Kolumnis
Editor Cinema Poetica

Kekalahan Ustaz, Kemenangan Setan

Kolumnis: Avicenna Raksa Santana
13 Oktober, 2017dibaca normal 4 menit
Pengabdi Setan, baik versi 1980 maupun 2017, memijak premis yang sama: ketidakstabilan di ranah rumah tangga. Versi pertama yang disutradari Sisworo Gautama Putra dibuka dengan prosesi penguburan, dilanjutkan dengan narasi soal absennya figur ibu, yang membuat anak-anak di rumah seakan hilang pegangan. Sementara versi terbaru garapan Joko Anwar, remake dari Pengabdi Setan versi lama, dibuka oleh kesulitan ekonomi.

Ibu (diperankan oleh Ayu Laksmi) dalam Pengabdi Setan terbaru adalah penyanyi yang menjadi tulang punggung keluarga—berbeda dari ibu dalam versi lama yang tersirat digambarkan bekerja sebagai pengurus rumah dan anak. Sebagai penopang ekonomi, peran ibu jelas tidak dapat tergantikan oleh pembantu rumah tangga macam Darminah. Dan mengingat ketiadaan demit berkedok pembantu rumah tangga, maka teror tentunya harus datang dari sosok lain. Pertanyaannya: dari mana?

Petaka dalam film ini ternyata bersumber dari dalam rumah tangga. Bukan karena absennya ibu dan minimnya imtak, melainkan karena skandal lawas yang terkubur rapat. Tokoh bernama Budiman (Egy Fedly) menceritakan bahwa ibu pernah memiliki hubungan buruk dengan mertuanya, sang neneknya anak-anak (Elly D. Luthan). Pertama, nenek tidak suka profesi ibu sebagai penyanyi, dan kedua, nenek ingin cepat-cepat punya cucu.

Situasinya semakin pelik ketika diketahui bahwa ibu tidak mampu mempunyai anak. Ibu lantas mencoba memperbaiki situasi rumah tangga dengan cara mendatangi sekte terlarang yang bisa membuatnya punya keturunan. Lewat cara-cara yang misterius, ibu sukses beranak empat dan keluarga mereka pun bahagia. Namun, petaka yang telah ia tunda sekian lama akhirnya tiba saat anak bungsunya menginjak usia tujuh tahun.

Jelas sudah bahwa sumber petaka adalah ikhtiar gelap sang ibu. Namun, bila ditarik lebih jauh, ikhtiar ini sebetulnya hanya respons sang ibu terhadap tekanan mertuanya (nenek). Dengan kata lain, hajat dan segala nilai konservatif yang dianut sang nenek punya andil dalam mendorong asal-usul petaka. Sehingga ketika di pengujung film sang nenek berusaha menolong keluarganya, boleh jadi itu bukan hanya menunjukkan niat baiknya, melainkan penyesalannya.

Kekalahan Ustaz

Perbedaan lain dari Pengabdi Setan versi Joko Anwar adalah penggambaran figur ustaz yang tidak lagi tampil sebagai juru selamat. Dalam film ini, Pak Ustaz (Arswendi Bening Swara) adalah sosok yang menyimpan rasa sedih dan marah karena kematian anaknya. Ia pun akhirnya kalah dibunuh setan. Walaupun begitu, sosok ustaz dalam versi baru tidak begitu saja dibuat lemah. Sama halnya seperti penggambaran sosok ibu, sosok Pak Ustaz juga terbentuk seiring pengubahan cerita Pengabdi Setan versi asli.

Kunci dari pengubahan karakter Pak Ustaz ada di tokoh Hendra (Dimas Aditya). Sosok Hendra, yang perannya agak mirip dengan Herman dalam versi lama, adalah pemuda yang mendekati kakak perempuan pada keluarga Pengabdi Setan. Namun, yang membedakan dari Pengabdi Setan versi baru, Hendra digambarkan sebagai anak Pak Ustaz. Benang antar kedua tokoh inilah yang lantas membuat Pak Ustaz tampil layaknya manusia biasa.

Penokohan Pak Ustaz yang demikian bisa dibilang siasat yang tepat. Sebab, narasi yang dibutuhkan penonton zaman sekarang mungkin bukan lagi narasi yang mendewakan pemuka agama. Penting kiranya untuk menekankan pemuka agama pun hanya manusia biasa yang bisa khilaf, punya perasaan sedih dan marah. Mereka orang terhormat, tapi bukan juru selamat, sebagaimana yang digambarkan Pengabdi Setan versi lama.

Dalam Pengabdi Setan versi lama, sosok Pak Ustaz tampil amat heroik. Ia tak hanya sukses menaklukkan Darminah, tapi getol mendakwahi keluarga yang bermasalah agar rajin salat. Awalnya, Pak Ustaz dalam Pengabdi Setan versi lama tidak langsung mendapat perhatian. Sang ayah, yang digambarkan sibuk dengan pekerjaan parlente, berkali-kali mengabaikan Pak Ustaz dengan berbagai alasan. Sementara satu per satu petaka sudah terjadi di rumah, dan hanya Pak Ustaz yang bisa menyelamatkan mereka.

Alur cerita Pengabdi Setan versi lama mengajak penontonnya untuk berharap-harap cemas, menantikan keluarga dalam film untuk segera memedulikan nasihat Pak Ustaz. Sambil menunggu, penonton juga diajak mengutuk kelakuan keluarga yang mengabaikan ajaran agama. Saat akhirnya keluarga terdesak dan akhirnya diselamatkan Pak Ustaz, mungkin ujaran yang akan muncul adalah begini: “Makanya, dengerin Ustaz, dan jangan lupa salat.”

Dalam Pengabdi Setan versi baru, sosok ustaz lebih lekat dengan ruang sosialnya. Ia tidak datang dari antah-berantah; perannya pun tak lebih dari apa yang lazim kita temukan sehari-hari: memberikan saran dan mengisi acara keagamaan.

Penggambaran ini boleh jadi adalah pernyataan dari Joko Anwar, bahwa ketergantungan terhadap figur penyelamat memang sudah tidak relevan. Bila kita ingat, narasi serupa sempat hadir dalam film pertama Joko Anwar, Janji Joni (2006). Saat Joni meminta tolong kepada polisi untuk mengejar maling, Pak Polisi justru meminta Joni mengisi laporan. Akhirnya, Joni mengupayakan sendiri nasibnya.

Begitu pula Rini dan adik-adiknya saat harus berjuang melawan setan. Joko Anwar tidak mengajak penonton berharap kepada siapa pun. Sumber keselamatan selalu berpindah seiring jalan cerita. Awalnya mungkin ada Hendra dan Pak Ustaz yang digadang-gadang bakal menyelamatkan Rini dan adik-adiknya. Namun, ketika keduanya terbukti gagal, keselamatan lantas diemban oleh Rini sekeluarga, yang mendapatkan referensi dari tulisan Budiman. Meski begitu, tulisan Budiman, yang mengatakan saling menjaga satu sama lain adalah jalan keluar, ternyata keliru juga. Sampai akhirnya, saat Rini sekeluarga terdesak, muncullah deus ex machina: pertolongan tiba-tiba datang dari Budiman dan (arwah) nenek pada detik-detik terakhir.

Kemenangan Pengabdi Setan

Sebagai film horor, kemasan Pengabdi Setan terbilang berhasil menghadirkan atmosfer mencekam. Saat film baru mulai beberapa menit, lewat ekspresi dan perkataan Bondi (Nasar Annuz), penonton sudah langsung dibuat merinding oleh kehadiran ibu. Untuk setiap adegan yang menakutkan, film ini selalu melakukan planting terlebih dahulu, sehingga setiap adegan terasa wajar dan tidak datang tiba-tiba. Contohnya, sebelum Tony (Endy Arfian) diteror oleh lagu ibunya di radio, terlebih dulu ditunjukkan bahwa Tony memang biasa mendengarkan radio tiap malam.

Teror-teror yang terjadi dalam film ini juga dibuat bertalian erat dengan cerita. Ian (M. Adhiyat), misalnya, terlihat sama sekali bebas dari teror arwah ibu—hanya arwah neneklah yang meneror Ian. Ian bahkan bisa dengan santainya berkilah saat Rini bertanya soal pengakuan Bondi yang melihat setan ibu di tangga. Begitu pula ketika Ian tidak diizinkan mencoba mainan kamera berisikan slideshow yang Bondi pegang. Seketika, Bondi langsung melihat penampakan arwah ibu di kameranya.

Sayangnya, kesan-kesan itu baru bisa terpahami ketika film telah selesai. Banyaknya plothole, dan twist yang tidak terbangun dengan baik, menyebabkan film ini tak bisa segera dicerna. Di setengah akhir film, informasi dibuat begitu menumpuk, tanpa kontinuitas yang ketat. Ketika Budiman merevisi tulisannya, penonton tidak ditunjukkan prosesnya. Tidak pula penonton melihat Tony dan Rini menelaah tulisan-tulisan Budiman. Bahkan tidak ada petunjuk bahwa Budiman memiliki mobil—yang tidak mudah untuk dinyalakan. Tiba-tiba, semua terasa berjalan instan.

Walhasil, meski mengandung wacana yang relevan dengan zaman sekarang, Pengabdi Setan versi Joko Anwar masih sulit untuk disebut sebagai karya yang kuat. Setengah akhir Pengabdi Setan bisa dikatakan amburadul. Berbagai narasi yang berusaha menandingi narasi-narasi konservatif seputar kesuburan perempuan, profesi seniman, dan peran pemuka agama, menjadi kurang terolah. Pertimbangan yang membuat ibu menjadi anggota sekte satanis sama sekali tidak terceritakan. Perseteruannya dengan nenek juga hanya tertuturkan secara verbal oleh tokoh lain—padahal, kalau menurut cerita Budiman, dua hal itulah yang menjadi akar dari masalah yang menimpa keluarga Rini.

Kekurangan-kekurangan ini mungkin akan Joko Anwar bayar dalam Pengabdi Setan selanjutnya. Menurut kabar yang beredar, Joko Anwar memang membuat remake ini sebagai prekuel dengan dua bab. Dengan kata lain, masih ada satu film lagi sebelum cerita benar-benar sampai ke kisah Pengabdi Setan versi asli. Besar kemungkinan kekosongan plot akan terjawab dalam Pengabdi Setan berikutnya. Pertanyaan penonton soal obrolan bapak dengan ibu, bisikan Budiman kepada Hendra, hingga konflik ibu dengan nenek, mungkin akan terjawab nanti—seperti halnya Insidious 2 mengisi kekosongan dalam Insidious 1.

Sejauh ini, penonton Pengabdi Setan sudah mencapai dua juta lebih lebih. Di ajang Festival Film Indonesia, Pengabdi Setan masuk ke dalam nominasi film terbaik—plus 12 nominasi lain. Berbagai obrolan di dunia maya, baik yang tercipta berkat meme maupun ulasan, juga berpotensi untuk terus memperpanjang napas Pengabdi Setan. Pencapaian-pencapaian ini membuat Pengabdi Setan berikutnya jelas menjadi langkah yang masuk akal. Dan itu sudah jadi kemenangan tersendiri bagi segenap tim di belakang Pengabdi Setan.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword