Menuju konten utama
Hasil Derby Della Capitale

Di Serie A, Inzaghi Bukan Hanya Milik Filippo

Kemenangan 3-1 Lazio pada Derbi Ibukota melawan AS Roma semakin menegaskan bahwa karier Simone Inzaghi sebagai pelatih, sedikit lebih baik dari sang kakak, Filippo Inzaghi yang menangani Venezia di liga kasta ketiga Italia.

Di Serie A, Inzaghi Bukan Hanya Milik Filippo
Filippo Inzaghi dari AC Milan setelah mencetak gol penyeimbang pada pertandingan Serie A antara AC Milan dan SSC Napoli di Stadion Giuseppe Meazza pada 21 Maret 2010 di Milan, Italia. FOTO/Claudio Villa/Getty Images

tirto.id - Adalah hal lumrah ketika saya bermain sepakbola di masa kanak, lalu kebetulan berada satu tim dengan seorang anak yang tidak begitu jago bermain bola, maka posisi si anak ini akan jelas, ia akan jadi penjaga gawang. Posisi yang—dalam perspektif anak-anak saat itu—tidak begitu punya pengaruh terhadap permainan di dalam lapangan. Paling tidak, keterbatasan kemampuan si anak tidak akan terlalu banyak merugikan tim.

Di sisi lain, ketika ada seorang anak yang tidak begitu jago bermain bola, tapi selalu antusias berada di garis depan sebagai penyerang, namun—ini anehnya—bisa mencetak banyak gol dengan hal-hal yang saya dan seluruh rekan tim yakin hanya sebagai keberuntungan saja, maka julukan yang selalu muncul untuk si anak adalah dia seperti “Filippo Inzaghi”. Penyerang legendaris Juventus dan AC Milan yang dikenal karena rentetan gol-gol yang serba aneh bin ajaib.

Personifikasi Filippo Inzaghi memang begitu kental saat saya bermain sepak bola. Tidak hanya di tim sepak bola masa kecil saya, namun juga merasuk ke benak anak-anak saat bermain sepakbola di periode 2000-an. Sebutan ini menjadi pembanding, jika ada anak yang begitu jago menggiring bola ia akan mendapat personifikasi sebagai seorang Ronaldo Nazario Luiz Da Lima, maka untuk pemain yang cuma modal semangat tapi selalu mencetak gol akan mendapat julukan “Inzaghi”.

Saking lekatnya citra tersebut, sang adik, Simone Inzaghi, penyerang yang dikenal saat menjadi penyerang SS Lazio di periode 1999-2010 dianggap punya gaya main yang senada. Sepanjang kariernya sebagai pemain, gaya bermain Simone seperti duplikasi dari gaya sang kakak. Tidak cakap dalam menggiring bola, badan tinggi tapi kurus kerempeng, air muka yang selalu terlihat letih, akan tetapi di sisi lain punya kecerdasan lolos dari posisi offside, penyelesaian peluang yang tajam di kotak penalti, dan tak kenal lelah mencari posisi terbaik untuk menerima umpan kunci.

Citra inilah yang kembali muncul saat Claudio Lotito, Presiden Lazio menunjuk Simone memimpin Lazio di Serie A Italia dengan durasi kontrak hanya satu musim 2016/2017. Pada musim panas 2016 lalu, manajemen Lazio mengumumkan nama Simone setelah pelatih yang ditunjuk sebelumnya, Marcelo Bielsa, hanya bertahan selama dua hari di klub rival AS Roma tersebut karena tidak mencapai kesepakatan soal transfer pemain.

infografik inzaghi

Nama Simone sendiri bukan nama asing sebenarnya untuk manajemen Lazio. Selain sebagai mantan penyerang, Simone juga menjadi caretaker (asisten pelatih) bagi Stefano Poli, pelatih Lazio yang dipecat sebelumnya.

“Simone bukan pilihan kedua, hal ini merupakan keputusan tepat saat Bielsa membatalkan kontrak. Simone adalah pelatih yang ideal untuk melanjutkan proyek kami,” ujar Presiden Lazio saat itu.

