Mengapa Anggaran Pengelolaan Sampah DKI Lebih Besar dari Surabaya?

Oleh: Hendra Friana - 31 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sekda DKI Saefullah mengatakan wajar bila anggaran pengelolaan sampah Jakarta lebih besar dari Surabaya karena volume sampah dan jumlah penduduknya juga berbeda.
tirto.id - Lawatan Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DKI Jakarta ke Surabaya, pada 27 Juli 2019 bikin ramai media sosial. Hal ini lantaran munculnya perbandingan soal anggaran pengelolaan sampah antara kedua daerah tersebut.

Anggota DPRD DKI Bestari Barus mengatakan, Jakarta punya anggaran bejibun, tapi justru lebih buruk dari Surabaya dalam hal penanganan sampah.

Politikus Partai Nasdem ini menyebut anggaran untuk pengelolaan sampah DKI mencapai Rp3,7 triliun. Angka itu, kata Bestari, berkali-kali lipat lebih besar ketimbang kota yang dipunggawai oleh Tri Rismaharini atau Risma.

Jika ditilik dari porsi anggaran di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI, uang yang disisihkan Jakarta untuk sampah memang cukup jumbo.

Khusus untuk program pengelolaan persampahan, misalnya, Unit Pengelola Sampah Terpadu DLH punya anggaran sebesar Rp1.086.537.095.446--hampir sepertiga dari total anggaran untuk urusan lingkungan hidup yang totalnya mencapai Rp3.498.235.091.581.

Bujet tersebut belum termasuk anggaran program lain, seperti pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, peningkatan dan pengelolaan kantor, serta pengelolaan kendaraan operasional yang totalnya mencapai Rp1.098.899.012.760.



Alokasi terbesar digunakan untuk pengelolaan persampahan digunakan untuk pengadaan lahan Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara, sebesar Rp750 miliar. Hingga saat ini, uang tersebut telah terserap sebesar 70 persen atau sekitar Rp520 miliar.

Artinya, jika tak ada proyek ITF, anggaran yang dikeluarkan DKI di hanya sekitar Rp336.537.095.446. Proyek yang bakal terintegrasi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) itu telah di-groundbreaking pada Desember 2018.

Proyek ini ditargetkan rampung dalam 3 tahun. Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, ITF Sunter dapat mengelola 2.200 ton per hari--seperempat dari total produksi sampah harian Jakarta.

Jika dibandingkan dengan Surabaya, maka wajar saja anggarannya lebih besar.

Menurut Sekretaris Daerah DKI, Saefullah, volume sampah yang dihasilkan oleh penduduk di dua daerah ini juga berbeda. Dalam sehari, Jakarta dapat menghasilkan 7 ribu ton sampah, sementara Surabaya hanya 1,6 ribu ton.



Jika dibandingkan tingkat kepadatan penduduk Jakarta juga hampir 4 kali lipat dibandingkan Surabaya. Berdasarkan data BPS, penduduk DKI sekitar 10,1 juta (per Januari 2017), sementara Surabaya cuma sebanyak 2,85 juta jiwa (per April 2018).

"Bu Risma apa? Wali Kota Surabaya. Sama dengan Jakarta Pusat. Sama ukurannya. DKI keseluruhan menjelang 8.000 ton sehari. Jadi banyak [anggarannya]" ujar Saeful saat ditemui di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2019).

Surabaya sendiri, mengalokasikan sekitar Rp474.924.244.882 dalam pagu anggaran indikatif program pengelolaan kebersihan dalam Rancana Kerja Pemerintah Daerah Surabaya tahun 2019 [PDF].

Angka tersebut bahkan jauh lebih besar dari pernyataan Risma soal anggaran pengelolaan sampah, seperti dikutip sejumlah media, yaitu sebesar Rp30 miliar.

Jika dirinci lebih jauh, maka anggaran untuk operasional pengangkutan sampah di Surabaya mencapai Rp41.397.202.610.

Sementara operasional pembersihan sampah di saluran mencapai Rp23.005.508.595. Ada pula ongkos untuk Pemeliharaan Sarana Pembersihan, Pengangkutan Sampah dan Toilet yang besarnya mencapai Rp37.754.879.804.

Lantaran itulah, belakangan Bestari juga mengakui bahwa anggaran untuk penanganan sampah di Jakarta tak bisa dibandingkan dengan Surabaya.

“Ya memang enggak bisa dibandingkan, Jakarta ini, kan, besar," kata Bestari saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (30/7/2019).


Baca juga artikel terkait SAMPAH atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Abdul Aziz
DarkLight