Djarot Bangun Jak Grosir, Stabilkan Harga Jelang Ramadan

Djarot Bangun Jak Grosir, Stabilkan Harga Jelang Ramadan
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kedua kiri) berdialog dengan warga saat blusukan kawasan Jatinegara Barat, Jakarta, Rabu (29/3). Djarot meminta Rukun Warga (RW) setempat mendata rumah yang tidak layak huni untuk selanjutnya diperbaiki. ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah.
Reporter: Hendra Friana
04 Mei, 2017 dibaca normal 1:30 menit
Jak Grosir akan dibangun oleh PD. Pasar jaya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Nantinya, penjual toko kelontong dapat membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah di tempat tersebut.
tirto.id - Wakil Gubernur Jakarta Djarot Saiful Hidayat, mengatakan Pemprov DKI akan membuat sistem perkulakan terpusat bernama Jak Grosir untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok jelang Ramadan. Perkulakan itu akan dibangun oleh PD. Pasar jaya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Nantinya, penjual toko kelontong dapat membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah di tempat tersebut.

"Kita bikin model ya. Sistem untuk menjaga stabilisasi harga sekaligus memberdayakan ekonomi kerakyatan. Kita bikin namanya Jak Grosir. Itu kita bikin di Pasar Induk Kramat Jati," kata Djarot di Balai Kota, Kamis (4/5/2017).

Ia menjelaskan, pedagang yang ingin membeli dari Jak Grosir harus terdaftar sebagai anggota. Sistem keangotaan itu dilakukan untuk menyeleksi pedagang kelontong yang akan menggambil barang dari Jak Grosir. Dengan begitu, kata Djarot, dapat dipastikan kebutuhan pokok terjual dengan harga yang sesuai.

"Keanggotaan dari para pedagang yang kami verifikasi menimbulkan distributor bukan pengepul," terangnya.

Selain itu, kata Djarot, pembelian juga dilakukan secara non-tunai menggunakan kartu Jakmart. Hal itu dimaksudkan untuk mempermudah pengecekan arus pendapatan dan pengeluaran anggota.

"Jadi dengan kartu ini kita bisa lihat. Termasuk juga kita bisa lihat akunnya. Arus keluar masuknya uang di perbankan. Makannya kita akan dorong pelayanan DKI zaman kita menggunakan sistem cashless," papar Djarot.

Sistem kartu tersebut dimaksudkan pula agar pedagang terbiasa menggunakan sistem pembayaran non-tunai. "Pertama memang agak sulit, tapi kalau kebiasan udah biasa. Kita ajari masyarakat kita. Supaya kebocoran-kebocoran itu bisa kita minimalkan betul," kata Djarot menjelaskan.

Djarot optimistis Jak Grosir dapat menstabilkan harga kebutuhan pokok jelang Ramadan. Sebab, ia menjelaskan, PD. Pasar Jaya sudah menstok beberapa kebutuhan pokok yang pada tahun-tahun sebelumnya memicu kenaikan harga seperti gula, telur, terigu, minyak, beras, cabai, bawang merah, dan bawang putih.

Ketidakstabilan harga akan merugikan konsumen dan produsen. Karena itu, ketika harga naik, fungsi pemerintah harus menstabilkan ke harga normal. Sementara itu, ketika harga turun, pemerintah juga harus intervensi supaya petani hidup.

"Contoh nih harga bawang merah jatuh, harga brambang kering Rp19 ribu. Berarti kita bisa pastikan basahnya cuma sepuluh ribu sampai dua belas ribu. Di petani berapa? Bisa sampai Rp4 ribu. Ya merugi dong."

Namun, kata Djarot, untuk cabai, bawang merah, dan bawang putih, Pemprov DKI Jakarta mengambilnya dari Provinsi Jawa Tengah dan disimpan dalam gudang menyimpan yang suhunya dapat diatur sehingga dapat bertahan hingga lima bulan.

"Makanya kita bikin semacam gudang penyimpanan yang tahan lima bulan supaya petani enggak rugi. Supaya kalau nanti ada kenaikan harga enggak dinikmati sama spekulan. Tapi rakyat yang menikmati," tegas Djarot.

Hal ini sekaligus untuk memberikan peringatan kepada para tengkulak, seperti mafia gula, terigu, dan beras. Kita udah siap termasuk kerja sama dengan kepolisian untuk mengawasi barang-barang ini," ungkap Djarot.

Baca juga artikel terkait BULAN RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - hen/rat)

Keyword