Marvin Gaye: Ikon Motown yang Tewas di Tangan Ayahnya Sendiri

Oleh: M Faisal - 8 April 2018
Dibaca Normal 5 menit
Ini adalah kisah tentang musisi kulit hitam menggebrak kancah pop Amerika, sebelum akhirnya dua butir peluru menerjang tubuhnya.
tirto.id - Namanya Lian. Sosoknya kurus, rambutnya cepak beruban, dan gemar mengenakan kemeja berwarna putih. Awal bulan lalu, di Sabtu sore yang nampak cerah, saya bertandang ke kios kecil miliknya di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.

Semenjak menetap di Jakarta, saya sering berencana mengunjungi tokonya. Namun, apa daya wacana kerap sirna dengan segala alasan; entah pekerjaan maupun kemalasan. Sampai akhirnya, sore itu, semesta berhasil menuntun wacana saya menjadi kenyataan.

Lian menjual aneka koleksi piringan hitam dengan segala genre. Ada pop, rock, blues, sampai jazz. Hal yang saya suka ketika datang di tokonya adalah selain tempatnya nyaman, Lian juga tak ragu untuk memberikan rekomendasi musik yang bagus untuk didengar. Beberapa kali saat datang ke tokonya, kami terlibat pembicaraan yang mengasyikkan terutama soal jazz. Lian merupakan penggemar jazz. Salah satu musisi favoritnya ialah Dave Brubeck.

“Jazz itu proses meditasi. Cocok didengarkan sewaktu sore seperti ini atau menjelang malam dengan obrolan-obrolan yang ringan,” kata Lian.


Saya lantas meminta rekomendasi album jazz yang patut diputar dengan catatan album tersebut di luar nama-nama klasik macam John Coltrane, Bud Powell, atau Dizzy Gillespie. Ia diam sejenak. Matanya melihat rak-rak tempat koleksi piringannya disimpan. Sejurus berselang, seperti habis mendapatkan wahyu, ia mengambil piringan di sudut sebelah kiri dan memainkannya di turntable.

“Kamu tahu Marvin Gaye, kan? Ini salah satu album bagusnya dia yang jarang diperhatikan. Memang tidak jazz murni. Tapi, coba dengar. Di sini ia bernyanyi dengan elegan, lebih dari apa yang dilakukan [Frank] Sinatra,” ucapnya berapi-api.

Fokus saya langsung tertuju di album pilihan Lian. Saya memang mendengar beberapa album Marvin Gaye, terlebih kala ia berada di masa keemasannya bersama Motown. Tapi, untuk album yang disodorkan Lian ini luput dari perhatian saya.

Seketika, saya terbuai dengan nomor-nomor album yang berjudul Live at the Copa ini.

Putra Mahkota Motown

Marvin Gaye adalah legenda, simbol, dan misteri yang pernah dilahirkan musik pop Amerika. Kariernya diisi dengan segala pencapaian mengesankan dan juga kontroversi yang hingga sekarang terus diperbincangkan. Albumnya banyak diburu, sosoknya banyak dijadikan panutan penyanyi-penyanyi muda masa kini.

Dilahirkan di Washington DC pada 2 April 1939, bakat menyanyi Gaye sudah nampak sejak usianya 3 tahun. Ia sering ikut dalam paduan suara di gereja tempat ayahnya jadi pengkhotbah. Selain bernyanyi, Gaye juga dilimpahi bakat lainnya: memainkan piano dan drum. Di usianya yang ke 16, ia keluar dari SMA dan memutuskan untuk gabung Angkatan Udara.

Selepas bertugas di Angkatan Udara, Gaye kembali ke Washington dan menekuni dunia musik dengan membentuk grup Marquees yang menonjolkan permainan vokal doo-wop. Di grup ini, Gaye melahirkan nomor “Wyatt Earp” yang diterima publik secara positif.

Dari Marquees, Gaye bergabung dengan Moonglows bentukan Harvey Fuqua yang kelak juga jadi mentor bagi Gaye. Bakat Gaye semakin terasah di fase ini dan menarik atensi dari Berry Gordy Jr. yang baru saja mendirikan Motown, perusahaan musik yang berorientasi ke musisi kulit hitam.

Pada 1962, Gaye pun direkrut Motown. Awal perjalanan Gaye di Motown tak langsung jadi penyanyi. Ia lebih dulu menjadi drummer cabutan bagi artis Motown lain, seperti Smokey Robinson dan Miracles. Sampai akhirnya, ia diberi kesempatan untuk merekam album debutnya, The Soulful Moods of Marvin Gaye, yang ternyata tak sukses-sukses amat.

“Aku punya rencana permainan yang kenyataannya tidak bekerja dengan baik,” ujarnya tentang kegagalan album debutnya kepada David Ritz, penulis biografi Gaye, Divided Soul (1985).

Meski begitu, Gaye tak lama-lama meratapi nasibnya. Seperti dituturkan Tim Cahill dalam “The Spirit, The Flesh, and Marvin Gaye” (1974) yang terbit di Rolling Stone, sesaat selepas kegagalan debut albumnya, Gaye langsung mencetak hits pertamanya lewat “Stubborn Kind of Fellow” di tahun yang sama.


Semenjak itu, Gaye seolah tak bisa dihentikan. Dengan bantuan produser Motown seperti Smokey Robinson, Norman Whitflied, Holland-Dozier-Holland, hingga Nicholas Ashford, ia secara rutin melahirkan nomor-nomor hits lainnya macam “Hitch Hike,” “Can I Get a Witness,” “Baby Don’t You Do It,” “Pride and Joy,” “How Sweet It Is to be Loved by You,” sampai “One More Hearthache.”

Selain itu, Gaye turut mencetak hits terbesar yang pernah dilahirkan Motown dalam “I Heard It Through the Grapevine.” Lagu ini mulanya dibuat untuk artis Motown lainnya, Gladys Knight and the Pips. Tetapi, sang produser, Norma Whitfield, ingin lagunya dibawakan oleh Gaye. Keputusan Whitfield berbuah manis: “I Heard It Through the Grapevine” nangkring di tangga lagu selama tiga minggu berturut pada April 1969 serta terjual tujuh juta kopi di seluruh dunia.

Kritikus berpendapat Gaye merupakan penyanyi yang lengkap. Ia mampu menggabungkan nuansa gospel, soul, pop, dan jazz dalam vokalnya dan punya kemampuan menjangkau nada di atas rata-rata.

Infografik Marvin Gaye


Kesuksesan Gaye juga terjadi saat ia berduet dengan penyanyi lainnya. Tercatat, mereka yang pernah duet dengan Gaye ialah Mary Wells (“What’s Matter with You”) dan Kim Weston (“It Takes Two”). Namun, di antara nama-nama tersebut, sosok Tammi Terrel dianggap jadi pasangan terbaiknya. Keduanya disebut-sebut sebagai duet ideal dan melahirkan nomor legendaris seperti “Ain't No Mountain High Enough.”

Tapi, masa keemasan Gaye dengan Terrel tak berlangsung lama. Terrel diharuskan dirawat intensif karena tumor otak selepas jatuh di panggung saat konser pada 1967 dan meninggal tiga tahun kemudian. Kepergian Terrel membuat Gaye limbung dan ‘pensiun’ sejenak dari dunia hiburan.

“Aku memiliki pengalaman emosional dengan Terrel dan kematiannya yang tidak pernah aku bayangkan membuatku bertekad untuk tidak akan bekerja dengan [penyanyi] perempuan lagi,” ucapnya seperti dikutip The Guardian.

Merilis Album Protes Sosial

Gaye, sebagaimana diketahui, telah merilis banyak album. Rata-rata albumnya bercerita tentang cinta seperti dalam Diana and Marvin (1973), hasrat seksual (Let’s Get It On), sampai kehidupan pernikahannya bersama Anna Gondry (Here, My Dear).

Kendati begitu, ia pernah melepas album bernuansa protes terhadap situasi sosial-politik yang berkembang saat itu dalam wujud What’s Going On (1971). Album ini, catat The New York Times, dianggap sebagai tonggak musik pop 1970an dan rilisan album pertama yang bernuansa protes dari penyanyi kulit hitam dengan lagu-lagu seperti “What’s Going On,” “Save the Children,” dan “What’s Happening Brother.”

Inspirasi Gaye dalam membuat What’s Going On adalah ketika ia melihat perubahan saudaranya, Frankie, semenjak pulang dari Perang Vietnam. Ia merasa di balik sambutan terhadapnya, ada ketidaknyamanan di diri Frankie.

Apa yang dilihatnya itu membuat Gaye kepikiran. Ia lalu membulatkan tekad untuk menciptakan album yang menyentil masalah sosial terkini; Perang Vietnam, narkoba, sampai ketegangan rasial—sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme Motown yang bertemakan hal-hal populer.


Tetapi, idenya tersebut tak direstui Motown. Pihak Motown, terlebih Gordy, merasa tak suka serta tak paham apa yang hendak disampaikan Gaye dalam album itu. Di lain sisi, Motown takut albumnya bakal tak laris di pasaran. Gaye tak kalah bersikap keras. Ia mengancam tidak pernah merekam album di Motown jika albumnya tidak dirilis.

Pada akhirnya, album ini tetap rilis ke publik tahun 1971. Prediksi Gordy pun luput; What’s Going On justru sukses besar. Album ini juga turut memicu perbincangan masyarakat Amerika mengenai masalah-masalah sosial di sekitarnya, di samping juga mengubah kultur Motown secara umum. Sejak saat itu, tiap artis Motown diberikan kebebasan artistik.

“Album dan lagu ini menampilkan semacam emosi dan perasaan pribadi yang aku punya tentang situasi di Amerika dan dunia. Aku pikir, aku memiliki cinta sejati. Aku mencintai orang, aku mencintai kehidupan, dan aku mencintai semesta,” katanya kepada jurnalis Disc and Music Echo, Phil Symes, pada 1971.

Sisi Gelap dan Kematian yang Tragis

Memasuki 1980an, Gaye berada di titik nadir. Penyebabnya banyak: akumulasi berbagai masalah seperti bubarnya pernikahan dengan Gondry yang sudah berlangsung 14 tahun, kebangkrutan, hingga tuntutan hukum dari Internal Revenue Service karena perkara pajak.

Masalah-masalah tersebut memaksa Gaye pindah ke Belgia pada 1981. Di tengah pikiran kalut, ia masih merekam In Our Lifetime yang bercerita tentang cinta, seni, dan kematian.

Titik terang sempat muncul di hadapan Gaye kala Columbia Records membeli nilai kontraknya di Motown seharga 2 juta dolar. Ditambah, penasehat hukumnya menjanjikan seluruh utang Gaye bakal dihapuskan. Gaye lantas kembali ke Amerika, menetap di rumah orangtuanya di Los Angeles, merekam Midnight Love yang terjual 2 juta kopi, serta memenangkan Grammy untuk kali pertama selepas masuk nominasi sebanyak delapan kali.

Namun, bukannya bahagia dan merasa hidup kembali, Gaye justru terjebak dalam depresi akut. Belum lagi ketergantungannya akan kokain semakin memperburuk situasi. Ia kian paranoid, irasional, dan beberapa kali berupaya untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Michael Eric Dyson dalam Mercy, Mercy Me: The Art, Loves & Demons of Marvin Gaye (2004) menyebut bahwa Gaye adalah “pria yang bermasalah” serta “jenius yang cacat.” Segala hal yang dialaminya pada 1980an tidak bisa dilepaskan dari pengalaman masa kecilnya yang jauh dari ideal. Ia kerap dipukuli ayahnya hingga disodomi pamannya. Semua bertambah buruk ketika Terrell meninggal dan pernikahannya berantakan.

Walhasil, untuk mengobati masalahnya tersebut, Gaye lari ke penggunaan obat-obatan terlarang yang berujung pada ketergantungan hingga serangan depresi yang luar biasa parahnya.

Segala masalah yang dihadapi Gaye mencapai titik akhir pada Senin, 1 April 1984. Ia tewas ditembak ayahnya sendiri, Marvin Gaye Sr., setelah terlibat dalam pertengkaran yang melibatkan serangan verbal maupun kontak fisik. Gaye sempat dibawa ke Pusat Medis Rumah Sakit California, namun nyawanya tak terselamatkan.

Menurut keterangan Bob Martin dari Departemen Kepolisian Los Angeles, ia tidak mengetahui motif apa yang melatarbelakangi pertengkaran di antara keduanya. Namun, ia menjelaskan bahwa ada konflik besar yang mereka hadapi baru-baru ini. Atas perbuatannya itu, sang ayah pun ditahan sebelum akhirnya diberikan keringanan hukuman karena ia menderita tumor otak.

Terlepas dari segala kontroversi dan masalah yang ia hadapi, Gaye merupakan musisi besar yang pernah dilahirkan Amerika. Ia tak cuma penyanyi, tapi juga simbol perjuangan dan inspirasi yang tak lekang oleh zaman. Hal yang membuatnya abadi ialah ia menjadikan musik terdengar emosional tak sekedar untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk mereka yang mendengarkan.

“Sama seperti Muhammad Ali yang dilahirkan untuk tinju,” ujarnya, “aku juga dilahirkan untuk bernyanyi.”

Baca juga artikel terkait MUSISI DUNIA atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Nuran Wibisono