Jenis & Gejala Skizofrenia: Tertawa Berlebihan, Bicara Melantur

Oleh: Balqis Fallahnda - 16 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Skizofrenia adalah salah satu penyakit mental yang memiliki sejumlah indikasi dan gejala, salah satunya berupa paradoxical laughter atau tertawa berlebihan.
tirto.id - Tertawa adalah perilaku manusiawi sebagai salah satu ekspresi sekaligus respons kita terhadap peristiwa lucu, senang berlebihan, atau semacamnya.

Mario F Mendez dalam sebuah jurnal berjudul Involuntary Laughter and Inappropriate Hilarity menulis, tertawa merupakan perilaku unik manusia. Tawa dalam kebanyakan kasus adalah ekspresi kegembiraan dengan gerakan wajah khas.

Tertawa memang normal, namun bisa disebut gangguan jika kegiatan tertawa itu terjadi di luar kendali. Tertawa berlebihan tanpa alasan pada waktu yang tidak tepat atau sering disebut paradoxical laughter yang merupakan salah satu gejala penyakit mental, salah satunya skizofrenia.

Skizofrenia adalah salah satu penyakit mental yang memiliki sejumlah indikasi dan gejala, salah satunya berupa paradoxical laughter atau tertawa berlebihan.

World Fellowship for Schizophernia and Allied Disorders menerangkan bahwa Skizofernia adalah penyakit mental utama yang paling persisten dan melumpuhkan. Penyakit ini biasa menyerang orang-orang usia antara 16 tahun hingga 30 tahun.

Skizofernia diderita sekitar 1 dari 100 orang di seluruh dunia atau sama dengan satu persen dari populasi manusia di bumi. Penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita. Walaupun dapat diobati dalam banyak kasus, belum ada obat untuk Skizofernia.

Pikiran mengendalikan fungsi dasar berpikir, perasaan (emosi), persepsi (panca indera) dan perilaku. Fungsi-fungsi ini secara normal akan bekerja secara bersamaan dan berkesinambungan yang memungkinkan kita untuk dapat membedakan antara fantasi dan kenyataan, mempertahankan kecemasan pada tingkat yang bisa dikelola, memiliki respon emosional yang sesuai, memahami hal yang terjadi pada diri, dan mempertahankan rasa stabil tentang identitas diri dalam menjalin dan memelihara hubungan dengan orang lain.

Namun, apa yang terjadi pada individu yang menderita Skizofernia adalah interaksi fungsi-fungsi mental tersebut terganggu dan bermasalah. Kata Skizofernia bukan berarti "kepribadian ganda" tetapi gangguan keseimbangan fungsi mental.


Gejala Skizofernia

Healthline melaporkan bahwa gejala penderita Skizofernia dibagi menjadi dua kelompok, yakni:
  • Positif: Mencerminkan kelebihan atau distrosi fungsi normal, seperti delusi, halusinasi, ucapan tak terorganisir, dan perilaku yang tidak teratur.
  • Negatif: Mencerminkan berkurangnya fungsi normal, seperi ekspresi emosi yang terbatas, terbatasnya produktivitas pemikiran dan ucapan, serta menunjukkan perilaku janggal.

Berikut jenis-jenis penyakit mental skizofrenia beserta gejalanya:

Skizofrenia Paranoid

Melibatkan delusi, keyakinan keliru yang melibatkan salah tafsir atas pengalaman atau persepsi dan halusinasi pendengaran. Delusi sering kali mengikuti satu tema seperti penganiayaan, kecemburuan, agama, dll.

Penderitanya juga dapat menunjukkan perilaku seperti gelisah, marah, menyendiri, bagi penderita yang memiliki delusi penganiayaan memungkinkan mereka bertindak kejam atau bunuh diri, tapi memiliki kemampuan besar untuk stabil secara fungsional dari waktu ke waktu.

Skizofrenia Tidak Teratur

Yang masuk dalam jenis ini biasanya mempunyai kecenderungan disorganisasi dalam bicara dan berperilaku. Ini berarti penderita dapat berbicara dalam lingkaran atau di luar topik atau memberikan jawaban yang tidak terkait dengan apa yang ditanyakan. Perilaku ini merusak kemampuan orang tersebut untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti menyiapkan makanan, mandi, atau berpakaian.

Seseorang dengan skizofrenia yang tidak teratur sering memiliki ekspresi datar atau berperilaku tidak pantas dalam situasi sosial. Orang tersebut mungkin menunjukkan perilaku aneh, seperti meringis atau bertindak konyol dan tertawa pada waktu yang tidak pantas.


Skizofrenia Katatonik

Pada skizofrenia jenis ini, penderita biasanya memiliki gejala yang terkait dengan gangguan psikomotorik, seperti imobilitas, mutisme, atau penolakan terus-menerus terhadap perintah dan instruksi tanpa alasan (negativisme).

Penderita terkadang bisa tiba-tiba pingsan. Penderita biasanya mengulangi sesuatu yang baru saja dikatakan seseorang (echolalia) atau mengulangi tindakan seseorang (echopraxia).

Residual & Undifferentiated Schizofrenia

Residual Skizofernia mengacu pada penderita yang pernah menunjukkan gejala Skizofernia, tetapi tidak lagi menunjukkan gejala positif. Namun penderita justru menunjukkan beberapa gejala negatif seperti sedikit bicara, ucapan yang agak tidak teratur, atau memiliki keyakinan yang tidak dapat dijelaskan.

Undifferentiated Schizophrenia atau Skizofernia tidak terklasifikasi adalah klasifikasi yang digunakan ketika penderita memiliki gejala dari berbagai jenis Skizofernia.


Baca juga artikel terkait SKIZOFRENIA atau tulisan menarik lainnya Balqis Fallahnda
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight