Materi Geografi

Faktor yang Mempengaruhi Pusat Pertumbuhan Wilayah dan Contohnya

Oleh: Addi M Idhom - 19 Oktober 2021
Dibaca Normal 3 menit
Apa itu pusat pertumbuhan dan 3 teorinya? Apa saja faktor yang mempengaruhi pusat pertumbuhan wilayah?
tirto.id - Perbandingan antar-wilayah, baik dari segi kondisi fisik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya, merupakan salah satu obyek kajian dalam geografi. Karena itu, identifikasi pusat pertumbuhan wilayah juga termasuk dalam materi studi salah satu cabang ilmu geografi, yakni geografi pembangunan.

Mengutip modul "Konsep Kewilayahan dan Pertumbuhan Wilayah" dari UT, untuk mendorong kemajuan ekonomi suatu negara, pemerintah perlu memperbanyak wilayah yang menjadi pusat-pusat pertumbuhan.

Pertumbuhan di daerah-daerah dengan potensi besar bakal mempercepat kemajuan ekonomi karena secara tidak langsung memicu perpindahan penduduk yang mencari peningkatan pendapatan.

Robinson Tarigan dalam buku Perencanaan Pembangunan Wilayah (2006) menjelaskan, bahwa pengertian pusat pertumbuhan bisa dilihat dari 2 segi, yakni fungsional dan geografis.

Dari segi geografis, pusat pertumbuhan adalah lokasi yang mempunyai fasilitas dan kemudahan akses memadai sehingga jadi lokasi pusat daya tarik untuk berbagai jenis usaha ekonomi maupun perpindahan orang. Banyak orang mau mendatangi wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan, baik untuk membuka usaha ataupun bekerja, karena di sana ada banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan.

Sementara itu, dari segi fungsional, pusat pertumbuhan bisa diartikan sebagai lokasi yang menjadi konsentrasi dari banyak kelompok usaha karena memiliki unsur-unsur kedinamisan yang menstimulasi kehidupan ekonomi, baik ke dalam maupun luar.


3 Teori Pusat Pertumbuhan dan Penjelasannya

Menukil penjelasan dalam Modul Geografi: Konsep Wilayah dan Pewilayahan (2019) terbitan Kemendikbud, pusat pertumbuhan pun bisa didefinisikan sebagai wilayah yang pertumbuhan ekonominya lebih pesat daripada daerah lain, sehingga bisa dijadikan pusat pembangunan yang akan memengaruhi perkembangan kawasan sekitarnya.

Maka itu, identifikasi wilayah yang layak menjadi lokasi pusat pertumbuhan penting dilakukan dalam perumusan program pembangunan. Setidaknya ada 3 teori yang muncul terkait kajian untuk menentukan lokasi wilayah pusat pertumbuhan. Tiga teori tersebut pada dasarnya saling melengkapi.

Pertama, adalah teori tempat sentral, yang dikemukakan ahli geografi Jerman, Walter Christaller. Teori ini bertitik tolak dari aktivitas perdagangan dan pelayanan dalam sebuah kota. Dalam teori Chistaller, kota sentral merupakan pusat bagi daerah sekitarnya yang menjadi penghubung perdagangan dengan wilayah lain. Kota sentral tersebut bisa menjadi pusat pertumbuhan.


Kedua, teori sektor yang dikemukakan oleh August Losch. Dalam bukunya, The Economics of Location (1954), Losch menuliskan kajiannya yang mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan terbentuknya daerah-daerah ekonomi. Teori Losch melihat faktor tingginya grafik permintaan di kota-kota sentral seperti yang diungkapkan oleh Chistaller.

Ketiga, teori kutub pertumbuhan (teori pusat pertumbuhan) yang pertama kali dicetuskan oleh Francois Perroux, tahun 1955. Teori ini menyatakan bahwa pembangunan sebuah wilayah merupakan hasil proses dan tidak terjadi serentak, melainkan muncul di tempat tertentu saja, dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda. Tempat atau lokasi yang menjadi pusat pembangunan itu disebut sebagai kutub pertumbuhan.

Teori kutub pertumbuhan (Growth Pole) inilah yang mendasari perumusan definisi pusat pertumbuhan dari segi geografis dan fungsional.


Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Pusat Pertumbuhan Wilayah?

Pusat pertumbuhan wilayah dapat terbentuk secara alami maupun terencana. Untuk merencanakan pembentukan pusat pertumbuhan wilayah perlu mempertimbangkan faktor-faktor pendukungnya.

Berdasarkan penjelasan dalam Modul Geografi XII KD 3.1 dan 4.1 (2020) terbitan Kemdikbud, ada setidaknya lima faktor yang memengaruhi pusat pertumbuhan wilayah. Penjelasan tentang kelima faktor itu serta contohnya ialah sebagai berikut.

a. Faktor fisik

Faktor fisik bisa membawa pengaruh besar terhadap pekembangan pusat pertumbuhan wilayah. Adapun sejumlah aspek yang termasuk faktor fisik adalah topografi, iklim, keadaan tanah, keadaan air, dan sebagainya.

Contoh faktor fisik adalah, topografi datar, ketersediaan air mencukupi, kondisi tanah stabil, terhindar dari banjir, minim risiko tanah longsor dan gempa. Keberadaan faktor-faktor fisik itu bisa mempercepat kemunculan sekaligus perkembangan suatu pusat pertumbuhan wilayah.

b. Faktor kebijakan

Meskipun memiliki sejumlah faktor pendukung, tidak semua wilayah bisa otomatis menjadi lokasi munculnya pusat pertumbuhan. Sebab, perencanaan pembangunan suatu wilayah sering kali menjadi faktor penentu utama. Faktor kebijakan ini bisa mendorong percepatan perkembangan pusat pertumbuhan wilayah.

Syaratnya, kebijakan-kebijakan pembangunan harusl mendukung bagi perkembangan wilayah. Contohnya adalah kebijakan penggunaan lahan, rencana tata ruang wilayah, pengendalian pemanfaatan lahan, perizinan usaha, dan lain sebagainya.

c. Faktor potensi ekonomi

Setiap wilayah memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda. Misalnya, suatu wilayah tidak mampu menyediakan kebutuhan seperti bahan pangan, sementara wilayah yang lain memiliki potensi pertanian besar.

Maka, faktor potensi ekonomi yang memicu hubungan timbal-balik saling memengaruhi antar wilayah juga dapat mendukung perkembangan pusat pertumbuhan. Contohnya adalah potensi industri, potensi pertanian, potensi wisata, dan lain sebagainya.

d. Faktor sosial

Suatu kawasan dapat dikatakan sebagai pusat pertumbuhan wilayah apabila kondisi pendidikan, pendapatan, dan kesehatan masyarakatnya lebih terjamin dibandingkan dengan penduduk di daerah lain.

Kondisi pendidikan, pendapatan, dan kesehatan dapat terbentuk secara alami yaitu masyarakat mulai sadar akan kebutuhan tersebut. Kualitas pendidikan, kesejahteraan, dan kesehatan juga bisa ditingkatkan secara terencana, melalui pembangunan berbagai fasilitas dan penciptaan kemudahan akses.

Jadi, faktor sosial punya kaitan dengan kondisi kesejahteraan masyarakat. Di masyarakat yang sejahtera, masalah sosial akan minim dan aktivitas ekonomi lebih berkembang pesat.

Contoh faktor sosial adalah tingginya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, rendahnya kemiskinan, dan lain sebagainya.

e. Faktor sarana pendukung

Ketersediaan sarana pendukung, seperti jaringan komunikasi, moda transportasi, fasilitas ekonomi, pendidikan dan kesehatan berperan dalam pengembangan wilayah. Semakin meningkatnya perkembangan wilayah menuntut adanya peningkatan sarana pendukung. Dengan tersedianya sarana pendukung, perkembangan ekonomi semakin cepat, dan karena itu bisa mendorong terciptanya pusat pertumbuhan wilayah.

Contoh faktor sarana pendukung adalah: fasilitas transportasi yang memudahkan distribusi barang serta mobilitas penduduk; pasar dan pusat perbelanjaan yang memudahkan kegiatan jual beli maupun pemasaran hasil produksi; permukiman dengan kualitas memadai sekaligus terjangkau, dan lain sebagainya.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Addi M Idhom
Penyelia: Iswara N Raditya
DarkLight