Menuju konten utama

Kreativitas Kebablasan ala Emery Bikin Arsenal Kalah dari Wolves

Saat melawan Wolves, Unai Emery mengganti formasi Arsenal jadi 4-2-3-1 dan melakukan tujuh perombakan pada starting line-up. Kreativitas kebablasan ini akhirnya berujung kekalahan 3-1.

Kreativitas Kebablasan ala Emery Bikin Arsenal Kalah dari Wolves
Pemain Wolves, Diogo Jota berduel bola dengan Sokratis Papastathopoulos dari Arsenal (kanan) selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Arsenal di Stadion Molineux di Wolverhampton, Inggris, Rabu, 24 April 2019.Rui Vieira / AP

tirto.id - Arsenal menelan kekalahan 3-1 dari tuan rumah Wolverhampton (Wolves) dalam pertandingan Liga Inggris (EPL) di Stadion Molineux, Kamis (25/4/2019) dini hari waktu Indonesia. Hasil itu memastikan Meriam London menderita kekalahan beruntun pertama sejak terakhir mengalaminya pada dua laga awal musim ini.

Dampak dari kekalahan ini tak main-main. Arsenal batal merangsak naik ke zona Liga Champions dan tetap terpaku di urutan lima klasemen--terpaut satu angka dari Chelsea (peringkat empat) dan empat angka dari Tottenham (peringkat tiga)--.

Dengan sisa tiga pertandingan di EPL, langkah Arsenal menembus empat besar sudah tidak lagi berada di tangan sendiri. Skuat asuhan Unai Emery kini harus bergantung pada hasil yang diraih Spurs maupun Chelsea.

Secara statistik pertandingan, rapor Arsenal saat kalah dari Wolves sebenarnya tidak menunjukkan kekhawatiran. Meriam London menguasai pertandingan dengan 71 persen ball posession (Wolves cuma 29 persen) dan akurasi umpan 88 persen (Wolves hanya 74 persen) dan 690 jumlah umpan, jauh lebih banyak ketimbang Wolves yang cuma 285.

Namun, bukan berarti Arsenal tidak layak kalah. Secara permainan di atas lapangan, Wolves memang lebih layak menang. Bukan karena angka, tapi Wolves bikin lebih sedikit kesalahan dibanding Arsenal.

Celah Arsenal Dimanfaatkan Wolves

Unai Emery banyak bikin salah langkah. Salah satu yang paling mendasar adalah penggunaan formasi 4-2-3-1. Formasi ini membuat Arsenal punya celah di sektor kanan pertahanan mereka, karena pemain The Gunners yang paling versatile, Ainsley-Maitland Niles tidak mendapat proteksi yang cukup dari pemain-pemain di depan dan belakanganya.

Arsenal vs Wolves

Formasi Arsenal
Formasi Arsenal saat lawan Wolves (sumber: Whoscored)

Henrikh Mkhitaryan yang bermain di depan Niles kerap terlambat melakukan pressing, sehingga bola-bola panjang Wolves dari sayap kiri dengan mudah melewati Niles. Begitu pula bek tengah sisi kanan Arsenal, Sokratis Papastathopoulos yang punya daya jelajah minim.

Pelatih Wolves, Nuno Espirito Santo sejak awal juga sudah mengendus celah di sisi kanan pertahanan Arsenal. Ini terlihat dari langkah Nuno memfokuskan serangan Wolves dibangun dari sayap kiri (mengincar sisi kanan pertahanan Arsenal). Data Whoscored menunjukkan kalau Wolves membangun 47 persen serangannya (paling banyak) dari sayap kiri.

Arsenal vs Wolves

Peta Serangan Wolves
Wolves banyak menyerang dari sisi kiri (sumber: Whoscored)

Hasilnya bisa ditebak. Sepanjang laga, Maitland-Niles sekadar dipermainkan wingback kiri Wolves, Jonny Castro Otto, dan gelandang kiri Wolves, Joao Moutinho. Statistik bahkan menunjukkan Niles tujuh kali kehilangan bola, alias yang paling banyak dibandingkan pemain-pemain Arsenal lainnya.

Gol kedua Wolves dalam laga semalam juga tidak lepas dari celah di sisi kanan pertahanan ini. Minimnya penjagaan terhadap Jonny Castro membuat pemain berusia 25 tahun itu leluasa mengirimkan umpan lambung ke kotak penalti yang dikonversi Matt Doherty dengan sundulan akurat ke gawang Bernd Leno.

Gagal Build-up

Selain celah di sisi kanan pertahanan, buruknya skema 4-2-3-1 Arsenal diperparah dengan sering gagalnya serangan yang mereka bangun. Salah satu kelebihan yang ditawarkan formasi ini sebenarnya ada pada keseimbangan dalam menyerang. Sayang, aspek ini tidak dimaksimalkan dengan baik oleh double-pivot Arsenal, Lucas Torreira dan Granit Xhaka.

Kritik yang paling tajam jelas muncul untuk Torreira. Pemain asal Uruguay itu seperti kehilangan magisnya. Diberi kesempatan tampil satu babak, dia gagal membuat satu pun umpan kunci (key-pass).

Pengamat sepakbola dari The Times, James Gheerbant menyebut salah satu penyebab kegagalan Torreira menjalankan peran dengan baik adalah ketidakmampuannya keluar dari bayang-bayang Joao Moutinho dan Ruben Neves. Sepanjang babak pertama, kedua pemain itu mampu menutup ruang umpan dan mengawal Torreira dengan ketat.

"Pengaruh Toreira seperti mengilang. Arsenal memang menguasai bola, tapi kontrol mereka di lini tengah dicuri sepenuhnya oleh Wolves. Pemain kunci di area itu [Torreira], dimatikan dengan sempurna oleh Joao Moutinho dan Ruben Neves yang menyempurnakan dengan baik peran Jonny Castro di wingback kiri," tulisnya.

Untuk kasus Granit Xhaka, kreativitasnya tak terlalu mengkhawatirkan. Setidaknya Xhaka masih mampu mengkreasi tiga umpan kunci ke lini depan.

Hanya saja, performa itu tercoreng kesalahan mendasar dalam hal eksekusi. Kesalahan paling kentara terjadi pada injury time babak pertama. Kecerobohan Xhaka mengirim umpan membuat bola mudah direbut pemain Wolves. Bola itu lantas dilanjutkan dengan serangan cepat yang berujung gol Diogo Jota.

Itu bukan satu-satunya kesalahan Xhaka. Pada gol pertama Wolves, kelengahannya juga membuat pemain lawan dapat menguasai bola dan membikin Nacho Monreal terpaksa melanggar di depan kotak penalti. Kejadian ini direspons Neves dengan tembakan bebas yang mengawali petaka Arsenal.

Senjata Makan Tuan

Salah satu pertimbangan Emery menerapkan 4-2-3-1 mudah ditebak. Dengan jumlah pemain lebih di lini depan, Emery berharap Arsenal mendapat lebih banyak dilanggar pemain lawan, sehingga punya keuntungan dalam jumlah set-piece.

Hitung-hitungan tersebut bukan dibuat tanpa dasar. Faktanya, rekapitulasi The Times menunjukkan kalau Wolves adalah klub EPL dengan jumlah rata-rata pelanggaran ketiga terbanyak. Statistik ini menimbulkan potensi keuntungan bagi The Gunners.

Kendati demikian, sepanjang pertandingan, Arsenal gagal memaksimalkan setiap set-piece dengan baik. Dari delapan bola mati yang mereka dapat di area pertahanan Wolves (termasuk sepak pojok), hanya satu yang berujung gol.

Situasinya jadi lebih miris lantaran justru Arsenal yang dihajar Wolves lewat situasi set-piece. Dari tiga gol yang masuk ke gawang Bernd Leno, dua di antaranya terjadi dari tembakan bebas dan sepak pojok.

Aspek itu pula yang kemudian bikin Unai Emery berang. Usai pertandingan, Emery tidak segan mengatakan jika para pemainnya gagal menerapkan rencana yang sudah dia susun.

"Saya marah juga terhadap diri saya, sebenarnya kami tidak bermain sesuai rencana yang saya inginkan," ujar pria asal Spanyol itu.

Telat Adaptasi & Kebanyakan Rotasi

Pada separuh terakhir babak kedua, Unai Emery sempat merotasi permainan. Emery mengganti formasi Arsenal jadi 3-4-2-1. Masuknya Matteo Guendouzi dan Eddie Nketiah menyempurnakan perubahan ini.

Guendouzi yang menggantikan Torreira sebagai pivot tampil ciamik, begitu pula Nketiah yang diandalkan sebagai pengganti Alex Iwobi di sayap kiri. Kecepatan yang ditawarkan keduanya pelan tapi pasti membuat Arsenal mulai dapat banyak peluang.

Hasilnya pun cukup jelas, Arsenal mampu memperkecil ketertinggalan lewat gol sundulan Sokratis yang berawal dari sepak pojok Granit Xhaka.

Sayang, langkah jitu itu terlambat diterapkan Emery. Waktu 15 menit jelas tidak cukup buat memangkas defisit tiga gol yang terjadi sejak babak pertama. Stuart James, jurnalis The Guardian yang hadir langsung menyaksikan laga mengamininya.

"Sokratis mencetak gol sekitar 10 menit terakhir, tapi ancaman yang telah ditimbulkan dari kekeliruan-kekeliruan langkah sebelumnya membuat Arsenal tidak terselamatkan," tulis James.

Namun soal perubahan, James tidak hanya menyoroti langkah yang dilakukan Emery saat bertanding. Dia juga menyayangkan terlalu banyaknya rotasi yang dilakukan sang pelatih dibanding pertandingan terakhir kontra Crystal Palace.

Total ada tujuh pergantian di starting line-up Arsenal, termasuk menepinya Pierre-Emerick Aubameyang akibat cedera dan Skhodran Mustafi karena rapor merahnya.

Pergantian memang wajar, tapi menurut James, rotasi sampai lebih dari setengah skuat adalah hal yang berlebihan. Aspek ini pula yang ikut berkontribusi membuat performa Arsenal tidak stabil sejak menit pertama.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Herdanang Ahmad Fauzan