Menuju konten utama

Krisis Qatar Berdampak Buruk Pada Pariwisata Indonesia

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyatakan krisis Qatar bisa membawa dampak buruk ke sektor pariwisata Indonesia karena akan memangkas angka kunjungan turis asal Timur Tengah ke tanah air.

Krisis Qatar Berdampak Buruk Pada Pariwisata Indonesia
(Ilustrasi) Seorang pria berjalan melewati kantor Qatar Airways di Manama, Bahrain, Senin (5/6/2017). ANTARA FOTO/REUTERS/Hamad I Mohammed.

tirto.id - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan keputusan sejumlah negara kuat di Arab memutus hubungan diplomatik dengan Qatar akan berdampak buruk bagi sektor pariwisata Indonesia.

Arief memperkirakan Indonesia akan kehilangan potensi kunjungan puluhan ribu wisatawan mancanegara (wisman) asal Timur Tengah, terutama mereka yang selama ini menjadi pengguna maskapai Qatar Airways.

"Sekitar 100.000 hilang, sebanyak 70 persennya wisman, impactnya katakan 2017 ini tinggal 7 bulan sekitar 50.000 wisman hilang karena Qatar diboikot," kata Arief di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Selasa (6/6/2017) seperti dikutip Antara.

Angka itu, menurut Arief, diperkirakan hanya mencakup mereka yang menggunakan maskapai Qatar Airways, terutama penumpang dari negara-negara Timur Tengah yang memboikot negara Teluk itu.

"Sekitar 100.000 orang yang naik itu, 70 persennya itu wisman, lainnya wisnus (wisatawan dalam negeri) dan nonwisman. Itu setahun. Ini sama dengan tahun lalu cara menghitungnya. Impactnya kalau tujuh bulan untuk tahun ini ya 70 persennya lagi. Jadi sekitar 49.000 sampai 50.000 orang," kata Arief.

Karena itu, sebagai langkah antisipatif, Arief akan berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan untuk mencari pengganti lisensi maskapai Qatar Airways ke maskapai lain seperti Emirates dan Etihad.

"Akan kita pindahkan, yang tadinya naik Qatar, kita pindah ke Emirates dan Etihad. Pertama pesawatnya, yang tadinya lisensinya kita berikan ke Qatar saya minta ke Kemenhub nanti untuk mindahin itu. Apa boleh buat, wong nggak bisa terbang dia. Kalau enggak, kita rugi 100.000. Besar sekali," kata Arief.

Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan itu, Arief melanjutkan, akan dilaksanakan secepat mungkin dan setidaknya sudah dilakukan dalam pekan ini.

"Kalau ini ya sesegera mungkin. Saya kira minggu ini sudah selesai," katanya.

Sebelumnya, Arab Saudi dan negara-negara koalisi Arab seperti Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Yaman dan Maladewa telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Krisis politik ini mengundang berbagai aksi boikot terhadap Qatar yang dianggap telah mendukung terorisme. Boikot itu termasuk menutup akses terbang Qatar Airways ke negara-negara tetangganya.

Baca juga artikel terkait QATAR atau tulisan lainnya dari Addi M Idhom

tirto.id - Ekonomi
Reporter: antara
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom