 hari kerja untuk memperoleh iPhone X. Profesional yang bekerja di New York, AS, memerlukan pendapatan 6,7 hari kerja untuk bisa membeli iPhone. Profesional yang bekerja di Beijing, Cina, memerlukan pendapatan 39,3 hari kerja untuk dapat membawa pulang iPhone X. Yang paling miris ialah profesional yang bekerja di Kairo, Mesir. Mereka perlu menyimpan pendapatan 133,3 hari kerja guna dapat membeli iPhone X.

Berdasarkan data yang diunggah Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pekerja profesional lulusan universitas yang bekerja hingga 44 jam kerja per pekan memperoleh pendapatan sebesar Rp5,2 juta. Dengan asumsi bahwa pekerja bekerja selama 22 hari tiap bulan, per hari pekerja memperoleh pendapatan senilai Rp236 ribu. Ketika diluncurkan di Indonesia, iPhone X dengan kapasitas 256GB dijual seharga Rp17 juta. Dengan pendapatan harian itu, pekerja di Indonesia perlu menyimpan pendapatannya selama 72 hari kerja atau lebih dari 3 bulan gaji untuk bisa membeli iPhone X.

Alasan lain melempemnya kinerja penjualan iPhone adalah seteru abadi mereka, Android, yang menawarkan beragam ponsel berharga murah. Bahkan, jika hanya butuh ponsel untuk tetap terhubung melalui WhatsApp, aplikasi pesan instan terpopuler di dunia, “ponsel bodoh” berbasis KaiOS yang rata-rata berharga kurang dari Rp500 ribu dapat dijadikan pilihan.

Untuk mengatasi masalah jualan utama mereka, Apple merilis iPhone SE pada 2020. Apple kembali melahirkan ponsel kecil, tetapi bukan dalam arti ukuran (form factor) karena iPhone SE 2020 tidak mengusung ukuran 4 inci, tetapi 4,7 inci (setipe dengan iPhone 8). “Kecil” di sini merujuk pada harga: $399.

Sesungguhnya, alasan utama Apple merilis iPhone SE original pada 2016 lalu pun dilakukan bukan karena faktor nostalgia atau takut kualat terhadap Steve Jobs yang menegaskan bahwa 4 inci merupakan ukuran adiluhung, tetapi juga karena performa iPhone yang mulai tergerus lawan-lawannya, terutama Samsung. Pada 2015, setahun sebelum Apple merilis iPhone SE versi original, pangsa pasar iPhone terus-terusan melorot. Di kuartal I-2015, iPhone memperoleh pangsa pasar sebesar 18 persen. Namun, pada kuartal berikutnya, pangsa pasar Apple melorot ke angka 14 persen dan 13,2 persen.

Harga iPhone SE versi 2020 memang terhitung murah. Namun, Apple tidak membenamkan modul murahan pada produknya. iPhone SE 2020 menggunakan chipset A13 Bionic, chipset yang sama yang dipakai seri iPhone 11. Dengan demikian, ada semacam garansi bahwa iPhone SE versi terbaru ini akan dapat menjalankan seri-seri terbaru iOS.

Saat ini, iOS berada di versi 13 yang tidak mendukung iPhone 5S, iPhone 6, dan iPhone 6 Plus. Media-media seperti The New York Times dan Wired telah mengulasnya sebagai smartphone yang menggiurkan.

Sialnya, iPhone SE lahir di waktu yang buruk. Di AS, pasar utama Apple, ekonomi sedang suram. The New York Times melaporkan penjualan ritel anjlok sejak Maret 2020. Ekonomi Cina, lapor BBC, menyusut 6,8 persen di tengah pandemi, terburuk sejak 1992. Lembaga Pemeringkat Moody’s Investor Service memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 akan melambat di angka 4,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Nilai ini di bawah pertumbuhan tahun 2019 yang berada di angka 5,02 persen.

Di tengah pandemi Corona, tentu sembako dan masker untuk melindungi diri dari SARS-CoV-2 lebih penting dibandingkan iPhone terbaru.

Baca juga artikel terkait IPHONE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight