Diet Pesketarian, Diet ala Ed Sheeran

Oleh: Widia Primastika - 5 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Diet pesketarian adalah solusi bagi yang ingin kurangi risiko penyakit jantung dan diabetes, tapi ingin kebutuhan pangan hewani terpenuhi.
tirto.id - Seperti banyak pesohor, Ed Sheeran memiliki beberapa permintaan khusus saat manggung di Jakarta, 3 Mei lalu. Seperti diberitakan Tempo, penyanyi berusia 28 tahun itu membawa koki pribadi yang menyediakan makanan khusus untuk dia yang sedang menjalani diet pesketarian.

Apa itu diet pesketarian?

Diet pesketarian, atau dalam khazanah bahasa Inggris "pescetarian" atau "pescatarian", adalah diet non-daging, tetapi masih memakan ikan. Dalam artikel berjudul “What is Pescatarian and What Do They Eat?” yang dipublikasikan oleh Healthline, pesketarian merupakan gabungan dari dua kata berbahasa Italia, yakni “pesce” yang berarti ikan dan “vegetarian”.

Dalam berbagai literatur ilmiah, pesketarian disebut sebagai salah satu jenis diet vegetarian dengan nama pesco-vegetarian. Menurut kamus Merriam-Webster, gaya hidup ini mulai populer sejak 1993.

Penyebutan ini kemudian digunakan untuk orang yang memilih untuk hidup sebagai vegetarian, tapi masih mengonsumsi makanan laut. Tak jarang, seorang pesketarian juga menoleransi keberadaan susu dan telur di menu makannya. Artinya, makanan yang tidak mereka konsumsi hanya olahan daging merah dan ayam.

Selain menyantap hewan-hewan laut, pengikut pesketarian akan memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan sajian biji-bijian, kacang-kacangan, dan polong-polongan.

Alasan Menjadi Pesketarian

Sama seperti penganut vegetarian, seorang pesketarian memiliki alasan mengapa ia memilih pola konsumsi itu selain alasan politis terkait lingkungan hidup. Biasanya, seseorang memutuskan untuk menjadi vegetarian karena menemukan manfaat kesehatan dari sumber pangan nabati, di antaranya untuk mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis seperti jantung dan diabetes.


Dalam artikel “Are There Any Health Implications for Raising Your Child as a Vegetarian, Vegan or Pescatarian?” yang dimuat The Conversation, Louisa Matwiejcyk, seorang akademisi dan praktisi diet dari Flinder University, menulis veganisme punya tantangan dalam pemenuhan vitamin B12, yodium, kalsium, dan vitamin D.

Maka dari itu, untuk menjadi pengikut vegetarian, Anda perlu melakukan perencanaan terhadap lauk-pauk yang tersaji di meja makan, termauk variasi diet dengan alternatif menjadi pesketarian.

Pernyataan Matwiejcyk itu senada dengan artikel yang dimuat pada SBS bahwa banyak orang menjadikan pesketarian sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi daging, tetapi tak yakin dengan diet vegetarian terkait dengan kebutuhan protein hewani.

Aloysa Hourigan, seorang praktisi diet dan ahli gizi senior untuk Nutrition Australia, memaparkan makanan laut umumnya memiliki lemak jenuh yang rendah, tinggi protein, serta sumber yodium dan seng yang baik.

“Dibandingkan dengan menjadi vegetarian, pola makan pesketarian memiliki risiko kekurangan gizi lebih kecil dan lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12, zat besi, dan seng. Makanan laut mengandung Omega-3 dan asam lemak lainnya yang dapat melindungi kesehatan jantung Anda. Itu juga sebagai anti-inflamasi,” tutur Hourigan kepada SBS.

Kelebihan Pesketarian

Duo Li pernah mengulas tentang pengaruh diet vegetarian bagi penyakit tak menular (PDF) (2013). Ia mencatat pengaruh diet vegetarian terhadap penyakit kanker yang disimpulkan dalam penelitian T.J. Key dan enam orang koleganya berjudul “Cancer Incidence in British Vegetarians” (PDF) (2009).

Dalam penelitian itu, Key, dkk. melakukan riset terhadap 61.556 laki-laki dan perempuan di Inggris. Seluruh responden tersebut dimasukkan ke dalam tiga kelompok, yakni pemakan daging (32.403 responden), pesketarian (8.562 responden), dan vegetarian (20.601 responden).


Setelah 12,2 tahun, para peneliti memperoleh 3.350 laporan kasus kanker yang terdiri dari 2.204 kasus pada pemakan daging, 317 kasus pada pesketarian, dan 829 kasus pada vegetarian.

Hasil studi yang dilakukan oleh Key, dkk membuktikan bahwa pemakan daging memiliki peluang lebih besar untuk terkena kanker, diikuti oleh vegetarian, dan risiko paling kecil ada di pengikut pesketarian.

Meski kejadian kanker pada pesketarian lebih sedikit dibandingkan diet jenis lain, diet jenis ini memiliki risiko lebih tinggi terserang diabetes tipe-2 daripada pelaku diet vegetarian penuh. Namun, risiko mereka lebih rendah dibanding mereka yang mengonsumsi daging.

Seren Tonstad dan tiga orang rekannya pernah mengobservasi masalah tersebut melalui studi berjudul “Type of Vegetarian Diet, Body Weight, and Prevalence of Type 2 Diabetes” (PDF) (2009). Mereka melakukan penelitian terhadap 22.434 pria dan 38.469 perempuan yang berpartisipasi dalam Adventist Health Study-2 yang dilakukan pada 2002 hingga 2006.

Dalam kajian itu, Tonstad, dkk. mengumpulkan data demografi, riwayat medis, dan gaya hidup dari responden. Jenis diet vegetarian dibagi menjadi vegetarian penuh, vegetarian lactoovo, pasco-vegetarian (pesketarian), semi-vegetarian, dan non-vegetarian.

Di antara lima jenis pola makan tersebut, orang yang menganut diet vegetarian penuh memiliki BMI terendah (23,6 kg/m2), diikuti dengan vegetarian lactoovo (25,7 kg/m2), pasco-vegetarian (26,3 kg/m2), semi-vegetarian (27,3 kg/m2), dan nonvegetarian (28,8 kg/m2).

Sementara itu, menurut hasil pemantauan terhadap kasus diabetes tipe-2, diet vegetarian memiliki kasus terendah (2,9 persen), vegetarian lacto-ovo (3,2 persen), pesco-vegetarian (4,8 persen), semi-vegetarian (6,1 persen), dan nonvegetarian (7,6 persen).

Infografik Diet Pesketarian
undefined


Artinya, orang yang menjalani gaya hidup vegetarian penuh lebih terhindar dari risiko diabetes tipe-2 dan memiliki indeks massa tubuh yang lebih ideal ketimbang mereka yang menjalani pescatarian.


Menurut Tonstad, dkk. kasus itu menunjukkan bahwa protein hewani dapat merangsang sekresi insulin dan kemungkinan resistensi insulin. Penyebabnya adalah kandungan lemak jenuh yang terkandung dalam pangan hewani yang dianggap bisa mengurangi sensitivitas insulin. Selain itu, indeks BMI yang lebih rendah pada kelompok vegetarian dianggap mampu melindungi mereka dari diebetes tipe-2.

Lalu apa kelebihannya dibanding vegetarianisme? Situs Healthline membeberkan bahwa diet pesketarian bisa dijalankan untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12, seng, kalsium, dan protein yang sulit didapatkan dari pola makan vegetarian penuh.

Selain itu, kandungan asam lemak Omega-3 pada ikan berbeda dari kadungan asam alfalinolenat (ALA) yang terkandung pada bahan pangan nabati, sebab ALA tidak mudah dikonversi menjadi asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam ssam dokosaheksaenoat (DHA).

Kedua jenis asam tersebut bermanfaat bagi kesehatan jantung, fungsi otak, dan meningkatkan suasana hati. Dan EPA dan DHA tersebut bisa kita jumpai pada ikan salmon dan sarden. Meski begitu, kita tak boleh menyantap ikan secara berlebihan. Tetap imbangi dengan sayuran dan buah-buahan.

Baca juga artikel terkait PESCATARIAN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani