Kisah Daniel Maukar, Pilot AURI yang Nekat Menembaki Istana Negara

Oleh: Petrik Matanasi - 31 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Belum ada orang Indonesia yang menembaki istana negara Jakarta selain pilot AURI bernama Daniel Alexander Maukar.
tirto.id - Sam Karundeng pindah dari Makassar ke Jakarta pada 1947. Laki-laki kelahiran 1929 ini tinggal di Jalan Lumandan Blok C nomor 28, Kebayoran. Dua belas tahun kemudian, 1959, ia terlibat dalam salah satu petualangan politik paling berbahaya di Indonesia.

Suatu waktu di Singapura, Sam bertemu dengan Boy Mamahit, sahabatnya sejak 1955. Boy mengajak Sam untuk berhubungan dengan orang-orang Permesta. Sam sendiri mengaku pernah menginap di rumah Kolonel Kawilarang. Oleh seseorang bernama Willy Pantouw, Sam diperingatkan untuk tidak berhubungan dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berbasis di Sumatera.

Menurut Abdul Haris Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua (1984:391), “Pantouw memberi kesanggupan untuk bantuan dana dan membiayai gerakan.” Menurut Nasution, Sam melancong ke Singapura pada Juni 1959. Boy Mamahit memperkenalkan Sam kepada Kolonel Sukanda Bratamenggala. Berkali-kali, Sam bikin rapat gelap.

Sam mengajak koleganya, Herman Maukar dan Daniel Alexander Maukar alias Danny, untuk ikut dalam sebuah persekongkolan. Keduanya anak dari Enna Talumepa dan Karel Herman Maukar, seorang perwira polisi. Sam dan si anak polisi ini sudah berkenalan sejak zaman Jepang. Kala itu, Danny sudah jadi letnan penerbang di Angkatan Udara. Ia menolak ajakan Sam. Sikap berbeda ditunjukkan sang kakak, Herman Maukar, yang memang sudah ikut gerakan bawah tanah Sam Karundeng.


Sejak Februari 1960, barulah sang letnan Angkatan Udara itu tahu bahwa nama gerakan Sam Karundeng adalah Manguni, yang bertujuan “menuntut perdamaian nasional”—begitulah terang Herman ke Danny yang waktu itu tinggal di Bandung. Terkait Manguni, Sam Karundeng dalam kesaksiannya di Pengadilan Maukar (21/06/1960) mengaku “sejak bulan Februari 1960 Manguni menggabung dengan organisasi–organisasi yang sudah ada dibawah Bratamanggala, oleh karena tujuan perdamaian yang ditentukan oleh Manguni.”

Di kalangan militer, seperti diakui Danny dalam persidangannya pada Senin 20 Juni 1960 (berdasarkan Berita Acara Persidangan, ANRI Djamal Marsudi 106: Berita Acara Pemeriksaan Tertuduh Daniel Alexander Maukar dan Para Saksi Dalam Sidang Tanggal 20-23 1960), “ada perwira-perwira yang lebih tinggi daripada saya dan lebih berpengalaman ikut terlibat di dalamnya dan saya percaya mereka tidak akan berbuat sesuatu apabila tidak berhasil.”

Daniel juga menyebut keberadaan kekuatan bersenjata yang akan memasuki Jakarta dengan tujuan “perdamaian nasional”. Sam Karundeng bahkan menjelaskan ada kelompok militer dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terlibat. Rencananya, kelompok ini akan dipimpin oleh Mayor Bunjamin dan Kolonel Bratamenggala.

Suatu malam sebelum 2 Maret 1960, Sam Karundeng, Herman Maukar dan Daniel Maukar menemui mereka guna menyusun sebuah rencana. Sam Karundeng mengusulkan agar Daniel menembaki tangka-tangki minyak BPM di Prumpang dan Istana Negara sebagai gertakan kepada pemerintahan Sukarno. Hangusnya tangki-tangki BPM tentu akan melemahkan Menurut rencana, setelah menembaki obyek vital penting tadi, Maukar “disuruh melompat ke Malangbong.” Di pengadilan (21/06/1960) Sam Karundeng mengaku jika daerah Malangbong adalah”tempat operasi Batalyon 3 Mei”. Batalyon yang berdiri di Manado pada 1950 ini punya banyak personel dari Minahasa.

Rencana yang semula akan dijalankan pada 2 atau 3 Maret, diundur hingga 9 Maret 1960. Rencananya, penembakan itu akan disusul oleh pasukan yang bergerak ke Jakarta. Pada 8 Maret mereka berkumpul lagi. Jika penembakan dilaksanakan pada tanggal 8, maka tanggal 9 akan ada pergerakan pasukan. Sam Karundeng berencana menculik Presiden Sukarno, Perdana Menteri Djuanda, Kepala Staf Angkatan Darat Nasution dan Kepala Staf Angkatan Udara Surjadi Surjadarma.

“Saya dapat melaksanakan penembakan karena besoknya saya akan terbang sendiri,” aku Daniel. Tempat yang akan ditembakinya adalah tangka-tangki BPM, Istana Merdeka dan Istana Bogor.

Pagi-pagi sekali, pada 9 maret 1960 itu, Daniel sempat bertemu Sam sejenak. Pihak Angkatan Udara tidak akan curiga, karena jadwal latihan rutin Daniel bersama pesawatnya MiG-17 memang jatuh pada hari itu. Kebetulan ada jadwal supersonic boom, dengan sasaran selatan pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Daniel mendapat jatah terakhir setelah Letnan Satu Goenadi, Letnan Dua Sapoetro dan Letnan Satu Sofjan Hamsjah. Letnan Sofjan Hamsjah bertindak sebagai komandan latihan. Belakangan diketahui bahwa supersonic boom Maukar yang sesungguhnya berjarak agak jauh dari Halim.

Sasaran pertama setelah mengudara adalah tangka bensin BPM. Daniel tahu persis bahwa kawasan BPM adalah daerah tertutup dan sepi. Tidak sulit untuk mengetahui kawasan itu karena Herman Maukar bekerja di BPM. Dari ketinggian “800 meter dengan sudut 30 derajat, kira-kira, saya melakukan penembakan,” kata Daniel Maukar. Ada tiga jenis senjata di pesawatnya. Namun, salah satunya rusak.

Setelah sasaran pertama beres, Daniel bergerak ke Istana Merdeka. Sebelumnya, Sam Karundeng telah membisiki Danny bahwa tiap hari kerja, Presiden Sukarno biasanya berada di ruangan sebelah kanan istana. Dari ketinggian 600 meter, Maukar menembak dari arah selatan. Istana dia beri tembakan satu kali. Setelahnya, Danny mengaku langsung menuju ke Bogor. Sesampainya di kota hujan itu, ia “lepaskan lagi tembakan di Istana Bogor”.

Infografik Daniel Alexander Maukar


Setelah itu, Maukar terbang melintasi Bandung, lalu ke Malangbong untuk terjun. Menurut rencana, Sam dan Herman akan menantinya dengan memberi kode asap. Sesampainya di sana, Danny tak melihat asap. Sam mengaku asap yang dinyalakan Herman cukup kecil hingga tak terlihat Danny. Kala itu, Sam belum tahu jika Daniel baru saja melaksanakan penembakan. Namun, di sekitar Malangbong, Sam dan Herman tak melihat pesawat Daniel sampai akhirnya Sam mendengar berita dari radio bahwa sasaran Daniel sudah tereksekusi dan pesawat jatuh di Leles, Garut. Tak lama kemudian, Daniel jadi tahanan.

Pesawat MiG-17 tunggangan Daniel mendarat secara darurat di Leles, sekitar pukul 2 siang. Menurut kesaksian Kapten udara Dudi Rahaju Kamarudin (21/06/1960), sayap kiri pesawat itu terputus, sayap kanan tertutup lumpur, dan airbrake-nya rusak. Daniel, pemuda kelahiran Bandung, 20 April 1932 itu mengaku telah merusak pesawatnya dengan cara pendaratan darurat di landasan udara.

“Kalau saya sehat saya akan dibawa kembali ke Jakarta malamnya,” aku Daniel. Awalnya ia sangat percaya jika pasukan bersenjata yang dimaksud Sam Karundeng bisa masuk ke Jakarta dan sukses, sehingga ia akan kembali ke Halim tanpa harus jadi pesakitan. Jika gagal, maka Daniel akan masuk hutan, bersama Herman, Sam, dan Front Pemuda Sunda. Bahkan, ada kelompok Darul Islam yang juga diyakini akan bergabung.

Dalam persidangan Selasa 21 Juni 1969, aksi Maukar dinyatakan terkait dengan Permesta yang masih bergerilya di Sulawesi Utara kala itu. Menurutnya, “mengenai operasi perdamaiannya (bersama kelompok Manguni) Permesta tidak mengetahuinya.”

Menurut Nasution (1983:392), Maukar memperoleh uang sebesar Rp20.000 dari kelompok Manguni. Setelah TH Tombang tertangkap pada 11 Februari 1960, diketahui Kelompok Manguni punya organisasi bawahan bernama Manimporok, Masarang, Mahatus, Soputan dan Mahawu.

Ketika diadili, Daniel Maukar dibela oleh Hadely Hasibuan, mantan Menteri Penurunan Harga sekaligus pembela Wahab Pena yang terkait aksi percobaan pembunuhan Sukarno (dikenal sebagai Peristiwa Cikini). “Perkara Wahab Pena dan perkara Maukar ini bagi saya sebuah kenang-kenangan tersendiri, karena dalam perkara besar seperti itu, saya sebagai advokat sering dipublikasikan dalam media-media,” aku Hadely Hasibuan dalam Hadely Hasibuan: Memoar Mantan Menteri Penurunan Harga (1995:146). Danny pun dijatuhi hukuman mati.


“Pikiran tentang kematian terus menghantui Dan… Kematian memaksa Tuhan masuk ke dalam pikirannya,” tulis Jan S Doward dalam Last Tiger Out: The True Story of Dan Maukar, Ace Pilot in the Indonesian Air Force (1973:57). Namun, hukuman mati untuknya tak pernah digelar. Bulletin Djembatan Kawanua (1968: xxiv) menyebutkan bahwa Danny dibebaskan pada Rabu 20 Maret 1968. Menurut Majalah Angkasa No. 9 Juni 2007, Daniel tutup usia pada 16 April 2007 di Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Dia menjalani sisa hidupnya sebagai penganut Advent yang saleh.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf