Jualan Baru Perum Damri: Bukan Cuma Bus tapi Properti

Oleh: Ringkang Gumiwang - 30 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Damri akan merambah bisnis hotel. Apakah lini bisnis baru ini mampu menyelamatkan keuangan?
tirto.id - “Sensasi baru berwisata, menginap di hotel bernuansa Bus, nyaman setara hotel berbintang, di area wisata yang indah.”

Begitulah tagline yang muncul di laman resmi Perusahaan Umum (Perum) Damri. Perusahaan yang memiliki nama panjang Djawatan Angkoetan Motor Republik Indonesia ini punya rencana besar untuk mulai masuk ke bisnis perhotelan.

Namun tidak seperti hotel pada umumnya, hotel yang akan dikembangkan Damri ini akan menggunakan bus sebagai kamar hotel. Jika tidak ada aral melinting, rencana mengubah bus menjadi kamar hotel itu akan direalisasikan pada 2019.

“Kami sudah sampaikan ke Kementerian BUMN. Pada prinsipnya, studi kelayakannya tahun ini, dan awal tahun depan sudah mulai dibangun,” kata Sekretaris Perusahaan Perum Damri, Restiti Sekartini kepada Tirto.

Rencana membangun Damri Camper Site Bus ini muncul setelah Damri memiliki banyak bus yang sudah tidak laik operasi. Apalagi, perusahaan sudah beroperasi sejak 72 tahun lalu. Sudah pasti banyak bus tua yang tidak terpakai. Lalu, muncul ide agar bus yang tidak terpakai diubah sedemikian rupa menjadi kamar hotel. Dengan begitu, usia produktif bus-bus yang dimiliki menjadi lebih panjang, dan tetap menyumbang pundi-pundi pendapatan perusahaan.


Tanjung Kelayang, Belitung menjadi lokasi pertama bagi Damri untuk memulai proyek perdana perhotelannya. Alasannya, Belitung saat ini menyandang status sebagai Geopark Nasional, di mana menjadi daya tarik turis lokal maupun asing. Selain itu, lokasi Belitung juga tidak jauh dari Jakarta.

Damri menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Lahan yang akan digunakan untuk proyek bus hotel merupakan milik pemerintah daerah. Selain itu, Damri juga akan menggandeng perusahaan pengelola hotel. Saat ini, operator hotel masih belum ditentukan. Namun, Kementerian BUMN merekomendasikan agar operator bus hotel dapat dikelola BUMN lainnya.

“Kami tetap fokus di bisnis utama. Di bisnis hotel, kami cuma sekadar investasi saja. Untuk hotel, kami serahkan kepada operator hotel. Cuma itu belum final, bisa Patra Jasa, Inna Grup, atau lainnya,” tutur Restiti.

Untuk mengubah bus menjadi kamar hotel, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp300 juta per unit, atau total untuk 70 unit sebesar Rp21 miliar. Biaya itu besar kemungkinan tidak akan seluruhnya ditanggung Damri, namun juga dibagi dengan mitra kerja. Kehadiran Damri masuk ke bisnis perhotelan juga menambah panjang daftar BUMN-BUMN yang masuk ke bisnis properti atau di luar bisnis inti, misalnya, PT Pegadaian (Persero), dan PT Timah (Persero) Tbk.


Bisnis Angkutan Darat Melempem

Rencana Damri melakukan diversifikasi usaha properti bukan tanpa sebab. Kondisi persaingan bisnis angkutan darat saat ini memang terbilang ketat. Apalagi dengan kedatangan transportasi online, dan transportasi massal baru lainnya.

Gara-gara itu, dalam lima tahun terakhir ini, kinerja laba bersih Damri mengalami penurunan. Pada 2013, Damri sempat meraup laba bersih sebesar Rp89 miliar. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, laba bersih itu kian menciut.

Pada 2014, laba bersih Damri turun menjadi Rp52 miliar. Pada tahun berikutnya, anjlok hingga hanya meraup Rp3 miliar. Pada 2016, laba bersih Damri sempat melonjak menjadi Rp41 miliar, namun pada tahun selanjutnya hanya meraup Rp7 miliar.

Ketatnya persaingan angkutan darat juga diakui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Menurut mantan Dirut PT Angkasa Pura II ini, Damri harus melakukan transformasi agar dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan. “Persaingan di industri angkutan darat memang begitu ketat. Di Pulau Jawa saja, selain harus bersaing dengan swasta, harus juga bersaing dengan pesawat udara. Tapi saya yakin Damri bisa bersaing,” katanya dikutip dari Antara.


Hal yang sama juga diutarakan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Menurut mereka, tantangan yang dihadapi angkutan darat. Apalagi dengan kehadiran angkutan transportasi online, dan transportasi massal.

Kondisi ini membuat perusahaan angkutan darat mengurangi jumlah armadanya. Contoh saja, perusahaan Taxiku yang terpaksa hanya mengoperasikan 100 unit kendaraan dari sebelumnya sebanyak 2.500 unit.

“Bus juga sama. Damri selama ini terlena dengan hanya mengandalkan layanan perintis dan bandara. Itu pun juga mulai terganggu,” kata Djoko Setijowarno, pemerhati transportasi dari MTI kepada Tirto.

Damri saat ini memiliki tujuh segmen pelayanan angkutan darat. Mulai dari angkutan kota, antar kota, antar lintas batas negara, pemadu moda, travel atau pariwisata, penugasan pemerintah dan logistik.

Djoko merespons positif rencana Damri untuk mencari pendapatan di luar bisnis utamanya. Apalagi, hal yang sama juga dilakukan BUMN-BUMN lainnya. Mengoptimalkan aset yang dimiliki merupakan hal yang positif. Namun, ada baiknya, Damri tetap fokus di bisnis utama. Menurut Djoko, layanan yang cukup prospektif untuk menambah pundi-pundi pendapatan Damri sedikitnya ada dua hal, yakni angkutan logistik dan angkutan pariwisata.

“Saya pikir lebih baik serius menggarap angkutan logistik. Soalnya, penumpang agak kurang menguntungkan. Digitalisasi pelayanan pun juga penting agar operasional lebih efisien, dan memudahkan penumpang,” tuturnya.

Infografik Perum Damri


Rencana Damri untuk mencicipi kue dari pasar perhotelan juga tidak mudah. Pasalnya, persaingan antar pelaku bisnis hotel saat ini juga semakin ketat. Hanya sebatas menjual konsep juga tak dapat jaminan bakal sukses. Persaingan semakin ketat lantaran perusahaan teknologi juga ikut terlibat, di antaranya adalah perusahaan aplikasi AirBnb. Aplikasi Airbnb adalah aplikasi yang memberikan layanan peer-to-peer penyewaan properti, di mana pemilik properti dapat menyewakan unit properti kepada pihak lain sebagai alternatif akomodasi layaknya hotel.

Kehadiran Airbnb di Indonesia rupanya mendapatkan sambutan positif dari para konsumen. Sepanjang 2017, jumlah konsumen Airbnb tercatat lebih dari 904.600 tamu, naik 69 persen dari jumlah tamu Airbnb pada tahun sebelumnya. “Kehadiran mereka merugikan industri perhotelan. Kami keberatan karena mereka banyak mengambil porsi dan segmen pasar hotel yang sudah lebih dulu ada sejak lama,” jelas Ketua PHRI Hariyadi Sukamdani dikutip dari Antara.


Selain itu, Damri perlu berpikir ulang soal ekspansinya ke perhotelan. Okupansi hotel di Belitung juga belum terlalu besar. Berdasarkan data BPS, sepanjang Januari-September 2018, rata-rata tingkat okupansi hotel berbintang di sana hanya 40 persen. Angka ini turun tipis dari periode yang sama tahun lalu sebesar 41 persen. Damri perlu mengkaji ulang rencana bisnisnya masuk ke perhotelan, pilihan fokus pada transportasi dengan sentuhan digital layak dipertimbangkan.

Baca juga artikel terkait ANGKUTAN UMUM atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram