Dampak Sanksi Ekonomi Huawei Terhadap Perusahaan AS

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 17 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Huawei menyebut langkah Amerika tersebut tidak akan berpihak pada siapapun, dengan kata lain semua pihak akan rugi.
tirto.id - Trump memutuskan untuk menandatangai perintah pelarangan perangkat Huawei karena perusahaan tersebut diduga membantu operasi spionase intelijen Cina. Keputusan ini tidak hanya akan membahayakan posisi perang dagang Cina-AS, namun juga memutus rantai pasokan perusahaan AS ke Huawei dan sebaliknya.

Associated Press menyebut bahwa pemutusan hubungan kerja sama perusahaan AS dengan Huawei justru dapat mendorong Huawei menjadi perusahaan yang lebih digdaya lagi, karena tidak memakai pasokan material dari perusahaan asing, terutama AS.

Perintah pelarangan tersebut disahkan pada Rabu (15/5/2019) yang mengatur larangan perangkat Huawei ke jaringan telekomunikasi dan insfrastruktur komunikasi AS. Cina membalas keputusan ini dengan memberlakukan peraturan ketat terhadap barang ekspor AS dengan cara memperlambat pengurusan bea cukai dan perizinan bagi perusahaan AS di Cina.

Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross mengatakan pada Kamis (16/5/2019) bahwa blacklist terhadap perusahaan telekomunikasi raksasa tersebut akan berlaku mulai Jumat (17/5/2019).

“Perintah atas Huawei tersebut akan berlaku mulai besok,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Bloomberg TV, dikutip oleh Reuters.

Perintah tersebut juga mengharuskan Huawei dan 68 bisnis lainnya yang berafiliasi dengan perusahaan tersebut untuk mendapatkan izin dari pemerintah AS jika ingin menggunakan perangkat dan teknologi dari perusahaan AS.


Kembali melansir AP, pemerintah Amerika Serikat bersikeras bahwa Huawei membantu intelijen Cina melakukan aksi mata-mata dan spionase namun tidak memiliki bukti apapun terkait hal tersebut.

Sepertiga supplier Huawei adalah perusahaan Amerika termasuk pembuat chip Broadcom, Qualcomm, dan Intel. Ironisnya, banyak chip komputer, memori, dan komponen lainnya yang didapat Huawei dari perusahaan AS tersebut diproduksi di Cina, kata Roger Entner, penemu firma Recon Analytics.

Sebagai contoh, produk flagship Huawei, sebuah gawai cerdas Mate 20 Pro memakai chip yang dibuat oleh Skyworks Solutions Inc. dan penerima sinyal nirkabel dari Integrated Device Technologies, yang keduanya perusahaan AS.

Perusahaan-perusahaan afiliasi Huawei tersebut belum memberikan komentar apapun terkait peritnah eksekutif ini. Kevin Wolf, staf kementerian perdagangan pada masa pemerintahan Presiden Obama menyebut dampak dari pelarangan ini sangatlah besar.

Ia menyebut ini akan memiliki efek riak air, yang akam menyebar ke seluruh perusahaan telekomunikasi global. Jika Huawei tidak bisa mendapatkan bagian atau suku cadang untuk perangkat telekomunikasinya, maka sistemnya akan berhenti berfungsi.

Huawei menyebut langkah Amerika tersebut tidak akan berpihak pada siapapun, dengan kata lain semua pihak akan rugi.

“[Tindakan tersebut] akan berimbas pada perekonomian perusahaan AS yang bekerja sama dengan Huawei, memengaruhi puluhan ribu pekerja AS dan mengganggu kolaborasi dan kepercayaan yang sudah ada di jaringan suplai global,” sebut pihak Huawei, seperti dikutip South China Morning Post.

“Huawei akan mencari jalan keluar dan segera menemukan resolusi untuk perkara ini. Kami juga akan berupaya secara proaktif untuk mengurangi dampak dari insiden ini,” lanjutnya.

“Huawei jelas tidak senang dan akan melakukan perlawanan untuk membalas, tapi mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan melalui jalur hukum legal. Dasar dari tindakan ini adalah untuk keamanan nasional dan tidak ada jalan legal bagi Huawei untuk membalas,” kata Paul Triolo, kepala kebijakan teknologi global di Eurasia Group, Washington D.C.

Analis dari Haitong and canalys menyebut bahwa perusahaan ini telah menyetok sangat banyak semikonduktor dan berbagai macam komponen penting bagi perangkatnya dari perusahaan AS, untuk mempersiapkan diri atas langkah semacam ini.

“Akan lebih sulit bagi mereka (Huawei) membuat perangkat 5G dan lebih mahal, namun bergantung dari seberapa kejam pelaksanaannya. Saya pikir hal ini tidak serta merta membuat Huawei kolabs,” kata Jim Lewis, direktur Program Kebijakan Teknologi di Pusat Strategi dan Studi Internasional di Washington.


Seberapa penting Huawei bagi Perkembangan 5G?

5G, atau fifth generation, adalah generasi kelima dari teknologi jaringan nirkabel. Teknologi ini didapuk lebih canggih, cepat, dan minim gangguan daripada generasi yang ada sekarang 4G.

The Guardian menyebut bahwa setiap orang sangat antusias menyambut teknologi 5G. Jika jaringan 4G menawarkan kecepatan 20 Mbps (micro bytes per second) untuk mengunduh film HD (kualitas tinggi) dalam waktu kurang lebih 30 menit, maka 5G diharapkan akan dapat mengunduh film dengan kualitas serupa dalam waktu 25 detik, atau asumsi kecepatan 1.500 Mbps.

Dunia memang tidak begitu butuh mengunduh film cepat, tapi dalam praktiknya, semua yang menggunakan jaringan 5G akan sangat cepat, instans dan minim dari gangguan yang saat ini mungkin masih dimiliki 4G. 5G akan lebih baik dari 4G dari segi kapasitas, jangkauan, dan latensi.

Huawei merupakan perusahaan pengembang jaringan 5G utama di dunia, dan hampir seluruh negara bergantung pada teknologi Huawei. Selain itu, dibandingkan negara pengembang jaringan 5G dari Eropa, Nokia dan Ericcson serta pengembang dari AS, Vodafone, Huawei memiliki harga jauh lebih murah sehingga lebih disukai di kawasan Asia Pasifik.

Amerika Serikat dan Australia sepakat melarang penggunaan perangkat Huawei untuk pengembangan jaringan 5G, sedangkan Inggris masih mengizinkan penggunaan perangkat Huawei untuk insfrastruktur non-inti jaringan 5G.


Baca juga artikel terkait HUAWEI atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Ibnu Azis