Jenis Bakteri dalam Makanan yang Berpotensi Sebabkan Penyakit

Oleh: Febriansyah - 26 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
CDC merilis jenis bakteri dalam makanan yang kita konsumsi yang berpotensi menyebabkan penyakit
tirto.id - Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merilis beberapa jenis bakteri dalam makanan yang kita konsumsi yang berpotensi menyebabkan penyakit, mulai dari diare, demam, hingga kematian.

Laporan CDC menyebut salah satunya adalah Campylobacter, bakteri penyebab diare yang paling sering ditemukan pada ayam, susu mentah, dan air.

Menurut laporan CDC, Campylobacter dianggap sebagai bakteri penyebab penyakit paling banyak yang ditularkan melalui makanan sejak 2013.

Setelah Campylobacteri, pada tahun 2018 ini, ditemukan juga Salmonella, E. coli, Shigella dan vibrio.

Campylobacter

Menurut CDC, Campylobacter telah menyebabkan lebih dari satu juta penyakit di seluruh Amerika Serikat setiap tahun.

Bakteri dapat ditransfer dari hewan ke manusia. Sementara penderitanya bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Unggas adalah sumber utama.

Pada tahun 2018, Layanan Inspeksi dan Keamanan Pangan Departemen Pertanian AS mendeteksi Campylobacter pada 18 persen bangkai ayam dan 16 persen sampel bagian ayam.

Campylobacter dapat menyebabkan diare dan komplikasi neurologis yang langka, seperti sindrom Guillain-Barré.

"Ini adalah bakteri yang paling sering diisolasi [dalam makanan] yang menyebabkan penyakit di Amerika Serikat, dan sudah lama terjadi,” kata Patricia Griffin, penulis laporan dan kepala Cabang Epidemiologi Enteric Diseases CDC.

Salmonella

Salmonella ditemukan dalam produk hewani seperti babi, ayam dan telur. Ini merupakan jenis bakteri yang paling umum yang menyebabkan penyakit seperti enteritidis.

"Salmonella menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian daripada Campylobacter. Sekitar 450 kematian terjadi setiap tahun dari 1,2 juta kasus salmonellosis yang terjadi di AS. Individu yang sangat rentan terhadap infeksi Salmonella termasuk yang sangat muda, sangat tua dan orang dengan sistem kekebalan yang melemah," kata Catherine Donnelly, seorang profesor ilmu pangan di University of Vermont seperti dikutip CNN.

Gejala biasanya mulai 12 hingga 72 jam setelah bakteri itu masuk ke tubuh dan dapat bertahan empat hingga tujuh hari. Gejala itu berbentuk diare, demam, dan kram perut. Pasien yang mengalami diare parah mungkin memerlukan rawat inap. Jika pasien yang sakit parah tidak dirawat, penyakitnya bisa mematikan.

Vibrio

Dibandingkan dengan kasus tahun 2015-2017, kasus vibrio naik 109 persen pada 2018, menurut laporan.

Bakteri Vibrio dalam tiram mentah telah muncul sebagai penyebab utama penyakit di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kenaikan suhu air. Vibrio cenderung ditemukan di perairan pantai yang lebih hangat antara bulan Mei dan Oktober.

Gejalanya berkisar dari masalah usus ringan hingga infeksi serius yang mengakibatkan amputasi anggota badan.

Cyclospora

Terdapat 332 kasus Cyclospora parasit pada tahun 2018, dan meningkat 399 persen selama 2015-2017.

Orang-orang dapat terserang penyakit ketika mereka mengkonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi oleh tinja yang terinfeksi mikroba ini.

Karena Cyclospora lebih umum ditemukan di bagian tropis dan subtropis dunia, maka wabah di Amerika Serikat sebagian besar terkait dengan produk makanan yang diimpor dari negara lain.

Praktik dan metode dalam pertanian perlu ditingkatkan untuk menghentikan wabah terkait produk makanan ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menerapkan inspeksi rutin terhadap produk pertanian, serta memberikan bantuan kepada industri makanan untuk membantu penyelidikan wabah dan mencegah kontaminasi.

"Penting bagi konsumen untuk mendapat informasi detail tentang sumber penyakit yang bersumber dari makanan sehingga mereka dapat menjadi bagian dari advokasi untuk makanan yang lebih aman," kata Griffin.

Di rumah, mencuci tangan dengan benar, memasak makanan dengan saksama, membersihkan ruang memasak dan menghindari air yang terkontaminasi akan mengurangi kemungkinan Anda bertemu bakteri atau parasit.


Baca juga artikel terkait BAKTERI atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani