Fakta-fakta & Kronologi Kasus Pengirim Satai Ayam Beracun di Bantul

Oleh: Alexander Haryanto - 4 Mei 2021
Dibaca Normal 2 menit
Berikut adalah fakta-fakta dan kronologi kasus pengirim satai ayam beracun di Bantul, DIY.
tirto.id - Kasus pengirim satai ayam beracun yang terjadi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggegerkan publik karena menewaskan seorang anak. Fakta itu terungkap setelah pelaku seorang perempuan berinisial NA (25) ditangkap polisi. Bagaimana kronologinya?


Kronologi Kasus Pengirim Satai Ayam Beracun

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda DIY Kombes Pol Burkan Rudy Satria mengutarakan, pada 25 April 2021 sekitar pukul 15.30 WIB, seorang perempuan mendatangi seorang tukang ojek online bernama Badiman untuk mengirim dua dos makanan, satu berisi satai ayam, satunya lagi berisi snak. Pengiriman itu ditujukan kepada Tomy, yang belakangan diketahui seorang polisi berpangkat Aiptu. Ia adalah anggota Satreskrim Polresta Yogyakarta.

Perempuan itu mengaku tidak memiliki aplikasi online, sehingga dia meminta dikirimkan lewat cara offline ke alamat Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul. Perempuan itu pun mengatakan, makanan itu berasal dari Pak Hamid di Pakualaman.

Tukang ojek itu pun menyanggupi. Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi menyatakan, NA lantas memberikan ongkos sebesar Rp30 ribu. Saat sampai di tempat tujuan, Tomy tidak ada di rumah. Badiman lantas menelepon Tomy, nomor itu berikan oleh NA.

Tomy merasa aneh karena dia merasa tidak memesan makanan, bahkan dia tidak kenal dengan pengirim makanan sehingga enggan menerimanya. Akhirnya, Badiman mencoba memberikan paket makanan itu kepada orang yang ada di rumah Tomy, tapi juga tak mau menerima dan meminta Badiman membawa pulang makanan itu.

Badiman pun pulang. Sesampainya di rumah, Badiman memberikan makanan itu kepada istri dan anaknya yang berusia 8 tahun kemudian memakannya. Ternyata makanan berupa sate ayam itu beracun, anaknya meninggal dan istrinya sempat dirawat dirumah sakit. Belakangan diketahui, satai ayam itu sudah diberi racun sianida.

Berikut adalah fakta-fakta kasus pengirim satai ayam beracun:


Motifnya Sakit Hati Ditinggal Nikah

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi mengatakan pelaku NA ditangkap di rumahnya di Kecamatan Bangutapan Bantul pada Jumat, 30 April 2021 kemarin. NA berasal dari Majalengka, Jawa Barat.

Wachyu mengatakan, motif NA memberikan racun sianida di satai ayam tersebut dan hendak mengirimkan kepada Tomy karena karena ditinggal nikah, tapi salah sasaran kepada keluarga ojek.


Pesan Sianida via Online


Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Burkan Rudy Satria mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, satai ayam tersebut dicampur oleh pelaku dengan kalium sianida, yang rumusnya KCN. Menurut Rudy, sianida itu dibeli oleh NA lewat aplikasi jual beli online beberapa bulan sebelum kejadian.

"Sianida ditaburkan di dalam bumbu satai itu, sehingga dari peristiwa ini dapat kita simpulkan bahwa ini sudah dirancang, tidak pada saat itu, tapi dirancang beberapa hari atau minggu sebelumnya, karena pesanan KCN kira-kira tiga bulan sebelum peristiwa," ungkapnya.


Apa Itu Racun Sianida?

Kasus racun siandia juga pernah viral dalam pemberitaan Indonesia tatkala terjadi dalam tragedi pembunuhan Wayan Mirna Salihin dan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. Bedanya, pembunuhan Munir dilakukan dengan racun arsenik, yang sama ganasnya dengan racun sianida. Sementara pembunuhan Mirna dilakukan dengan racun sianida.

Sebagaimana dilansir laman NCBI, sianida adalah zat beracun yang bekerja dengan sangat cepat. Sianida bisa ditemukan di industri manufaktur dan industri lainnya seperti insektisida, larutan fotografi, pembuatan plastik, pembersih perhiasan, pembuatan karet dan plastik dan pestisida.

Awalnya, sianida pertama kali diekstraksi dari almond sekitar tahun 1800. Sianida dapat berbentuk gas, hidrogen sianida, garam, kalium sianida. Zat alami yang terdapat di beberapa makanan seperti kacang almond dapat melepaskan sianida. Siandia juga digunakan sebagai racun dalam pembunuhan massal.

Selama Perang Dunia II, Nazi menggunakan sianida sebagai alat untuk genosida di kamar gas. Keracunan sianida juga dapat terjadi apabila kebakaran, paparan industri, paparan medis seperti natrium nitroprusida dan makanan tertentu.

Berdasarkan Sistem Pengawasan Paparan Beracun, ada sekitar 3.165 orang yang terpapar sianida dari tahun 1993 sampai 2002. Dari jumlah itu, ada 2,5 persen yang berakibat fatal.

Bagi negara Industri seperti Amerika Serikat, api adalah sumber paparan sianida yang paling umum terjadi. Sekitar 35 persen dari semua korban kebakaran akan memiliki tingkat racun sianida daam darah mereka saat menjalani perawatan medis.

Baca juga artikel terkait SATE BERACUN atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight