Advertorial

Langkah Tokopedia Hadapi "Panik Belanja"

Oleh: Advertorial - 5 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kepanikan terjadi, terutama karena dipicu banyak kabar bohong atau kabar salah yang tersebar lewat berbagai kanal informasi.
tirto.id - Pada 2017, Wulandari sedang ada di Orlando, Amerika Serikat, untuk sebuah pekerjaan. Sejak awal kedatangannya, dia mendapat beberapa kali pengumuman soal akan munculnya Badai Irma. Ini adalah badai yang masuk dalam kategori 5, alias yang terkuat. Tak cukup hanya itu, Irma juga dianggap badai paling dahsyat yang menghantam Amerika Serikat sejak Katrina 2005 silam. Saking mengerikannya, badai ini diberi julukan Irmageddon.

Jelang datangnya badai, Wulan pergi ke supermarket dekat hotelnya untuk membeli bahan makanan dan perlengkapan darurat seperti senter. Di sana, dia mendapati suasana yang selama ini cuma dilihatnya dari film-film bertema bencana alam.

“Rak banyak yang kosong melompong, perlengkapan darurat nyaris tidak tersisa, antrean panjang mengular, bahkan sampai ada yang berkelahi karena rebutan tisu. Chaos banget, buset, ” ujar kawan ini.

Yang tak pernah dia sangka, pemandangan mirip persiapan menyambut hari kiamat seperti itu kembali dia lihat di tempat tinggalnya sekarang: Depok.

Semua bermula dari pengumuman Presiden Jokowi tentang dua pasien pertama penyakit baru yang disebabkan virus. Dua pasien itu kebetulan berasal dari Depok. Sejak pengumuman itu, mulailah kepanikan terjadi, terutama di Depok. Banyak yang termakan isu tidak benar, dan semua tindakan naluriah terjadi karena dipicu kepanikan belaka.

Di berbagai media sosial, muncul foto-foto tentang antrean panjang, barang-barang yang lenyap dari rak, juga reseller yang menjual perlengkapan kesehatan seperti masker atau hand sanitizer dengan harga hingga ratusan kali lipat dari harga normal.

“Sejak lima tahun tinggal di Depok, aku gak pernah liat antrean sepanjang itu di minimarket dekat rumah. Dan gak pernah aku lihat rak hand sanitizer kosong melompong,” kata Wulan.

Wulan mencoba pergi ke lima mini market yang tak jauh dari rumahnya. Sama saja: semua masker dan stok hand sanitizer kosong.

“Dan di media sosial, banyak yang jual masker dengan harga satu kotak ratusan ribu, begitu juga hand sanitizer. Sudah gila orang-orang yang ambil keuntungan di kondisi kayak gini,” keluh Wulan.

Suluh di Saat Gelap

Untuk mencegah penyakit karena virus ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan kita terus menjaga kesehatan dan orang lain. Caranya bagaimana? Yang paling mudah adalah cuci tangan dengan air dan sabun, atau pembersih tangan yang mengandung alkohol.

“Karena membersihkan tangan dengan sabun dan air, atau menggunakan pembersih tangan dengan alkohol bisa membunuh virus yang ada di tanganmu,” tulis keterangan di situs WHO.

Nasihat kesehatan lainnya adalah jaga jarak minimal satu meter dari orang yang sedang batuk atau bersin; menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan; juga menutupi mulut dan hidung dengan lengan bagian dalam atau tisu ketika batuk atau bersin.

Sebenarnya, sudah banyak ahli kesehatan yang memberikan saran: tak perlu panik. Timothy Brewer, Profesor Kedokteran dan Epidemiologi di UCLA Fielding School of Public Health, mengatakan nasihat utamanya bukanlah soal medis, melainkan: jangan panik.

“Gak ada gunanya panik. Jangan biarkan ketakutan dan emosi membuatmu jadi tak logis dalam merespons kabar soal virus ini. Memang, isu ini bisa jadi sulit karena ini penyakit baru dan kita semua masih belajar. Tapi tetap saja, jangan panik,” ujarnya pada The Washington Post.

Namun apa boleh buat, kepanikan tetap terjadi, terutama karena dipicu banyak kabar bohong atau kabar salah yang tersebar lewat berbagai kanal informasi. Tak hanya di Indonesia, belanja karena panik (panic buying) ini juga terjadi di negara-negara seperti Australia, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Bahkan kepanikan ini membikin mereka beli barang yang dianggap tidak berkaitan dengan pencegahan penyakit itu, semisal beras, tepung, juga tisu toilet dalam jumlah yang tidak masuk akal.

“Anggap saja skenario terburuknya adalah sebagian besar dari kalian akan sakit dan perlu dikarantina dua minggu,” ujar Tony Bartone, Presiden Australian Medical Association pada The Guardian. “Jadi cukup stok barang buat dua minggu saja. Tidak perlu berlebihan.”

Beruntung, ada marketplace yang bersedia jadi suluh di saat gelap seperti ini. Tokopedia, misalkan, membuat program Tokopedia Peduli Sehat demi menjaga agar orang-orang tidak terus panik. Program dari marketplace terbesar di Indonesia ini menyediakan aneka macam produk kesehatan yang bisa menjaga higienitas hingga produk yang meningkatkan daya tahan tubuh agar tak mudah terserang virus.


Header Advertorial Tokopedia
Tokopedia Peduli Sehat. FOTO/Tokopedia



Program ini juga menghadirkan berbagai produk kesehatan dari harga mulai Rp10 ribu. Ada produk herbal yang terbukti menguatkan daya tahan tubuh seperti bubuk jahe merah, empon-empon dan bubuk kunyit. Untuk masker, program ini menyediakan berbagai jenis masker termasuk yang diskon dari harga Rp30 ribu jadi Rp10 ribu. Ini jauh lebih murah ketimbang beli di para penimbun, yang mematok harga ratusan ribu rupiah. Ada pula semprotan antiseptik dan hand sanitizer, essential oil, sabun cuci tangan, hingga beragam jenis vitamin dan suplemen.

Yang lebih menarik, belanja di program ini bebas ongkir sepuasnya ke seluruh Indonesia. Tak perlu lagi rebutan barang, antre panjang, dan bikin pusing. Cukup buka Tokopedia—situs belanja dengan pilihan produk dan barang terlengkap—untuk memilih barang-barang yang dibutuhkan, bayar, dan tunggu belanjaanmu sampai. Namun jangan lupa ingat pesan para ahli kesehatan: tak perlu panik dalam membeli, maka tak perlu pula menumpuk banyak barang dalam jumlah tak masuk akal.

Wulan yang sedikit trauma dengan suasana ricuh di supermarket di dua kota, kini bisa bernapas lebih lega. Belanja barang kesehatan cukup mengandalkan telunjuknya saja. Mudah, murah, dan dijamin tak akan mengalami adegan seperti di film-film apokaliptik.
DarkLight