Ditunjuknya Simone sebagai pelatih tentu saja mengejutkan banyak pihak. Keterkejutan yang lebih mengarah kepada keraguan karena sang kakak, Filippo, dua musim sebelumnya baru saja mengalami musim yang buruk bersama tim asuhannya, AC Milan. Sekalipun Simone punya rentetan karier yang tidak buruk-buruk amat dibandingkan sang kakak, namun nama besar Filippo seringkali jadi bayangan yang menaungi karier Simone—baik sebagai pemain maupun saat menjadi pelatih.

Hal ini masih belum hilang juga waktu Simone memenangi debutnya sebagai pelatih kepala melawan Palermo (10/4/2016) 3-0, performa ini masih diragukan banyak pihak. Mengingat secara sekilas formasi dasar awal-awal di Lazio yang digunakan hampir sama dengan yang digunakan sang kakak di AC Milan, 4-4-3. Apalagi, perjalanan ini hampir sama dengan Filippo yang memulai debutnya sebagai pelatih kepala AC Milan pada awal musim 2014/2015 dengan kemenangan 3-1 melawan Lazio di San Siro.

Di beberapa pertandingan kemudian, Simone sudah mulai membiasakan penggunaan tiga bek dalam format 3-4-2-1 untuk memaksimalkan Balde Keita sebagai penyerang sayap kiri dan keunggulan Ciro Imobile sebagai penyerang tunggal. Hal yang terlihat dari kemenangan Simone atas Luciano Spaletti di Derby Della Capitale di Stadion Olimpico Roma, Minggu (30/4) lalu.

Dengan permainan yang begitu dalam dan penguasaan bola yang minim (hanya 34%), Lazio justru mengejutkan Daniele De Rossi dkk, saat efisiensi fast break Keita dan visi bermain Senad Lulic memporak-porandakan penguasaan bola AS Roma. Walaupun pangeran Roma, Fransesco Totti masuk menggantikan Daniele De Rossi pada menit ke-73, keadaan tidak begitu berubah—bahkan Roma kembali kebobolan di menit-menit akhir babak kedua atas serangan balik cepat. Kedudukan 3-1 di akhir laga menegaskan bagaimana Simone memang bukan pelatih kacangan.

Performa stabil dengan skuad yang—bisa dibilang—seadanya dibandingkan milik Roma tentu saja mengejutkan. Paling tidak Alesandro Nesta, mengakui bahwa capaian Simone sepanjang musim ini benar-benar menunjukkan bahwa bakat Simone lebih baik dari kakaknya untuk urusan melatih. Paling tidak untuk sementara Lazio berada di posisi keempat, zona tertinggi yang masuk Liga Europa.

“Ini mengejutkan karena saya pernah bermain bersama Simone dan saya tidak pernah memperkirakan hal ini bisa terjadi,” ujar Nesta.

Konsistensi ini patut diapresiasi lebih karena Simone berada di liga yang sangat kejam bagi pelatih. Paling tidak sang kakak pernah mengalaminya saat dipaksa untuk mengundurkan diri dari Milan oleh Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani karena tidak mencapai target sekalipun hanya dibekali skuad compang-camping.

Setelah 12 bulan menganggur usai melatih Milan, Filippo mengomando Venezia di Lega Pro Girone B dan sukses mengantarkannya ke kompetisi Serie B musim depan. Jalan Filippo memang masih panjang untuk kembali ke Serie A. Masih ada kompetisi Serie B yang harus dijuarai untuk membawa Filippo punya kesempatan berduel dengan sang adik.

“Saya pernah menghadapi Pippo waktu kami sama-sama melatih klub di level primavera [junior]. Sekarang saya berharap bisa bertemu dengannya di Serie A,” kata Simone.

Jika hal itu terjadi dua musim depan, bisa jadi reputasi Simone sebagai pelatih sudah jauh melampaui sang kakak. Dan semakin menegaskan bahwa Inzaghi di masa depan bukan lagi hanya milik Filippo.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan lainnya dari Ahmad Khadafi

tirto.id - Olahraga
Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti