Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Naik Usai Houthi Tingkatkan Serangan ke Saudi

Pada Kamis (29/10/2026), kelompok Houthi menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak.

Harga Minyak Dunia Naik Usai Houthi Tingkatkan Serangan ke Saudi
Ilustrasi harga minyak. Seorang pejalan kaki memegang payung berjalan melewati pada papan elektronik yang menunjukkan indeks pasar saham dari berbagai negara di luar broker di Tokyo, Jepang, 18 Januari 2016. Indeks Nikkei Jepang menukik ke level terendah satu tahun pada Senin pagi setelah menjual besar -off di Wall Street pada hari Jumat setelah harga minyak anjlok dan ketakutan tumbuh sekitar masalah ekonomi di Cina, mengirimkan semua sektor ke merah. ANTARA FOTO/REUTERS/Yuya Shino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia naik pada awal perdagangan Jumat (30/10/2026) seiring kekhawatiran terhadap pasokan, setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi.

Kenaikan ini membuat harga minyak dunia di posisi tertinggi selama empat bulan berturut-turut, sekaligus mencatat kenaikan bulanan tertajam sejak Juli 2026.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 86 sen atau 0,75 persen menjadi 115,74 dolar AS per barel pada pukul 01.22 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 72 sen atau 0,71 persen menjadi 102,72 dolar AS per barel.

Untuk perdagangan sepanjang bulan ini, harga Brent diperkirakan ditutup naik hampir 14 persen. Adapun harga WTI diperkirakan melonjak 15 persen dan berakhir di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak April.

Pada Kamis (29/10/2026), kelompok Houthi menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak terbesar negara tersebut, Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas Aramco di Abqaig.

Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat sebuah rudal jelajah yang diluncurkan Houthi menuju wilayah barat kerajaan tersebut.

"Serangan yang terus berlanjut di sekitar Selat Hormuz, di tengah keraguan mengenai kemungkinan tercapainya jalur diplomasi yang efektif, membuat harga minyak tetap tinggi karena pasar memperkirakan konflik akan meningkat dalam beberapa pekan mendatang," kata Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari Reuters, Jumat.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto