Manfaat Terapi Fotografi pada Penderita Gangguan Stres Pasca-Trauma

Oleh: Nindias Nur Khalika - 30 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Lewat bidikan lensa, penderita gangguan stres pasca-trauma dapat lepas dari kekhawatiran dan kepanikan yang melanda.
tirto.id - “Aku butuh pertolongan Tuhan,” kata Mark Hogancamp. “Dan Tuhan mengirimkan lima penunggang kuda untukku.” Yang dimaksud Hogancamp sebetulnya bukan lima, tapi empat penunggang kuda yang menurut Alkitab akan datang menjelang kiamat.

Kepada The Guardian, ia menuturkan kejadian nahas yang menimpa dirinya pada tahun 2000. Ia mengatakan bahwa kepalanya dipukul oleh lima orang pemuda usia dua puluhan setelah ia mengaku mengaku sebagai cross-dresser, alias orang yang suka mengenakan pakaian lawan jenis. Insiden ini terjadi di Anchorage, sebuah bar di kota Kingston, New York. Akibat pemukulan itu, Hogancamp koma selama sembilan hari.

Hogancamp tidak bisa mengingat satu pun kenangan yang telah terjadi pada hidupnya ketika sadar. Ingatan akan pernikahan, kekasih perempuan, keluarga, pengalaman tugas di Angkatan Laut, ketergantungannya pada alkohol, dan lain-lainnya lenyap dari memori Hogancamp.

Saat masa penyembuhan berlangsung, sebuah peristiwa tak mengenakkan kembali terjadi. Hogancamp tak lagi bisa menjalani terapi sebab pihak asuransi berhenti menanggung biaya terapi. “Aku benci semua orang di dunia ini ketika terapiku disetop,” katanya kepada The Guardian. “Tapi, setelah sebulan membenci semua orang, aku pun berpikir, ’Aku harus melakukan sesuatu atau kebencian dan kemarahan ini akan terus tumbuh dan membunuhku.’ Aku harus melakukan sesuatu.”


Hogencamp pun membuat miniatur kota fiktif di Belgia bernama Marwencol dengan latar Perang Dunia II. The New York Times menyebutkan, nama Marwencol diambil dari nama depan Hogancamp dan nama dua perempuan yang pernah ia sukai, yakni Wendy dan Colleen. Cerita yang dibangun berkutat pada penyelamatan pilot pesawat tempur Amerika Serikat oleh perempuan-perempuan Marwencol. Kota itu, kata Hogancamp, tengah dilanda peperangan seperti halnya wilayah lain di Belgia selama Perang Dunia II.

The New York Times menjelaskan tema-tema kisah Marwencol tidak jauh dari pengalaman Hogancamp: kebrutalan laki-laki, tempat berlindung yang aman di kota yang didominasi perempuan, serta kemarahan dan ketakutan. Selama bertahun-tahun Hogancamp mengabadikan kisah-kisah di Marwencol dengan menggunakan kamera lawas bermerek Pentax. Ia pun berhasil menciptakan foto bergaya noir yang emosional dan memukau.

Meski masih berjuang dengan gangguan stres pasca-trauma, proses kreatif Hogancamp yang memanfaatkan medium fotografi dan seni miniatur lambat laun membuatnya merasa lebih baik. Kepada The Guardian, ia mengatakan bahwa dirinya berkali-kali “membunuh” lima penyerang dirinya tersebut. “Aku tidak bisa melakukannya di kehidupan nyata. Aku melakukannya dalam pikiran. Pertama kali membunuh mereka, aku merasa lebih baik. Kebencian dan kemarahan yang memuncak perlahan mereda,” kata Hogancamp.

Serupa dengan Hogancamp, veteran prajurit AS Michael McCoy juga menggunakan fotografi agar sembuh dari gangguan stres pasca-trauma. Seperti yang dilaporkan The New York Times, laki-laki asal Baltimore barat ini mengalami stres pasca-trauma sekembali dari dinas di Iraq. Awalnya McCoy menyangkal. Ia percaya tentara yang meninggal atau kehilangan anggota tubuh lebih tersiksa daripada mereka yang mengalami luka psikologis. Tapi, gangguan itu semakin parah semenjak ia pensiun pada 2008 dan bekerja di bidang sumber daya manusia Angkatan Darat dan Angkatan Laut.


New York Times mengatakan bahwa meski telah mengikuti terapi stres pasca-trauma, McCoy tetap dilanda kekhawatiran, kesulitan tidur, dan kepanikan yang kadang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. McCoy merasa terisolir dari kehidupan orang sipil yang menurutnya minim ikatan persaudaraan dan rasa saling percaya. Di tengah kondisi seperti itu, ia rentan menjadi alkoholik, pencandu obat terlarang, atau bahkan bunuh diri. Tapi, McCoy mengalihkan kegelisahannya ke fotografi.

“Aku tahu hidup terus berjalan, tapi terkadang kami para veteran tidak merasa kalau kami adalah bagian dari kehidupan itu,” katanya kepada New York Times. "Kamera membuatku berada di zona nyaman, yakni dunia kecil milik diri sendiri. Rasanya aku kembali menjadi Mike yang asli, seperti Mike kecil dari Baltimore barat.”

Mereka yang pernah bertugas di medan perang, diperkosa, dirampok, mengalami kecelakaan, atau menjadi korban bencana alam rentan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca-trauma. Menurut situs Alodokter, PTSD merupakan kondisi kejiwaan yang dipicu oleh peristiwa tragis yang pernah dialami atau disaksikan seseorang.

PTSD termasuk kelompok gangguan kecemasan yang membuat penderitanya tidak bisa melupakan atau justru tidak mau mengingat pengalaman traumatis tersebut. Mereka yang menderita gangguan stres pasca-trauma juga berpikiran negatif terhadap diri sendiri dan dunia sekitarnya. Masih menurut Alodokter, orang yang mengalami PTSD susah berkonsentrasi, sulit tidur, selalu merasa bersalah dan terisolir dari lingkungan sekitar, serta sering mendapat mimpi buruk.

Infografik Stres Pasca Trauma


Fotografi memang dapat dipakai untuk menyembuhkan penderita PTSD. Di dunia medis, medium ini terbukti bisa mengobati mereka yang menderita gangguan stres pasca-trauma. Departemen Veteran Amerika Serikat di Palo Alto, misalnya, memakai fotografi untuk membantu mengobati para veteran dengan PTSD. Badan pemerintah yang terletak di California ini memberikan kamera pada para pensiunan tentara dalam lokakarya yang dilaksanakan selama enam minggu.

Susan Quaglietti, perawat Departemen Veteran Amerika Serikat, mengatakan bahwa terkadang penderita PTSD lebih mudah berkomunikasi lewat kamera dibandingkan berhadapan langsung dengan terapis. Oleh sebab itu, ia sengaja mendesain sebuah program yang memungkinkan para veteran menemukan fokus baru selama masa penyembuhan.

Situs Petapixel mengatakan bahwa para veteran merasakan manfaat besar dari lokakarya fotografi. Richard Hobbs, salah satu peserta lokakarya, mengaku fotografi membantunya melihat hal-hal yang telah ia lalui dari perspektif yang lebih besar.


Hobbs adalah seorang dokter hewan yang diturunkan dalam kancah Perang Vietnam. Di sana, ia mengalami kejadian traumatis. Sebagaimana dituturkan Petapixel, Hobbs terpaksa membunuh seorang perempuan beserta bayinya yang saat itu berusaha menarik kait pemicu granat. Tindakan mempertahankan diri Hobbs justru berbuah kecaman sekembalinya ia ke Amerika.

Data Veteran Affairs yang dikutip Petapixel menyatakan bahwa stres pasca-trauma diderita oleh 31% veteran AS dalam Perang Vietnam (1964-1974), 10% veteran Operasi Badai Gurun dalam Perang Irak (1990-1991), 11% veteran Afghanistan (sejak 2001), dan 20% veteran Perang Irak (sejak 2003).

Selain Hobbs, ada pula Christine Stout-Holmes, seorang prajurit yang pernah diperkosa oleh seorang sersan saat mengikuti pelatihan dasar. Ia mengatakan bahwa fotografi membantunya melawan rasa ketertindasan. "Represi adalah musuh, sementara ekspresi adalah penawarnya, ujar Stout-Holmes.

Tak hanya fotografi, seni secara luas bisa menjadi terapi bagi mereka yang menderita PTSD. Menurut Melisa Campbell dalam “Art Theraphy and Cognitive Processing Theraphy for Combat-Related PTSD: A Randomized Controlled Trial” (2016), kepingan ingatan traumatis tersimpan dalam bentuk non-verbal dan dapat dihadirkan kembali melalui elemen visual, kinestetis pendengaran, penciuman, sensoris, dan afektif. Terapi seni, di titik ini, dapat menjangkau ingatan akan trauma dengan cara melibatkan indera.

Campbell mengatakan bahwa terapi seni menawarkan cara yang aman untuk mengakses ingatan traumatis lewat penggunaan simbol. Ia menjelaskan bahwa simbol mampu mengonsolidasikan pengalaman penderita dengan dengan terlebih dahulu mengubah bentuk-bentuk artistik menjadi komunikasi berbasis bahasa.

Dengan teknik ini, pasien dapat mengingat urutan kejadian traumatis di masa lalu. Teknik ini juga akan membuat mereka merasa aman untuk memecahkan peristiwa-peristiwa menyakitkan tersebut.

Baca juga artikel terkait STRES atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf