Melonjak Tajam, Saham Bir Anker Milik Pemprov DKI "Digoreng"?

Oleh: Ringkang Gumiwang - 21 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Harga saham perusahaan bir Anker sudah menembus Rp7.000 per saham per 19 Maret 2019, atau naik 27 persen sepanjang tahun berjalan.
tirto.id - Toni, 32 tahun, pernah merasakan pengalaman yang membahagiakan ketika membeli "saham gorengan" pada awal 2017. Pria asli Tangerang yang sedang bekerja di Medan ini meraup untung sampai dengan Rp40 juta.

“Waktu itu, saham DGIK (PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk) sedang digoreng. Dari harga gocapan, naik terus sampai Rp150 per saham. Saya masuk di Rp52 per saham, terus lepas di angka Rp80-an. Lumayan,” katanya kepada Tirto.

Setelah mencapai level tertinggi Rp150 per saham, harga saham Nusa Konstruksi pelan-pelan menurun. Saat ini, Nusa Konstruksi sudah kembali masuk ke dalam kategori saham gocapan atau harga terendah di Bursa Efek Indonesia (BEI).


Saham gorengan juga tidak selamanya membahagiakan. Toni mengaku pernah rugi Rp12 juta karena salah memprediksi. Saham gorengan memang sangat berisiko. Naik turunnya harga saham gorengan bisa terjadi tiba-tiba.

Bagi pelaku pasar modal, istilah saham gorengan tentunya sudah tidak asing lagi. Istilah ini biasanya untuk mendefinisikan sebuah saham yang harganya naik turun secara drastis dalam waktu singkat.

Disebut gorengan lantaran harga sahamnya bisa dinaik-turunkan seolah-olah makanan yang dibolak-balikkan dalam penggorengan dengan sangat cepat agar terlihat menarik, sehingga mengundang investor membeli saham tersebut.

Ihwal ini biasanya terkait dengan rumor atau aksi korporasi. Belakangan ini nama PT Delta Djakarta Tbk. (DLTA), produsen bir Anker yang sebagian sahamnya dimiliki Pemprov DKI Jakarta jadi sorotan terkait rencana Pemprov melepas saham DLTA.

Delta Djakarta merupakan salah satu penghuni lama di BEI. Ia mulai melantai di bursa sejak 1984. Saat ini, San Miguel Malaysia menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 58,33 persen, lalu Pemprov DKI Jakarta 26,25 persen dan publik 15,42 persen.

Saham PT Delta Djakarta Tbk. (DLTA) terus menghijau sejak awal tahun. Hingga 19 Maret 2019, harga saham Delta sudah menembus angka Rp7.000 per saham, atau naik 27 persen sepanjang tahun berjalan.

Harga saham Delta yang meningkat ini bukan dikarenakan ada aksi korporasi, dan bukan juga karena disebabkan kenaikan volume transaksi. Namun lebih dikarenakan kabar atau isu yang berkembang di tengah-tengah pelaku pasar.


Sempat ada rumor bahwa San Miguel Malaysia ditunjuk sebagai pembeli utama Delta, seperti yang dilaporkan oleh Kompas.com. Ada juga kabar yang mengatakan Pemprov DKI Jakarta akan melepas sahamnya di harga Rp7.300 per saham, dan beberapa rumor lainnya.

“Isu terkait Delta di pelaku pasar akhir-akhir ini memang kencang, sehingga mengerek harga saham, terutama soal San Miguel yang menjadi pembelinya,” kata Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital kepada Tirto.

Isu soal saham Delta memang tak berdiri sendiri, karena sudah ada proses sebelumnya. Sebelum Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2017, mereka sempat berjanji pada masa kampanye akan menjual seluruh saham Delta yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta.

Semenjak itulah harga saham Delta dalam tren naik hingga kini. Kenaikannya memang belum sampai rekor tertinggi yang sempat terjadi pada akhir 2014 (Rp8.000-an), dan anjlok setelah ada regulasi larangan penjualan bir di minimarket.

Sebelum Oktober 2017, harga saham Delta sedang dalam tren menurun. Pada 3 Januari 2016, harga saham Delta tercatat Rp5.200 per saham. Lalu pada akhir Oktober 2017 berada di level Rp4.500 per saham.


Setelah Anies menjabat gubernur dan diiringi pemberitaan yang masif serta isu-isu yang berkembang di pelaku pasar, saham Delta mulai merangkak naik. Hingga 30 Desember 2018, harga saham Delta menembus Rp5.525 per saham.

Tahun berikutnya, saham Delta masih merangkak naik. Apalagi, pada awal Januari 2019, Pemprov DKI Jakarta mengatakan siap melepas saham Delta pada Maret, meski belum ada kepastian mendapatkan persetujuan dari DPRD DKI Jakarta.

Infografik Kinerja keuangan PT Delta Djakarta TBK
Infografik Kinerja keuangan PT Delta Djakarta TBK


Saham Delta Masih Menanjak

Meski harga saham Delta terus meningkat, Alfred menilai bukan berarti sahamnya kategori saham gorengan. Menurutnya, kenaikan harga saham Delta yang signifikan karena didorong oleh aksi para spekulan.

Menurutnya, ciri dari saham gorengan adalah volume transaksinya tiba-tiba melonjak, atau dari sebelumnya tidak likuid, mendadak menjadi saham likuid. Sebaliknya, volume transaksi Delta tetap kurang likuid, sebelum 2017 maupun sesudahnya.

Lihat saja volume saham Delta yang diperdagangkan sejak awal tahun ini, angkanya tidak lebih dari 300.000 saham. Sebaliknya, saham volume saham Nusa Konstruksi ketika sedang digoreng bisa mencapai lebih dari miliaran saham.

“Agak kurang tepat kalau jadi saham gorengan karena dari sisi likuiditas itu enggak likuid. Nilai transaksinya per harinya juga kecil. Saham yang beredar di publik juga porsinya hanya 15 persen,” kata Alfred.

Namun, peluang saham Delta untuk tumbuh ke depannya masih terbuka lantaran harga saham Delta masih lebih murah apabila dibandingkan dengan kompetitornya, yakni PT Multi Bintang Indonesia Tbk.


Saat ini, rasio harga terhadap pendapatan (price to earning ratio /PER) Delta baru 18 kali. Sedangkan PER Multi Bintang sebesar 31 kali. Ini artinya ruang saham Delta untuk tumbuh masih terbuka karena masih menarik.

Untuk diketahui, PER adalah suatu rasio dalam analisis fundamental yang menggambarkan seberapa besar investor dalam menilai atau menghargai suatu saham dilihat dari laba bersih per sahamnya (EPS).

Biasanya, untuk mengukur apakah saham murah atau mahal, saham itu dibandingkan dengan perusahaan pada industri yang sama. Jika ternyata PER lebih kecil, maka saham itu masih diperdagangkan pada harga yang murah (undervalue).

Berdasarkan analisis Koneksi Kapital, harga saham Delta bakal menembus angka tertinggi di Rp8.500 per saham. Melihat saham yang terus menanjak, pemegang saham tentu menjadi yang diuntungkan, terutama Pemprov DKI Jakarta yang berniat menjual porsi kepemilikan sahamnya di Delta.

Apabila Pemprov DKI Jakarta melepas saham melalui pasar reguler di harga Rp7.300, maka uang yang diraup bisa mencapai Rp1,53 triliun. Namun, jika dilepas di harga Rp8.500, uang yang bisa diperoleh mencapai Rp1,78 triliun, tentu cukup signifikan perbedaannya.

Di lain pihak, kinerja bisnis Delta juga cukup positif. Setiap tahun, penjualan dan laba bersih tumbuh positif. Pada kuartal III-2018, penjualan tumbuh 14 persen menjadi Rp623 miliar dan laba bersih tumbuh 19 persen menjadi Rp187 miliar.

Selain itu, Delta juga konsisten memberikan dividen kepada pemegang saham. Dalam 5 tahun terakhir ini, Pemprov DKI Jakarta mendapatkan total dividen sebesar Rp187 miliar atau Rp37 miliar per tahun.

Rencana Pemprov DKI melepas sahamnya di Delta memang masih tarik ulur di DPRD belum ada kepastian. Tentu selama itu pula peluang saham Delta berpotensi bisa kena terpaan rumor kencang hingga digoreng oleh spekulan.

Baca juga artikel terkait SAHAM BIR atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra