Kalah dari Wolves: Solskjaer Harus Belajar Tak Bertumpu pada Pogba

Oleh: Renalto Setiawan - 18 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Manchester United kalah 2-1 dari Wolves pada babak perempat-final Piala FA. Untuk pertama kalinya, mereka kalah beruntun di bawah asuhan Solskjaer
tirto.id - Henry Winter, jurnalis The Times, bertemu dengan Michael Carrick, staf pelatih United, pada Kamis (14/3/2019). Ia lantas mewawancarai Carrick, untuk mengulik bagaimana cara Ole Gunnar Solksjaer, pelatih sementara United, bisa mengubah peruntungan United dalam sekejap--mengubah United dari sebuah tim yang mulai kehilangan arah menjadi sebuah tim yang kembali tampil menjanjikan--.

Yang menarik, sebelum menjelaskan panjang lebar kepada Winter, Carrick memberikan jawaban penting sebagai pembuka. Menurutnya, salah satu kunci kebangkitan United belakang ini ialah kemampuan Solskjaer dalam mengembalikan nilai-nilai tradisional yang pernah ditanamkan Sir Alex Ferguson ke dalam tim.

"Prinsip yang sama," kata Carrick. "Team-talk yang dilakukan Ole sebagian besar adalah soal kerja keras [seperti yang dilakukan Ferguson dulu]. Tapi dia melakukannya dengan caranya. Ia menjelaskan cara kerja klub, tentang DNA Manchester United; penampilan yang menarik, sikap positif, permainan seorang pemenang, kapan harus mengambil risiko, dan Anda harus melakukan itu semua dengan etos kerja dan kerendahan hati."

Carrick lalu menambahkan, "Cara United bukanlah: 'Kami lebih baik daripada kalian.' Kami harus bekerja lebih keras dari siapa pun. Semua tim terbaik yang pernah dimiliki United selama bertahun-tahun lalu selalu memiliki etos kerja yang luar biasa."

Sekitar tiga hari setelah wawancara tersebut, tepatnya pada Minggu, 17 Maret 2018, Manchester United tandang ke Stadion Milenoux, markas Wolverhampton, untuk menjalani pertandingan perempat-final Piala FA.

United tampil dengan kekuatan penuh, termasuk memainkan Ander Herrera, Jesse Lingard, Anthony Martial dari awal pertandingan. Namun, mereka kalah 2-1 dalam pertandingan itu. Dan yang mengejutkan, Wolverhampton alias Wolves ternyata berhasil mengalahkan United dengan cara United bangkit di bawah asuhan Solskjaer.

Wolverhampton bekerja keras, bermain menarik, penuh kerendahan hati, dan tampil layaknya seorang pemenang di sepanjang pertandingan.

Sementara itu, tahu bahwa Wolverhampton menang karena bekerja lebih keras daripada timnya, Solskjaer hanya bisa mengatakan, "Ini adalah penampilan terburuk United selama berada di bawah asuhanku."



Terlalu Mengandalkan Paul Pogba


Bukan sebuah rahasia umum apabila Paul Pogba merupakan "mesin utama" permainan United di bawah asuhan Solskjaer. Saat ia menguasai bola, pemain-pemain United akan mulai berlari sekuat tenaga hingga mencari posisi yang tepat untuk mengancam gawang lawan. Dan dari proses itulah, United mampu mencetak sebagian besar golnya ke gawang lawan.

Namun, setelah Setan Merah kalah 0-2 dari PSG pada 13 Februari 2019, lawan-lawan United mulai tahu bahwa saat Paul Pogba dimatikan, serangan United akan ikut mandek.

Pendekatan yang dilakukan Arsenal dan Wolverhampton lantas bisa menjadi contoh. Dalam dua pertandingan tersebut, Pogba mendapatkan pengawalan ketat dari pemain tengah Arsenal dan Wolverhampton. Bahkan, karena pengawalan ketat itu, untuk balik badan ke depan saja Pogba harus berusaha sekuat tenaga.

Jika Arsenal memiliki Aaron Ramsey, Wolverhampton memiliki Leander Dendoncker untuk menghentikan Pogba. Dengan bantuan pemain yang berada di dekatnya, sejak Pogba melakukan sentuhan pertama, mereka akan langsung menyerbu gelandang asal Perancis tersebut.

Kemudian, Pogba memang beberapa kali berhasil lolos dari pengawalan ketat itu, tetapi berapa sentuhan yang ia perlukan untuk lolos?



Lihatlah penampilan Pogba kala menghadapi Wolverhampton. Untuk mengirim umpan ke depan saja, Pogba setidaknya harus mampu melewati dua hingga tiga pemain Wolves terlebih dahulu. Dari sana, pemain-pemain Wolves tentu mempunyai cukup waktu untuk kembali ke posisi mereka sebelum Pogba benar-benar bisa mengumpan. Kemudian, saat mereka tidak mempunyai cukup waktu, mereka akan melanggar Pogba guna menghentikan momentum United.

Alhasil: Pogba dilanggar sebanyak 4 kali di sepanjang pertandingan (terbanyak di antara pemain-pemain lainnya), membuat Ruben Neves dan Conor Coady menerima kartu kuning, tapi pertahanan Wolves tetap kokoh seperti batu karang.

Dan, cara Wolves dalam bekerja keras di dalam pertandingan itu ternyata tak sebatas hanya dalam menghentikan Paul Pogba.


Mengapa Wolves Berkerja Lebih Keras daripada United?


"Yang paling menyenangkan bagiku adalah saat aku berjalan di dekat tribun [Milenoux] orang-orang akan mengatakan bahwa cara bermain kami seperti sebuah tim pada era 50-an atau 60-an, tapi mereka akan tetap datang ke Stadion. [Sebagai balasannya] Untuk memberikan mereka kegembiraan seperti ini, datang ke Stadion dengan senyuman, kami akan melakukannya sebagai sebuah tim. Dan itu tentu akan sangat menyenangkan."

Pernyataan itu muncul dari Nuno Esperito Santo, pelatih Wolves, usai anak asuhnya berhasil mengalahkan United. Kemudian, ketika melihat penampilan Wolves dalam pertandingan itu, pernyataan Santo itu tentu ada benarnya.

Menurut Jonathan Northcroft, koresponden The Times, Wolves memang bermain kompak saat melawan Setan Merah. Memainkan formasi dasar 3-5-2, transisi bertahan maupun menyerang mereka sangat bagus. Pendekatannya: saat bertahan, mereka akan sesekali melakukan pressing secara agresif guna memperlambat alur serangan United. Sementara saat menyerang, saat memiliki momentum yang tepat, mereka akan melancarkan serangan balik.

Singkat kata, baik saat bertahan maupun menyerang, mereka melakukannya sebagai sebuah tim.

Dilengkapi dengan garis pertahanan rendah, pendekatan Wolves itu akhirnya membuat United tak berkembang. Umpan-umpan pemain United tak tentu tujuan dan para penyerang United juga jarang sekali mendapatkan ruang di belakang garis pertahanan Wolves untuk pamer kecepatan.

Alhasil, United pun terjebak dalam perangkap Wolves. Setelah Wolves unggul, saat United mulai fokus untuk mengejar ketinggalan, Wolves mempunyai momentum untuk serangan balik cepat. Berawal dari sapuan Luke Shaw yang tidak sempurna, Ruben Neves berhasil mengirimkan umpan ke arah Jota. Pemain asal Portugal itu lantas berlari sekuat tenaga ke arah gawang United. Shaw tidak mampu mengejarnya dan Serigo Romero juga gagal menghentikan tembakan Jota: Wolves dua, United kosong.

Untuk itu semua, Northcroft lantas menulis, "Solskjaer masih mempunyai pekerjaan yang harus dipikirkan: bagaimana United bisa memaksimalkan pemain kunci mereka, seperti Rashford, ketika tim lawan tidak memberikan ruang di belakang garis pertahanan? Atau bagaimana saat tim lawan mampu mampu memperlambat alur bola cepat yang diinginkan Solskjaer dari lini tengah?"

Baca juga artikel terkait PIALA FA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Mufti Sholih
DarkLight