Green Diesel, Pilihan Luhut Mengatasi Defisit Neraca Migas

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 31 Januari 2019
Pengembangan green diesel untuk mengatasi impor minyak yang memicu defisit neraca migas.
tirto.id - Pemerintah menargetkan realisasi bahan bakar nabati dalam bentuk green diesel (solar hijau). Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proses pengembangan telah dimulai saat ini.

Hal itu dilakukan menyikapi defisit neraca perdagangan (CAD) Indonesia yang cukup signifikan. Misalnya pada tahun 2018 defisit neraca dagang Indonesia mencapai rekor terbesarnya sejak 1975 dengan nilai 8,57 miliar dolar AS.

Salah satu faktornya disumbang oleh defisit neraca migas yang mencapai 12,4 miliar dolar AS. Pemerintah, kata Luhut, akan mengurangi ketergantungan BBM fosil dengan mengembangkan bahan bakar dari sawit.

"Kita mau dalam 2 tahun harus udah jadi. Neraca dagang kita (kemarin) defisit. Kami akan perbaiki itu," ucap Luhut yang juga merupakan salah satu pembicara dalam ‘DBS Asian Insights Conference’ di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (31/1/2019).


Hasil dari pengembangan green diesel, kata Luhut, tidak hanya diterapkan bagi BBM roda empat dan roda dua, juga produksi avtur. Namun, hal itu masih akan terlebih dahulu melalui pengujian pada pesawat terbang untuk memastikan keamanannya.

"Jadi green diesel untuk bensin dan avtur," ucap Luhut.

Luhut juga mengatakan saat ini produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 45 juta ton per tahunnya. Ia memprediksi konsumsi kelapa sawit untuk bahan bakar green diesel dapat menyerap sekitar 1/3 dari total produksi sawit. Realisasi rencana, bakal berjalan bertahap.

"Kami mulai 2-3 juta lalu bertahap seperti deret ukur (berkembangnya). Kami kira akan berdampak besar pada (pengurangan) impor crude oil (minyak mentah)," ucap Luhut.

Opsi ini, imbuh Luhut, menguntungkan petani yang menduduki porsi 40 persen dari total produsen sawit atau setara dengan 17,5 juta petani.


Baca juga artikel terkait MIGAS atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Zakki Amali
DarkLight